Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Menristek Ingin Bahan Alam Lokal Gantikan Impor Obat

Rabu 08 Jan 2020 23:50 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Menristek ingin industri farmasi meneliti potensi alam Indonesia untuk dijadikan obat Foto: Meteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro.

Menristek ingin industri farmasi meneliti potensi alam Indonesia untuk dijadikan obat Foto: Meteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro.

Foto: Republika/Prayogi
Menristek ingin industri farmasi meneliti potensi alam Indonesia untuk dijadikan obat

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional menginginkan agar industri farmasi meneliti dan mengembangkan bahan baku obat dari alam Indonesia. Bahan baku obat dari alam diharapkan bisa mensubtitusi bahan baku berbasis kimia dan bahan baku impor.

"Yang kita ingin dorong adalah substitusi bahan baku yang tadinya dari luar negeri atau berbasis kimia menjadi bahan baku obat yang berbasis kepada tanaman ataupun flora dan fauna Indonesia yang sangat kaya," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Baca Juga

Menristek ingin kekayaan biodiversitasIndonesia sebagai sumber kekuatan ekonomi bangsa. Salah satunya dikembangkan sebagai bahan obat-obatan.

"Kekayaan hayati harus bermanfaat untuk sesuatu salah satunya itu adalah untuk bahan obat atau untuk mendukung upaya program kesehatan di Indonesia," katanya.

Menristek Bambang menginginkan obat dengan khasiat yang sama tetapi dengan bahan yang asli dari biodiversitas Indonesia. Menristek mengungkap, saat ini 95 persen bahan baku obat dalam negeri berasal dari impor. Padahal Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tergolong dua terbesar dunia yang memiliki potensi bahan baku obat alami yang melimpah.

Bambang menuturkan bisnis farmasi atau bisnis obat memang tidak mudah karena saat ini dalam negeri masih sangat didominasi dengan produk impor. Selain itu, regulasinya sangat ketat karena menyangkut nyawa manusia sehingga harus melalui proses yang panjang sebelum mendapatkan izin untuk peredaran obat.

Di sini, pemerintah Indonesia mendukung pengembangan industri farmasi melalui kebijakan pengurangan pajak atau tax deduction. Dnegan begitu, industri bisa mengalirkan dananya lebih banyak ke penelitian dan pengembangan.

Kementerian Riset dan Teknologi mengapresiasi Dexa Group sebagai perusahaan swasta nasional Indonesia yang sudah berinvestasi dan mempunyai komitmen yang tinggi dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan yang berkaitan dengan produk obat atau farmasi.

Bambang berharap perusahaan-perusahaan dalam negeri bisa menjadikan penelitian dan pengembangan sebagai tulang punggung dalam menjalankan bisnis seperti yang dilakukan Dexa Group. Menristek Bambang menginginkan agar industri farmasi mampu menghasilkan obat untuk penyakit yang menyebabkan tingkat kematian paling besar di Indonesia.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA