Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Filipina Bersiap Evakuasi Pekerja di Irak dan Iran

Senin 06 Jan 2020 16:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Filipina akan mengerahkan pesawat dan kapal untuk mengevakuasi warganya di Irak-Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Pemerintan Filipina bersiap mengevakuasi ribuan pekerjanya di Irak dan Iran. Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan militer untuk bersiap mengerahkan pesawat dan kapalnya kapan saja untuk mengevakuasi warganya di kedua negara tersebut.

Baca Juga

Duterte mengadakan pertemuan darurat dengan Menteri Pertahanan dan pejabat tinggi militer serta polisi, pada Ahad (5/1). Mereka berkumpul untuk membahas rencana evakuasi warga dari dua negara yang sedang berkonflik dengan Amerika Serikat (AS).

"Presiden Duterte memerintahkan Angkatan Bersenjata Filipina untuk bersiap mengerahkan aset militer untuk memulangkan orang Filipina ke luar negeri di Timur Tengah, terutama dari Iran dan Irak, kapan saja," kata Senator Christopher Lawrence Go, sekutu dekat negara itu.

Kepala staf militer Letnan Jenderal Felimon Santos Jr mengatakan, pasukan Filipina telah mengidentifikasi kemungkinan rute evakuasi tidak hanya di Irak dan Iran. Kemungkinan wilayah lain seperti Israel pun akan dipertimbangkan.

"Ada kemungkinan seperti itu dan kami meningkatkan rencana kami hanya untuk mencakup semuanya kalau-kalau terjadi sesuatu," ujar Santos.

Departemen Pertahanan Nasional Filipina menyatakan, lebih dari 7.000 pekerja Filipina di Irak dan Iran. Mereka banyak yang bekerja dengan AS dan fasilitas asing serta perusahaan komersial lainnya di Baghdad.

Perintah itu mencerminkan kekhawatiran Asia yang meningkat terhadap warganya di tengah kemungkinan kekerasan di Timur Tengah. Negara-negara Asia lainnya dengan populasi pekerja asing mungkin menghadapi keputusan serupa.

Kementerian pemerintah Korea Selatan telah membahas penguatan perlindungan bagi hampir 1.900 warga di Irak dan Iran. Sebagian besar bekerja di bidang konstruksi, sementara 280 lainnya yang tinggal di Iran adalah pengusaha, pelajar, atau pasangan dari warga Iran. Lembaga-lembaga pemerintah telah membahas persiapan untuk krisis yang meningkat di Timur Tengah, tetapi tidak memiliki rencana segera untuk evakuasi.

Negara-negara lain menghadapi dilema serupa. Orang Asia merupakan 40 persen dari migran dunia, dan negara-negara Timur Tengah adalah tujuan bersama. Para migran Afrika juga bekerja di sekitar Timur Tengah, meskipun kemungkinan negara asal mereka mengatur evakuasi tidak pasti.

Negara-negara Teluk Arab adalah rumah bagi lebih dari 7 juta ekspatriat India. Mereka yang membantu menggerakkan perekonomian kawasan dan menjaga kotanya dipenuhi dengan dokter, insinyur, guru, pengemudi, pekerja konstruksi dan pekerja lainnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan, India belum berencana untuk mengevakuasi warga negara dari wilayah yang bergejolak.

AS menyerang Bandara Irak, sehingga menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani pada Jumat. Atas peristiwa itu, Iran telah berjanji untuk membalas. Sementara, Presiden Donald Trump memperingatkan pasukan Amerika akan membalas 52 target Iran jika terjadi pembalasan. Parlemen Irak juga menyerukan pengusiran semua pasukan AS dari negara itu. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA