Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Membedakan Kedukaan dengan Depresi

Jumat 03 Jan 2020 08:32 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Orang yang mengalami kedukaan mungkin saja tampak tak ubahnya orang depresi.

Orang yang mengalami kedukaan mungkin saja tampak tak ubahnya orang depresi.

Foto: Pixabay
Orang yang mengalami kedukaan mungkin saja tampak tak ubahnya orang depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesedihan atau kedukaan dan depresi mungkin tampak serupa, meski sebenarnya berbeda. Orang yang berduka dan depresi bisa sama-sama merasa kesulitan tidur, kehilangan nafsu makan, kehilangan minat untuk melakukan apapun, dan bahkan menangis.

Akan tetapi secara klinis, depresi merupakan masalah kesehatan mental. Depresi pada dasarnya merupakan interaksi kompleks dari tiga faktor yaitu faktor biologis, psikologis dan sosial. Bila dibiarkan, depresi dapat menjadi ancaman kesehatan yang serius.

Spesialis kedokteran jiwa dari Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM dr Heriani SpKJ(K) mengungkapkan ada beberapa gejala atau tanda depresi yang bisa dikenali, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Salah satu gejala yang paling sering terjadi adalah perubahan suasana hati atau mood.

Heriani mengatakan, orang dengan depresi bisa mengalami kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya menarik perhatian. Orang dengan depresi juga bisa tampak seperti malas atau bergerak lebih lambat dibandingkan biasanya.

Tak hanya itu, orang dengan depresi juga biasanya menunjukkan perubahan pada pola tidur maupun pola makan. Perubahan ini bisa menjadi lebih sering atau lebih jarang dari biasanya.

"Kemudian nggak bisa fokus, nggak bisa konsentrasi," jelas Heriani.

Di sisi lain, kedukaan merupakan sebuah proses normal yang muncul ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai. Namun, karena depresi dan kedukaan memiliki gejala atau tanda yang serupa, tak sedikit orang awam yang sulit membedakan keduanya.

"Kehilangan dan merasa sedih itu wajar," jelas spesialis kedokteran jiwa dr Sylvia Detri Elvira SpKJ(K).

Sylvia mengatakan, seseorang yang baru saja kehilangan orang yang dicintai boleh mengambil waktu untuk berkabung. Kedukaan atau suasana berkabung normalnya akan berlangusung hingga tiga bulan.

"(Sebelum tiga bulan) wajar bila masih merasa sedih," lanjut Sylvia.

Akan tetapi, orang yang berduka juga tak boleh membiarkan diri larut dalam kesedihan terlalu lama. Orang yang berduka bisa menemukan kekuatan untuk bangkit dari orang-orang disekitarnya.

Misalnya, seorang istri yang baru kehilangan suami wajar untuk berduka. Namun, sang istri harus mulai bangkit kembali secara perlahan demi anak-anak yang membutuhkan dirinya. Salah satu cara untuk bisa kembali bangkit dari kedukaan adalah dengan merawat diri.

"Berduka boleh sampai tiga bulan, tapi jangan lupa merawat diri," tutur Sylvia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA