Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Ribuan Orang Melbourne Diperkirakan Turun ke Jalan Menentang PM Australia

Kamis 09 Jan 2020 08:54 WIB

Rep: Yara Murray-Atfield/ Red:

.

.

Diperkiran pusat kota Melbourne akan ramai dan sesak setelah jam 6 sore.

Protes menentang kepemimpinan PM Australia Scott Morrison yang akan dilangsungkan hari Jumat sore di Melbourne akan tetap dilangsungkan, meski ada himbauan dari polisi untuk membatalkannya.

Baca Juga

  • Polsi meminta 'Uni Students for Climate Justice' menunda unjuk rasa
  • Kepolisian mengatakan demo akan mengalihkan upaya membantu penanganan kebakaran
  • Penyelenggara mengatakan unjuk rasa akan terus dilakukan selama musim panas

 

Menurut Kepolisian Victoria, sejumlah anggotanya akan dibutuhkan di tempat lain di hari Jumat, karena Victoria kembali mengalami suhu udara panas. Aksi demo yang digelar oleh 'Uni Students for Climate Justice', adalah salah satu aksi dari rangkaian unjuk rasa soal perubahan iklim.

Diperkiran pusat kota Melbourne akan ramai dan sesak setelah jam 6 sore. Pejabat Kepala Polisi Victoria, Tim Hansen mendesak 'warga Victoria yang memiliki pikiran jernih" untuk pertimbangkan kembali jika ingin berdemo.

Di halaman Facebook-nya sudah ada 12 ribu orang yang mengatakan akan datang.

Tim mengatakan polisi secara aktif membantu kegiatan petugas layanan darurat di kawasan kebakaran hutan, bekerja dengan masyarakat yang terdampak, dan membantu usaha evakuasi, selain juga tugas sehari-hari lainnya.

"Kami akan memenuhi tugas kami, tapi ini jadi gangguan bagi kami," kata Hansen.

"Petugas polisi sudah kembali dari lokasi kebakaran, mereka pulang karena lelah, perlu istirahat, dan sekarang ada yang memerlukan sumber daya," katanya.

Salah satu desakan dalam unjuk rasa besok adalah agar petugas pemadam kebakaran mendapat bayaran, memeprcepat bantuan bagi warga yang terdamapk, tak lagi menggunakan bahan bakar fosil, serta pemecatan terhadap PM Scott Morrison.

Saat PM Morisson berkunjung ke salah satu lokasi yang terkena dampak kebakaran hutan di New South Wales, warga menunjukkan kemarahannya.

Beberapa bahkan menolak bersalaman, sambil memaki dengan kata-kata yang kasar, seperti "bodoh".

Suhu udara hari Jumat, negara bagian Victoria akan berkisar antara 30 sampai 40 derajat Celcius dan dikhawatirkan akan memicu kebakaran hutan.

Tim mengatakan polisi secara resmi telah meminta pihak penyelenggara untuk menunda aksi mereka, namun jawaban yang diterima tidak memuaskan.

Dia mengatakan beberapa kelompok pegiat lain telah bekerja sama dengan polisi untuk memindahkan aksi mereka yang semula akan dilakukan di bulan Januari.

Namun 'Uni Students for Climate Justice', menurut polisi, "menolak memindahkan protes atau mengubah bentuk protes mereka".

Salah seorang penyelenggara, Anneke Demanuele, mengatakan unjuk rasa akan aman dan damai terlepas polisi akan hadir atau tidak.

 

"Saya kira penting sekali kami mengadakan unjuk rasa ini. Karena kita hidup dalam situasi krisis cuaca. Musim kebakaran semak terjadi lebih awal, lebih besar, dan akan terus berlangsung."

"Jadi kita memerlukan gerakan politik mendesak pendanaan yang memadai bagi pemadam kebakaran, mendesak agar kita pindah segera dari BBM fosil," tambah Anneke.

"Jadi aksi unjuk rasa nasional ini diperlukan sehingga kita bisa berbicara mengenai aksi nyata mengenai masalah krisis perubahan iklim".

Ribuan orang sudah mengatakan mereka akan melakukan aksi serupa di berbagai tempat di Australia.

Di Sydney, sekitar 9.500 orang mengatakan akan hadir aksi di hari dan jam yang sama.

Anneke mengatakan 'Uni Students for Climate Justice' merencanakan "demonstrasi berkelanjutan" di seluruh Australia, "sampai pemerintah akhirnya mendengar desakan dan betul-betul melakukan sesuatu berkenaan dengan krisis cuaca."

"Jadi akan ada aksi dimana warga melakukan unjuk rasa di berbagai kota selama musim panas ini," kata Anneke.

Lihat berita selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA