Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

30 Masjid Bersejarah Saudi Direnovasi Habiskan Rp 186 Miliar

Selasa 07 Jan 2020 11:40 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

30 Masjid Bersejarah Saudi Direnovasi Habiskan Rp 186 Miliar. Foto: Masjid Addas di Thaif

30 Masjid Bersejarah Saudi Direnovasi Habiskan Rp 186 Miliar. Foto: Masjid Addas di Thaif

Foto: Kemenag.co.id/mastuki
Renovasi 30 masjid bersejarah di Saudi memakan waktu 423 hari.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Fase pertama Proyek Muhammad Bin Salman untuk renovasi masjid bersejarah telah selesai dengan biaya lebih dari 50 juta Saudi Riyal (Rp 186 miliar). Renovasi total dan pengembangan yang dilakukan di 30 masjid di 10 wilayah Kerajaan ini dilakukan selama 423 hari.

Proyek renovasi ini dilaksanakan di bawah arahan dan tindak lanjut Putra Mahkota Muhammad Bin Salman selaku wakil perdana menteri dan menteri pertahanan. Ia sebelumnya telah mengarahkan tim untuk merenovasi 130 masjid bersejarah di seluruh Kerajaan yang mencakup beberapa fase.

Perusahaan-perusahaan Saudi, yang berpengalaman dan memiliki spesialisasi dalam pembangunan dan renovasi bangunan bersejarah, diikutsertakan dalam fase pertama proyek ini. Perusahaan-perusahaan ini juga memastikan keterlibatan insinyur Saudi untuk menjamin pelestarian identitas arsitektur asli setiap masjid sejak didirikan.

Pengerjaan program renovasi ini dilakukan di bawah Program Rekonstruksi Masjid Bersejarah di Kementerian Kebudayaan dan bekerja sama dengan Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan, Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Warisan Nasional (SCTH) dan Lembaga Saudi untuk Pelestarian Warisan.

Proyek ini memperhitungkan detail untuk memulihkan desain dasar masjid dengan menggunakan bahan-bahan warisan lokal serta menambahkan elemen-elemen baru yang diperlukan. Beberapa yang ditambahkan seperti ruang sholat untuk wanita, layanan untuk orang-orang dengan kebutuhan khusus dan pengembangan fasilitas layanan seperti AC,  pencahayaan dan akustik, dan implementasi lainnya dengan cara yang konsisten menjaga identitas historis masjid.

Dilansir di Saudi Gazette, ditemukan bahwa usia masjid-masjid bersejarah ini, yang menyebar di berbagai wilayah Kerajaan, bervariasi antara 1432 dan 60 tahun. Salah satunya didirikan di era sahabat Nabi Jarir Bin Abdullah Al-Bajali, yaitu Masjid Jarir Al-Bajali di gubernuran Taif.

Beberapa masjid bersejarah ini dikenal sebagai suar pengetahuan. Seperti Masjid Sheikh Abu Bakr, yang didirikan lebih dari 300 tahun yang lalu di gubernur Al-Ahsa.

Sejak awal bulan Jumada Al-Awwal 1441, masjid-masjid yang baru direnovasi pada tahap pertama, mulai menerima jamaah setelah ditutup selama lebih dari 40 tahun. Masjid-masjid ini telah berubah menjadi simbol agama historis yang akan melestarikan warisan agama dan arsitektur Islam bersama dengan kebangkitan berkelanjutan desa-desa warisan dan kota-kota bersejarah.

Dukungan Putra Mahkota untuk masjid-masjid bersejarah ini merupakan yang terbesar dalam sejarah. Utamanya dalam hal jumlah masjid dan total biaya. Ia menekankan posisi hebat yang melekat pada setiap masjid dalam agama Islam, selain menjadi salah satu yang paling penting yakni fitur warisan arsitektur perkotaan dan orisinalitas karakter arsitekturalnya.

Penting baginya untuk menyoroti fitur arsitektur lokal masjid dan keanekaragamannya dalam hal desain dan bahan bangunan. Kedua hal ini sejalan dengan sifat geografis dan iklim serta bahan bangunan di berbagai wilayah Kerajaan.

Pekerjaan renovasi sendiri dimulai dengan melakukan studi, mendokumentasikan dimensi historis dan arsitektur dari masing-masing masjid, meninjau tantangan di sekitar masjid-masjid ini, dan mempertahankan gaya arsitektur yang membedakan setiap wilayah Kerajaan.

Sebagian dari bangunan masjid bergantung dengan bahan batu. Sementara yang lainnya menggunakan tanah liat  dan penggunaan kayu lokal yang menjadi ciri setiap daerah.

Proses renovasi yang dilakukan melestarikan karakter arsitektur masjid, salah satunya dekorasi plester (stuko) dan warisan hiasan langit-langit. Halaman masjid menjadi tempat pertemuan orang-orang desa pada acara-acara khusus, serta untuk menerima tamu untuk konsultasi dalam mencapai solidaritas sosial dan menemukan solusi damai untuk perselisihan mereka.

Proses renovasi juga berfokus pada mengembalikan bagian yang telah lama terkenal dimiliki oleh masjid-masjid tua, seperti "Khalwah". Sebuah istilah yang berarti area shalat bawah tanah atau area halaman belakang yang memiliki ketinggian tertentu yang melindungi para jamaah dari cuaca dingin saat melaksanakan shalat.

Area penerimaan para tamu yang sedang melewati masjid serta area untuk wudhu dan sumur tradisional masjid juga ikut dilestarikan.

Proyek ini akan meningkatkan ketajaman dalam mengembangkan desa dan kota warisan, serta kota-kota bersejarah di Kerajaan. Renovasi masjid-masjid untuk ibadah setelah ditinggalkan dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi aspek penting setelah Kerajaan mengalami perkembangan perkotaan yang pesat selama  empat dekade terakhir.

Salah satu efek dari perkembangan tersebut adalah kecenderungan untuk membangun masjid modern. Kehadirannya mengabaikan sebagian besar masjid bersejarah. Bahkan ada yang menghancurkan masjid-masjid bersejarah untuk membangun yang baru di tempat tersebut.

Tidak sedikit yang meninggalkan masjid bersejarah dan pindah ke masjid modern lainnya. Hal ini mengarah pada lenyapnya masjid-masjid bersejarah.

Banyak dari masjid-masjid ini terletak di desa-desa peninggalan, dimana sebagian besar di antaranya sepi jamaah. Tujuan renivasi ini juga menekankan untuk mengembalikan orisinalitas arsitektur masjid sesuai dengan data lokasi geografis.

Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan pelestarian masjid bersejarah dan menyoroti karakteristik arsitektur dalam desain mereka. Selain itu mengambil manfaat dari mereka dalam mengembangkan desain masjid modern, terutama sebagian besar elemen desain masjid bersejarah bertepatan dengan tren menuju keberlanjutan dan arsitektur hijau. Pelestarian dan pengembangan masjid bersejarah berkontribusi terutama untuk menyoroti dimensi budaya Kerajaan, yang ditekankan dalam Visi 2030.

Adapun masjid-masjid yang direnovasi selama fase pertama proyek adalah sebagai berikut. Wilayah Riyadh: Masjid Al-Dakhlah di Sudair, Masjid Al-Zarqa - Tharmada, Masjid Al-Towaim - Al-Towaim, Masjid Qasr Al-Shariah -Hayatham, Masjid Al-Mansaf - Zulfi, dan Masjid Sudirah - Shaqra.

Wilayah Makkah: Masjid Al-Saderah - Masjid Taif dan Al-Bajali Bin Malik - Taif. Provinsi Timur: Masjid Al-Habeish dan Masjid Abu Bakr - Hofuf. Wilayah Asir: Masjid Desa Al-Saro, Masjid Al-Nassab - Abha, Masjid Sadr Aed dan Masjid Al-Akasah-Namas, dan Masjid Al-Mudhafah-Ballasmer.

Wilayah Al-Qassim: Masjid Al-Ajlan dan Masjid Mohammed Al-Muqbel - Buraidah, Masjid Al-Barqaa - Asiah, dan Masjid Lama -Oqlat Alsaqoor. Wilayah Al-Baha: Masjid Warisan Al-Atawlah-Atawlah, Masjid Warisan Al-Dhafeer -Baha, dan Masjid Desa Al-Malad Heritage.

Wilayah Jazan: Masjid Taboot - Pulau Farsan. Wilayah Hail: Masjid Al-Maghaydhah dan Masjid Qafar - Hail dan Masjid Al-Jalud -Sumaira. Wilayah Al-Jouf: Masjid Al-Rahebeen - Sakaka, Masjid Al-Haditha - Haditha, dan Masjid Al-Issawiya-Issawiya. Wilayah Najran: Masjid Abu Bakr - Thar.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA