Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Wisata Pantai Banten Belum Juga Pulih

Selasa 07 Jan 2020 02:29 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Indira Rezkisari

Seorang pemuda berselancar di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, sepekan setelah tsunami melanda pantai itu, Sabtu (29/12).

Seorang pemuda berselancar di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, sepekan setelah tsunami melanda pantai itu, Sabtu (29/12).

Foto: Republika/Muhammad Ikhwanuddin
Setahun setelah tsunami Banten angka kunjungan wisatawan belum sesuai target.

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Pascatsunami yang melanda Banten pada 2018 lalu, wisata pantai di daerah ini belum juga pulih. Setahun berlalu, jumlah kunjungan di destinasi pantai Banten pada libur Natal dan tahun baru belum bisa mencapai angka wisata seperti sebelum terjadi bencana.

Menurut data Dispar Banten, pada libur Natal dan tahun baru sejak tanggal 25 hingga 31 Desember, jumlah pengunjung di pantai Banten berjumlah 70.765 orang. Angka ini masih jauh dari target peningkatan wisatawan pantai sebanyak 349.299 seperti pada libur Idul Fitri 2019.

"Kalau membandingkan kunjungan pantai pada momen tahun baru 2018 kan tidak bisa, karena setelah bencana itu memang hampir tidak ada kunjungan wisata. Nah ternyata memang masih belum pulih kalau kita bandingkan dengan kunjungan pada libur Idul Fitri. Kemungkinannya karena cuaca yang hujan terus disertai angin saat Desember kemarin. Kalau ketika Idul Fitri kan cuaca bagus," jelas Kabid Destinasi Pariwisata Banten, Paundra Bayyu Ajie, Senin (6/1).

Bayu menyebut bahwa belum pulihnya kunjungan wisata di pantai Banten pada Desember 2019, juga disebabkan oleh banyaknya berita bohong tentang tsunami yang akan melanda pantai Banten saat itu. "Kemarin itu saya lihat banyak berita hoaks tentang tsunami, ditambah hujan terus angin kencang juga ketika itu, jadi kemungkinan masyarakat banyak termakan oleh berita ini," tuturnya.

Upaya Pemprov Banten untuk menggeliatkan wisata pantai Banten, kata Bayu, sudah optimal. Berbagai acara di destinasi pantai sudah seringkali diadakan untuk membuat masyarakat yakin kalau pantai Banten telah aman dari bencana.

"Memang faktor trauma, bencana kemarin memang banyak membekas di pikiran masyarakat karena dahsyatnya gelombang dan banyaknya korban. Tapi semua sektor sekarang kan sudah bergerak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga sudah melakukan upaya mitigasi bencana. Promosi dari Dispar juga sudah kita lakukan," terang Bayu.

Meski angka kunjungan wisata pantai yang belum pulih, ia mengaku bahwa saat ini progresnya terus berjalan. Hal ini dibuktikan dengan angka kunjungan Kabupaten Pandeglang, sebagai daerah terdampak paling besar tsunami yang sedikit lebih banyak dibanding daerah lain dengan angka 19.800 orang pada libur tahun baru. Sementara Kabupaten Serang dengan 19.715, Kabupaten Lebak 18.350 orang dan Kota Cilegon sebanyak 12.900 orang.

"Masih berproses memang, sementara mengupayakan agar masyarakat bisa move on dan kembali berkunjung di pantai Banten, kita buat potensi destinasi  wisata lain. Seperti wisata religi di Tirtayasa atau di Banten lama," tuturnya.

Sementara Ketua Komisi III DPRD Provinsi Banten, Gembong R. Sumedi menyebut bahwa Dinas Pariwisata memang belum kreatif untuk menggenjot wisata pantai di Banten.  Padahal alokasi dana untuk sektor wisata menurutnya sudah mumpuni untuk bisa menunjang inovasi Pemprov dalam menarik wisatawan ke pantai Banten.

"Kalau alasannya cuaca, sebenarnya setiao Desember juga kan hujan. Tapi biasanya sebelum bencana kan wisatawan banyak yang datang ke pantai. Intinya seharusnya ada sosialisasi yang masif kepada masyarakat, kalau wisata pantai ini sudah aman. Lalu buat event-event apa saja yang bisa menarik wisatawan. Kita juga sebenarnya greget, Dispar ini belum kreatif memang," tutur Gembong.

Gembong juga mengatakan upaya membuat destinasi wisata alternatif lain sebenarnya sudah baik. Namun, dari pengamatannya, destinasi alternatif yang gencar dibangun Pemprov terkadang minim perawatan.

"Silakan saja buat wisata alternatif, tapi ketika saya lihat ke Banten lama itu seperti kurang perawatan. Banyak toilet yang rusak dan ada genangan air. Jadi bisa membuat wisatawan jadi tidak mau ke sana lagi kan, harusnya ada perawatan setelah membangun," jelasnya.

Sementara Gubernur Banten Wahidin Halim menyebut bahwa belum pulihnya wisata pantai memang karena masyarakat masih terbayang-bayang bencana tsunami pada 2018.  Pemprov disebutnya akan menggenjot wisata pantai setelah menangani bencana Banten yang saat ini melanda.

"Kita semua tahu apa penyebabnya, karena bencana tsunami itu kan. Upayanya akan kita lakukan setelah penanganan bencana banjir ini," jelasnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA