Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Ilmuwan Ungkap Misteri Rotasi di Planet Saturnus

Senin 30 Dec 2019 12:09 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilmuwan mengumpulkan data Saturnus selama 13 tahun dari misi Cassini. Foto: Gambaran atmosfer dipermukaan planet Saturnus. Tampak di bagian utara terdapat awan badai yang sangat besar.

Ilmuwan mengumpulkan data Saturnus selama 13 tahun dari misi Cassini. Foto: Gambaran atmosfer dipermukaan planet Saturnus. Tampak di bagian utara terdapat awan badai yang sangat besar.

Foto: University of Colorado, LASP/NASA/REUTERS
Ilmuwan mengumpulkan data Saturnus selama 13 tahun dari misi Cassini.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Selama beberapa dekade, Saturnus menjadi sebuah planet di tata surya yang masih menyimpan misteri. Salah satunya mengenai periode rotasi. Namun, misi Cassini yang diluncurkan oleh Badan Antariksa AS (NASA) bersama dengan Badan Antariksa Eropa (ESA), dan Badan Antariksa Italia untuk mempelajari hal itu dan perlahan mulai mengungkapnya.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research AGU: Space Physics, akhirnya memberikan kunci untuk membuka misteri rotasi Saturnus. Studi yang ditulis bersama oleh Duane Pontius dari Birmingham-Southern College di Alabama, berjudul Saturn’s multiple, variable periodicities: A dual-flywheel model of thermosphere-ionosphere-magnetosphere coupling atau Saturnus, berbagai periodikitas variabel: Model roda-ganda dari kopling termosfer-ionosfer-magnetosfer.

Penelitian terbaru menunjukan bagaimana perubahan musiman pada Saturnus cukup membingungkan upaya para ilmuwan untuk menghitung periode rotasi yang tepat. Rotasi atau perputaran adalah salah satu aspek mendasar dari sifat planet.

Untuk menentukan rotasi, perlu ditemukan fitur di planet dan mencatatnya ketika berputar sekali. Namun, alam kasus raksasa gas tanpa fitur permukaan padat, para ilmuwan dapat mendengarkan modulasi periodik dalam intensitas sinyal radio yang dibuat dalam medan magnet berputar seperti di Saturnus.

Selama ini, Saturnus hanya memancarkan pola radio frekuensi rendah yang diblokir oleh atmosfer Bumi, sehingga sulit untuk mempelajari perputarannya dari permukaan. Hingga kemudian, pesawat ruang angkasa Voyagers 1 dan 2, dikirim ke planet itu pada 1980-1981 dan ditemukan bahwa para ilmuwan dapat mengumpulkan data mengenai rotasi.

Para ilmuwan mendeteksi modulasi intensitas radio yang melihat bahwa Saturnus berputar setiap 10 jam 40 menit. Itu diyakini sebagai periode rotasi yang menjadi hasil ukur terbaik pada masa tersebut.

Selanjutnya, misi Cassini diluncurkan pada 2004, terdiri dari modul pengorbit NASA dan pendarat Huygens dari Badan Antariksa Eropa. Misi ini mengungkap misteri yang mencengangkan, pertama saat wahana yang dikrimkan tiba di bulan Titan, pengorbit mengitari Saturnus dan diketahui periode rotasi planet telah berubah enam menit, sekitar satu persen.

Peneliti mulai melihat Saturnus berbeda dari saudara terdekatnya, yaitu Jupiter. Sumbu Saturnus dimiringkan sekitar 27 derajat, mirip dengan kemiringan 23 derajat Bumi. Kemiringan berarti belahan utara dan selatan Saturnus menerima jumlah radiasi yang berbeda dari Matahari, tergantung pada musim.

Menurut model yang diusulkan oleh Pontius dan rekan-rekannya, variasi dalam sinar matahari dari musim panas ke musim dingin di belahan yang berbeda di planet mempengaruhi plasma. Hal ini, pada gilirannya, menciptakan hambatan, lebih atau kurang, di ketinggian tempat ia bertemu dengan atmosfer gas di Saturnus.

Perbedaan itu membuat atmosfer melambat dan menentukan periode yang terlihat dari sinyal radio. Jika mengubah plasma secara musiman, Anda dapat mengubah periode emisi radio, sebagaimana dibuktikan oleh Saturnus.

Model baru ini memberi solusi bagi misteri periode rotasi yang barubah dan menarik dari Saturnus. Ini juga menunjukkan bahwa periode yang diamati bukan periode rotasi inti Saturnus, yang tetap tidak terukur.

Tim ilmuwan mempresentasikan penelitian mereka awal tahun ini pada pertemuan ilmuwan Saturnus lainnya. Mereka berharap peneliti lainnya akan mengambil langkah selanjutnya untuk memperbaiki model dengan mengeksplorasi bagaimana kecocokan dengan data Saturnus selama 13 tahun yang dikumpulkan di misi Cassini.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA