Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Pentagon Kirim Pasukan Tambahan ke Timur Tengah

Rabu 01 Jan 2020 11:59 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Kerusuhan saat demo di depan Kedubes AS di Irak mendorong Pentagon menambah pasukan di Timur Tengah. Ilustrasi.

Kerusuhan saat demo di depan Kedubes AS di Irak mendorong Pentagon menambah pasukan di Timur Tengah. Ilustrasi.

Foto: AP/Allauddin Khan
Kerusuhan saat demo di depan Kedubes AS di Irak mendorong Pentagon menambah pasukan

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Unjuk rasa yang memprotes serangan udara Amerika Serikat (AS) di Irak berakhir ricuh. Pengunjuk rasa melemparkan batu dan membakar pos keamanan Kedutaan Besar AS di Baghdad. Kerusuhan ini tidak hanya memicu bentrokan antara pengunjuk rasa dengan petugas penjaga. Tapi juga mendorong AS menambah pasukan mereka di Timur Tengah.

Pentagon mengatakan mereka akan menambah personel Marinir untuk melindungi pegawai kedutaan. Sekitar 750 pasukan dari Divisi Udara 82 akan dikirimkan ke Timur Tengah. Pasukan tambahan lainnya sedang disiapkan untuk dikirim dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga

"Penugasan ini tindakan pencegahan dan tepat untuk menanggapi meningkatnya tingkat ancaman terhadap personel dan fasilitas AS, seperti yang kami saksikan di Baghdad hari ini," kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper dalam pernyataannya, Rabu (1/1).

Unjuk rasa yang dipimpin milisi yang didukung Iran menentang kebijakan luar negeri AS Presiden Donald Trump. Ia mengancam akan melakukan pembalasan terhadap Iran.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pegawai diplomatik yang berada di dalam kedutaan dalam keadaan aman. Belum ada rencana untuk mengevakuasi mereka.

Penjaga kedutaan menggunakan granat setrum dan gas air mata untuk membubarkan massa. Pengunjuk rasa membakar pos keamanan di pintu masuk tapi tidak sampai menerobos komplek utama.

Pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan 750 pasukan itu akan ditugaskan di Kuwait. Ia menambahkan jika diperlukan AS akan mengirim empat ribu pasukan ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.

Saat ini ada sekitar lima ribu pasukan AS yang beroperasi di Irak. Mereka melatih dan membantu operasi pasukan setempat.

Serangan tidak biasa terhadap misi diplomatik AS ini memperlihatkan tajamnya konflik proksi antara AS dan Iran. Kedua negara itu memiliki pengaruh yang kuat di Irak. Saat ini hubungan AS dan Iran berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA