Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

BPPT Respons Peringatan Cuaca Ekstrem Kedubes AS

Rabu 08 Jan 2020 13:56 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sejumlah personel TNI AU memasang penampung garam atau consul pada Pesawat CN 295 dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di  Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Sejumlah personel TNI AU memasang penampung garam atau consul pada Pesawat CN 295 dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
BPPT memastikan teknologi modifikasi cuaca terus berlanjut hadapi cuaca ekstrem.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fauziah Mursid, Rr Laeny Sulistyawati

JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merespons peringatan cuaca ekstrem pada 12 Januari 2019 yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Peringatan tersebut menimbulkan keramaian di media sosial.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto mengungkapkan, sejak beberapa hari lalu sudah ada prakiraan bahwa pekan depan akan terjadi hujan yang sangat deras di Jabodetabek. "Banyak yang menanyakan ke saya tentang kebenaran info ini. Saya jawab lugas, ya. Tim Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) BPPT sejak beberapa hari lalu memperkirakan bahwa tanggal 11 Januari akan terjadi hujan yang sangat deras di Jabodetabek," kata Tri Handoko dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (8/1).

Tri mengungkapkan, prakiraan curah hujan rata-rata wilayah Jabodetabek pada pekan depan sekitar 50-100 mm. Namun, kata dia, intensitas hujan tidak akan selebat hujan 31 Desember sampai 1 Januari lalu.

"Namun, berpotensi mengakibatkan genangan atau banjir di sejumlah titik," kata Tri.

Ia mengungkapkan, BMKG melalui Deputi Meteorologi juga telah merilis prakiraan cuaca. Dalam sepekan ke depan akan berpotensi terjadi hujan dengan intensitas lebat disertai petir/kilat dan angin kencang. Karena itu, Tim TMC BPPT akan bekerja sama dengan BNPB, TNI AU, dan BMKG melakukan operasi TMC siang malam 24 jam. Meskipun, Tri menyadari bahwa terbang malam dalam operasi TMC merupakan operasi berisiko sangat sangat tinggi.

"Menyemai awan malam hari sungguh tidak mudah. Oleh karena itu, kami minta Tim TMC tetap bekerja secara profesional dengan kewaspadaan ekstra," katanya.

"Mohon doa kepada masyarakat semua agar misi TMC berhasil dan tim TMC selalu sehat dan selamat," kata dia lagi.

Operasi TMC yang dilakukan BPPT dan TNI dengan dukungan BNPB telah berhasil menurunkan intensitas hujan sedang-lebat yang seharusnya tiba di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), seperti pada Senin (6/1). BNPB akan terus melakukan operasi ini untuk menghindari hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Jabodetabek.

photo
Petugas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan lokasi penyemaian garam ke awan dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang menggunakan Pesawat CN 295 di sekitar wilayah perairan Selat Sunda, Jumat (3/1/2020).


Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo menjelaskan, kemarin (7/1), pesawat CN 295 dan Casa 212-200 milik TNI ini melakukan empat sorti penyemaian awan dengan cakupan wilayah barat daya, barat, barat laut. "Total bahan semai garam (NaCl) untuk penyemaian mencapai 6,4 ton. Berdasarkan laporan BPPT, hujan berhasil diturunkan di perairan barat laut dan barat daya Jabodetabek," ujarnya.

Laporan ini merujuk pada data satelit yang menunjukkan wilayah terjadinya hujan.   Pada sorti pertama dengan menggunakan CN295, bahan semai NaCl sebanyak 2,4 ton disebarkan pada wilayah barat hingga barat daya Jabodetabek, sorti berikutnya dengan Casa 212-200 dengan kapasitas semai 800 kg mendistribusikan bahan semai di perairan Selat Sunda.

Sorti ketiga, dia melanjutkan, bahan semai ditebar di barat laut Jabodetabek. Sedangkan sorti terakhir dengan CN 295 bahan semai sejumlah 2,4 ton disemai pada wilayah barat hingga barat laut Jabodetabek.

Agus berjanji pihaknya dengan BPPT dan TNI akan terus melakukan operasi TMC mengingat manfaat TMC untuk mengantisipasi cuaca ekstrem. Khususnya curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi jatuh di wilayah Jabodetabek.

Sejak dilakukan pada 3 Januari 2020 lalu, operasi TMC melalui pesawat fixed-wings telah melakukan 20 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl mencapai 32 ton. Penerapan TMC bertujuan untuk menurunkan hujan ke wilayah yang aman dan jauh dari permukiman penduduk atau sebelum awan memasuki kawasan padat penduduk, seperti di wilayah Selat Sunda atau Laut Jawa.

Hujan yang turun dimodifikasi dengan penggunaan natrium klorida (NaCl) yang ditebarkan ke bibit awan melalui pesawat Casa 212-200 dan CN-295. Ia menegaskan pelaksanaan operasi TMC untuk penanggulangan bencana banjir di Jabodetabek dan sekitarnya tentunya harus memperhatikan pertumbuhan awan.

Hal itu menjadi faktor penting yang harus terus dipantau secara berkesinambungan. Oleh sebab itu, guna membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, BPPT bekerja sama dengan BMKG untuk analisis data cuaca yang tersedia dari radar Stasiun Meteorologi Cengkareng.

BMKG menyebutkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat memang masih ada di Jakarta, terutama pada periode 9-12 Januari 2020. Menanggapi peringatan dini cuaca atau weather alert dari Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 12 Januari 2020 yang akan datang, ia meminta masyarakat, khususnya di wilayah Jabodetabek, tidak perlu panik.

"Senada dengan peringatan dini tersebut, kita tetap waspada, siaga, dan menyiapkan rencana darurat keluarga," ujarnya. Langkah ini juga perlu diterapkan oleh setiap keluarga di Indonesia, mengingat potensi bahaya bisa terjadi kapan pun dan di mana pun.



Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono R Prabowo menjelaskan, hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas monsun Asia masih signifikan. Selain itu, gelombang atmosfer (MJO) masih aktif di wilayah Indonesia, pola konvergensi angin yang memanjang mulai dari Banten bagian utara hingga Nusa Tenggara sebagai akibat dari adanya pusat tekanan rendah di Barat Laut Australia dan Bibit Siklon Tropis di sekitar Teluk Carpentaria Australia, berpotensi cukup signifikan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia termasuk Jabodetabek.

"Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG menyampaikan prakiraan potensi hujan sedang-lebat di wilayah Jabodetabek," ujarnya.
Ia memerinci pada 8 Januari 2020 diprediksikan potensi hujan dengan intensitas sedang dapat terjadi mulai siang hari di wilayah Bogor, Depok, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, Bekasi bagian barat, dan pada malam hari di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.

Kemudian selama 9-10 Januari 2020 diperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang dan kilat/petir dapat terjadi mulai dini hari menjelang pagi hari terutama di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Tangerang, Bekasi, sebagian Depok, dan Bogor.

Intensitas hujan dapat menurun pada pagi menjelang siang hari, dan berpeluang kembali meningkat pada sore menjelang malam.
Kemudian selama tanggal 11-12 Januari 2020. Secara umum, kondisi hujan di wilayah Jabodetabek relatif berkurang dibandingkan dengan periode tanggal sebelumnya.

Hujan dengan intensitas ringan-sedang masih dapat terjadi terutama di wilayah Bogor, Depok, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi, dan Tangerang. Kemudian pasang naik maksimum di Teluk Jakarta dapat terjadi pada periode tanggal 09-12 Januari 2020 dengan ketinggian maksimum 0,6 meter dan kondisi ini berpotensi menghambat laju aliran air sungai masuk ke laut di Teluk Jakarta.

"Kesimpulannya hujan dengan intensitas sedang-lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek pada periode 9-12 Januari 2020, namun tidak seekstrem hujan yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2020," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin.

Baca Juga

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA