Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Oded Evaluasi Program Bagi-Bagi Ayam ke Siswa SD-SMP

Senin 06 Jan 2020 10:56 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Christiyaningsih

Perwakilan siswa menunjukan anak ayam yang diberikan Wali Kota Bandung Oded M Danial. Wali Kota Bandung Oded M Danial akan mengevaluasi program bagi-bagi anak ayam.

Perwakilan siswa menunjukan anak ayam yang diberikan Wali Kota Bandung Oded M Danial. Wali Kota Bandung Oded M Danial akan mengevaluasi program bagi-bagi anak ayam.

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Wali Kota Bandung Oded M Danial akan mengevaluasi program bagi-bagi anak ayam

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wali Kota Bandung Oded M Danial akan mengevaluasi program bagi-bagi anak ayam ke siswa SD dan SMP di Kota Bandung setelah dua bulan kegiatan itu bergulir. Menurutnya, adanya anak ayam yang mati karena dimakan tikus merupakan hal yang biasa dan sudah diganti oleh Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan).

"Ini namanya edukasi, ada gagal atau berhasil. Gagalnya bisa macam-macam, mati karena tidak dikasih makan atau dimakan tikus, itu hal biasa," ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, program bagi-bagi anak ayam merupakan bagian dari edukasi sehingga apapun yang terjadi harus tercatat untuk bahan evaluasi. Selain itu, ia mengatakan evaluasi akan mengetahui berapa persen anak ayam berhasil atau yang gagal.

"Jangankan anak-anak, pengusaha ayam juga salah satu persoalan itu hamanya tikus. No problem, tidak masalah berjalan natural," katanya.

Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung menyebut belasan anak ayam yang mati disebabkan karena dimakan predator. Pascakejadian tersebut, pihak dinas langsung melakukan penggantian anak ayam sehingga saat ini siswa tetap memelihara anak ayam.

"Beberapa yang mati karena dimakan predator seperti kucing dan tikus dan masih usia dibawah satu bulan, diganti," ujar Kadispangtan Gin Gin Ginanjar saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (3/1).

Dari total dua ribu anak ayam yang dibagi, jumlah yang mati masih di bawah ambang toleransi atau kurang dari 10 persen. Menurutnya, penyebab kematian bukan karena penyakit atau pemeliharaan namun karena dimakan predator.

Satu bulan lebih bergulir, Gin Gin mengatakan pertumbuhan anak ayam yang dipelihara naik mencapai rata-rata 350-400 gram dari bobot awal yang diperkirakan 39-48 gram. Sedangkan tinggi dari rata-rata awal 10 cm menjadi rata-rata 25-30 cm.

Menurutnya, pakan yang digunakan untuk anak ayam yaitu pakan alternatif yang baru diperkenalkan yaitu ampas kelapa, dedak, dan konsentrat yg difermentasi. Akan tetapi siswa banyak yang memberi makan sesuai yang ada di rumah.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA