Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

NASA Temukan Planet Seukuran Bumi Berpotensi Miliki Air

Rabu 08 Jan 2020 16:30 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

NASA mencari eksoplanet yang berpotensi bisa dihuni menggunakan instrumen TESS.

NASA mencari eksoplanet yang berpotensi bisa dihuni menggunakan instrumen TESS.

Foto: reuters
NASA mencari eksoplanet yang berpotensi bisa dihuni menggunakan instrumen TESS.

REPUBLIKA.CO.ID, HONOLULU — Misi pemburuan planet Badan Antariksa AS (NASA) melalui instrumen TESS menemukan planet ekstrasurya yang berpotensi dihuni pertama kali. Planet tersebut seukuran Bumi yang mengorbit sekitar 100 tahun cahaya dari Bumi.

Temuan itu diumumkan pada pertemuan ke-235 American Astronomical Society pada Senin (6/1) di Honolulu. Planet tersebut adalah bagian dari sistem multi-planet di sekitar TOI 700, yakni, bintang kerdil M-kecil di konstelasi Dorado. Planet tersebut sekitar 40 persen dari massa dan ukuran matahari, dengan setengah dari suhu permukaan.

Planet tersebut dikenal sebagai TOI 700 d, satu dari tiga yang mengorbit bintang. Lokasinya berada pada jarak tepat untuk mendukung air cair di permukaan di zona layak huni bintang.

Para astronom mengonfirmasi penemuan itu menggunakan kemampuan inframerah Spitzer Space Telescope milik NASA, dengan pengamatan lanjutan. Astronom telah memodelkan lingkungan potensial planet untuk menyelidiki lebih lanjut kelayakhuniannya.

Temuan itu menarik bagi para astronom. Sebab, planet itu menjadi salah satu dari beberapa planet yang berpotensi dihuni, yang ditemukan di luar tata surya berukuran sebesar Bumi.

TOI 700 d adalah yang terluar dari tiga planet, menyelesaikan satu orbit di sekitar bintang setiap 37 hari Bumi. Dari bintangnya yang lebih kecil, planet itu menerima sekitar 86 persen energi yang disediakan matahari untuk Bumi. Planet itu dianggap terkunci, artinya satu sisi selalu dalam kondisi siang hari.

Dua planet lain dalam sistem, TOI 700, yakni b dan c itu berbeda. Planet terdalam, yakni b, adalah ukuran dan berbatu seperti planet Bumi, serta ritsleting di sekitar bintang, setiap 10 hari Bumi. Planet kedua c, dianggap gas, dan antara Bumi dan Neptunus, menyelesaikan orbit setiap 16 hari Bumi.

“TESS dirancang dan diluncurkan khusus untuk menemukan planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang di dekatnya,” kata Direktur Devisi Astrofisika di Markas NASA di Washington, Paul Hertz.

Dia mengatakan planet-planet di sekitar bintang terdekat adalah yang paling mudah ditindaklanjuti dengan teleskop yang lebih besar di ruang angkasa dan Bumi. Menemukan TOI 700 d adalah penemuan ilmu kunci untuk TESS. Mengonfirmasi ukuran planet dan status zona layak huni dengan Spitzer adalah kemenangan lain bagi Spitzer saat mendekati akhir operasi sains pada Januari ini.

Awalnya, bintang itu dikategorikan lebih panas, membuat para astronom berpikir bahwa planet-planet yang megorbitnya akan terlalu dekat dan panas untuk mendukung kehidupan. Namun para peneliti, termasuk siswa sekolah menengah Alton Spencer yang bekerja dengan tim TESS, menunjukkan kesalahan tersebut.

“Ketika kami mengoreksi parameter bintang, ukuran planet-planetnya turun, dan kami menyadari yang paling jauh adalah tentang ukuran Bumi dan di zona layak huni,” ujar seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Chicago, Emily Gilbert.

Selain itu, dia melanjutkan, dalam 11 bulan data mereka tidak melihat suar dari bintang, yang meningkatkan kemungkinan TOI 700 d dapat dihuni dan membuatnya lebih mudah untuk memodelkan kondisi atmosfer dan permukaannya. Di masa depan, misi seperti James Webb Space Telescope milik NASA, yang diluncurkan pada 2021, dapat menentukan apakah planet-planet tersebut memiliki atmosfer dan komposisi mereka.

Simulasi lingkungan yang dibuat para peneliti menggunakan data TESS, mengungkapkan sebuah planet yang memungkinkan berperilaku sangat berbeda dari kita. Karena terkunci secara tidally, cara awan terbentuk dan angin bertiup mungkin asing bagi kita.

“Suatu hari, ketika kita memiliki spektrum nyata dari TOI 700 d, kita dapat mundur, mencocokkannya dengan spektrum simulasi terdekat, dan kemudian mencocokkannya dengan model,” kata anggota Asosiasi Penelitian di Universitas Antariksa, Gabrielle Engelmann-Suissa.

Menurut dia, temuan itu sangat mengasikkan, karena terlihat sangat berbeda dari yang dimiliki di Bumi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA