Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Australia Kebut Pencegahan Titik Api Baru

Selasa 07 Jan 2020 23:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas Suaka Margasatwa Adelaide  Simon Adamczyk menggendong koala yang mengalami luka bakar di hutan dekat  Cape Borda di Kangaroo Island, Adelaide, Australia, Selasa (7/1)

Petugas Suaka Margasatwa Adelaide Simon Adamczyk menggendong koala yang mengalami luka bakar di hutan dekat Cape Borda di Kangaroo Island, Adelaide, Australia, Selasa (7/1)

Foto: AAP Image/David Mariuz/via REUTERS
Kebakaran hutan di Asutralua menewaskan 25 orang, menghancurkan 2.000 rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, BALMORAL -- Cuaca yang cukup dingin membuat tm pemadam kebakaran Australia menyegerakan pencegahan titik api baru. Mereka mencoba untuk memanfaatkan kondisi alam agar bisa memperkuat garis pertahanan agar titik api nantinya tidak bertambah.

Wilayah New South Wales masih memiliki 130 titik kebakaran pada Selasa (7/1). Sekitar 50 di antaranya masih tidak terkendali. Meski sudah terjadi hujan, titik api tidak bisa padam seluruhnya.

"Ini adalah tentang menopang perlindungan untuk membatasi potensi kerusakan dan merebaknya kebakaran ini dalam beberapa hari mendatang," kata Shane Fitzsimmons, komisioner New South Wales Rural Fire Service.

Menteri Layanan Darurat negara bagian Victoria Lisa Neville mengatakan, setidaknya 200 milimeter hujan perlu turun dalam waktu singkat untuk memadamkan api. Artinya, sekitar 20 kali lebih besar dari hujan yang turun  di seluruh wilayah dalam satu hari terakhir.

Para pejabat memperingatkan musim kebakaran di Australia yang umumnya berlangsung hingga Maret ini belum berakhir. Kondisi kebakaran masih akan terus terjadi dan persiapan untuk mencegah menyebaran perlu dilakukan.

Bahkan, meski hujan turun, justru proses pemadaman api tidak berjalan lancar. Kondisi ini mempersulit upaya petugas pemadam kebakaran untuk secara strategis membakar kembali daerah-daerah tertentu agar mencegah pembakaran tidak terkendali dan membuat tanah menjadi licin untuk truk pemadam kebakaran.

Kebakaran itu, yang dipicu oleh kekeringan dan cuaca terpanas serta paling kering di negara itu sejak September. Kondisi ini terjadi beberapa bulan lebih awal dari yang biasanya yang terjadi pada musim kebakaran tahunan Australia.

Baca Juga

Sejauh ini, kobaran api telah menewaskan 25 orang, menghancurkan 2.000 rumah. Dewan Asuransi Australia mengatakan, perkiraan tagihan kerusakan telah berlipat dua kali dalam dua hari, dengan klaim asuransi mencapai 700 juta dolar Australia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA