Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Bersekolah Kembali, Benarkah Siswa Indonesia Senang Sekolah?

Selasa 07 Jan 2020 05:34 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Muba Hj Thia Yufada Dodi Reza pun turut mengucapkan selamat hari libur kepada anak sekolah.

Foto:
Para siswa kembali bersekolah setelah tiga pekan libur semester.

John Goodlad dalam A Place Called School (1984) menyatakan, tidak sedikit kajian menemukan sekolah-sekolah dengan kondisi serupa; tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswanya.

Kebosanan melanda siswa, utamanya selepas mereka menjeda sekolah dengan berbagai kegiatan yang sifatnya di luar sekolah karena menawarkan kebahagiaan yang lebih nyata dibandingkan rutinitas bersekolah itu sendiri. Kondisi ini membahayakan karena kebosanan di lingkungan sekolah bersifat menular dan berpengaruh pada siswa lainnya. Pada hari pertama kembali bersekolah, sebaiknya guru dan lingkungan pendidikan dapat mewujudkan kebahagiaan siswa dalam belajar.

Hasil kajian Steven Wolk tentang Joy in School (2008) dapat merumuskan lima kunci kebahagiaan belajar siswa pada konteks Indonesia. Pertama, menemukan kebahagiaan dalam belajar.

Walaupun kebahagian bersifat relatif, ini bukan berarti siswa tak memiliki otonomi menentukan kebahagiaan miliknya. Jika kita ingin setiap siswa memandang sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan, pendidik perlu mendefinisikan ulang tentang apa dan bagaimana mereka mengajar.

Kedua, memberikan kesempatan siswa menentukan pilihan mereka. Banyak kajian menemukan, aktivitas siswa di luar ruangan lebih mampu mempertemukan siswa dengan kesenangan mereka dan menyajikan berbagai keleluasaan yang membebaskan siswa. Berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas yang terlalu banyak diikat perintah dan aturan.

Padahal, sekolah memiliki kesempatan membuka ruang pendekatan pembelajaran yang menggali gagasan dari siswa untuk menemukan sesuatu yang baru dengan melibatkan guru sebagai pengarahnya, misalnya, melalui metode belajar exploratory discovery.

Ketiga, memberikan kesempatan siswa menciptakan sesuatu, kemudian diberi apresiasi atas hasil karya tersebut agar dapat dilihat orang lain. Dengan kian beragamnya sumber belajar dan terbukanya arus informasi, siswa akan lebih kreatif menciptakan ide dan inovasi.

Ruang kelas dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media penyampaian hasil karya para siswa, dan menjadi 'ruang pamer' tentang betapa hebatnya setiap siswa dengan ide dan kreativitas yang dimilikinya.

Keempat, menciptakan sekolah sebagai ruang-ruang perjumpaan yang luas sebagai bagian dari media belajar siswa dalam membangun interaksi sosial. Sekolah perlu lebih banyak menyediakan ruang publik bagi siswa untuk berinteraksi dan membangun kedekatan personal dengan suasana belajar.

Kelima, melakukan transformasi konsep penilaian. Pemahaman tentang penilaian harus diubah sebagai aktivitas yang tidak sekadar menilai siswa di dalam kelas, tapi juga di luar kelas dan self assessment.

Guru juga perlu mulai membatasi peni laian yang sifatnya kuantitatif dengan memperbanyak penilaian naratif yang mempertimbangkan portofolio pekerjaan, presentasi, dan prestasi siswa. Sekolah tidak lagi menjadi tempat mencetak angkatan kerja dan anak-anak pintar melalui berbagai tes dan ujian, tetapi lebih pada membangun manusia seutuhnya. Membantu siswa menemukan kebahagian belajar adalah bagian dari menciptakan kesuksesan dalam belajar.

Karena, bila pengalaman bersekolah jus tru menghancurkan semangat anak-anak untuk belajar, memberangus keingintahuan mereka terhadap dunia, dan mengikis empati mereka untuk peduli terhadap sesamanya, maka kita belum berhasil menciptakan sekolah yang sesungguhnya.

 

TENTANG PENULIS: DIYAN NUR RAKHMAH, Analis Data pada Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemendikbud

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA