Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

LPDP Beri Pendanaan 14 Hasil Riset UGM

Kamis 09 Jan 2020 14:00 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

UGM menerima Rp 13,3 miliar untuk penelitian dari LPDP. Penelitian (ilustrasi)

UGM menerima Rp 13,3 miliar untuk penelitian dari LPDP. Penelitian (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Moch Asim
Total pendanaan yang diterima UGM dari LPDP sebesar Rp 13,3 miliar.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sebanyak 14 riset Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih pendanaan Riset Inovatif Produktif LPDP Kementerian Keuangan. Jumlah itu jadi yang terbanyak dari kampus yang sama meraih dana riset skema invitasi dan kompetitif batch II 2019.

Untuk skema kompetitif, sebanyak 11 tim peneliti dari UGM mendapatkan pendanaan riset. Sedangkan, tiga tim mendapatkan dana skema invitasi tema riset bidang farmasi dan alat kesehatan.

Total pendanaan yang diterima dari 14 tim itu sebesar Rp 13,3 miliar. Kepala Subdirektorat Program Penelitian, Direktorat Penelitian UGM, Ririn Tri Nurhayati, mengapresiasi lolosnya 14 ti tim peneliti UGM.

Ia menilai, pendanaan riset itu akan mendukung kelancaran proses penelitian. Sehingga, dapat menghasilkan prosuk riset yang lebih bermanfaat untuk industri dan masyarakat.

"Kami sangat mengapresiasi atas pencapaian itu," kata Ririn, Selasa (7/1).

Ririn menyebutkan, ada kenaikan jumlah pendanaan yang didapat dari riset LPDP untuk kompetisi riset batch II tahun ini. Sebab, pada kompetisi batch I 2019 lalu hanya dua tim yang mendapat pendanaan.

"Dari sisi kuantitas, pada batch II ini jumlahnya cukup banyak, termasuk paling banyak meloloskan tim dibanding kampus lain," ujar Ririn.

Dari dana riset inovatif inovatif produktif Kementerian Keungan ini, ada tiga tim yang mendapat dana cukup besar. Sebab, rata-rata meraih Rp 2 miliar untuk skema invitasi bidang farmasi dan alat kesehatan.

Padahal, untuk mendapatkan pendanaan tersebut tidak mudah. Menurut Ririn, riset harus sudah memiliki mitra industri, sudah menggunakan teknologi yang lebih maju dan siap hilirisasi.

"Intinya sudah siap dihilirisasi," kata Ririn.

Ririn menyebutkan, beberapa penelitian yang mendapat dana riset untuk skema invitasi yakni riset pengembangan kapsul fraksi aktif daun awar-awar sebagai produk anti kanker payudara.

Ada pula pengembangan perangkat deteksi cepat retinopati diabetika dan kebutaan lewat teleoftalmologi. Kemudian, riset soal deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak lewat metode elektrokardiografi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA