Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Ini Ideal Kawasan Hortikultura Buah Menurut Pengamat

Senin 30 Des 2019 00:40 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Petani mengawasi tanaman kubis (ilustrasi). Kawasan hortikultura dapat meningkatkan ekspor komoditas Indonesia karena memberikan ruang bagi swasta untuk mendongkrak produksi.

Petani mengawasi tanaman kubis (ilustrasi). Kawasan hortikultura dapat meningkatkan ekspor komoditas Indonesia karena memberikan ruang bagi swasta untuk mendongkrak produksi.

Foto: Antara/M Ibnu Chazar
Kunci kawasan hortikultura tak hanya one district one product, tapi juga one varietas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Agribisnis Khafid Siratuddin mengatakan, hortikultura">kawasan hortikultura dapat meningkatkan ekspor komoditas Indonesia karena memberikan ruang bagi swasta untuk mendongkrak produksi. Namun, komoditas yang dikembangkan harus terkonsentrasi hingga pada tahap varietas.

Baca Juga

"Kawasan hortikultura tidak hanya cukup dengan one district, one product, tapi juga one varieties. Kata kuncinya di situ. Kalau terdiri dari berbagai jenis itu tidak akan jadi walaupun masih satu komoditas," kata Khafid, Ahad (29/12).

Ia mengatakan, negara-negara lain yang mengembangkan kawasan terpadu hortikultura juga memfokuskan komoditas hingga jenis varietas dengan areal lahan hingga 5.000 hektare. Menurut dia, pemfokuskan komoditas hingga pada varietasnya karena karakteristik antar varietas yang berbeda.

Pertama, kata dia, kesesuaian varietas menyangkut langsung dengan luas lahan yang dibutuhkan. Kedua, faktor iklim yang juga memiliki perbedaan antar komoditas. Ketiga, faktor penanganan hama terpadu. "Masing-masing varietas berbeda penanganannya. Kalau macam-macam varietas akan repot menanganinya," ujar dia.

Di satu sisi, minimal area lahan yang semestinya disiapkan yakni seluas 1.000 hektare. Jika area terlampau kecil. Khafid mengatakan nilai ekonomi yang diperoleh tidak akan seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Tujuan akhir pemerintah untuk bisa melakukan substitusi impor dan mendongkrak ekspor juga akan sulit tercapai.

Khafid pun menerangkan, tiga kendala yang dihadapi dalam budidaya hortikultura saat ini yakni dari sisi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas komoditas itu sendiri. Tiga hal itu harus bisa dijawab oleh pemerintah dan pelaku usaha swasta.

"Apakah kawasan hortikultura itu harus milik negara? ya tidak. Di Filipina, Malaysia, Thailand justru kawasan itu langsung dimiliki oleh petani. Tapi ada jaminan pasar dan bibit dari pemerintah," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA