Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

MRT Percepat Studi Kelayakan Perpanjangan Rute Fase II

Jumat 27 Dec 2019 14:17 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Gita Amanda

Pekerja memasang dinding pembatas pembangunan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) Fase II di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Pekerja memasang dinding pembatas pembangunan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) Fase II di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Studi kelayakan ini akan menjadi dasar pembangunan sipil serta estimasi biaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mempercepat pengerjaan dokumen studi kelayakan (feasibility study) perpanjangan rute fase II, mulai dari Stasiun Kota menuju depo di Ancol Barat. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, hasil dari studi kelayakan ini akan menjadi dasar pembangunan sipil serta estimasi biaya yang dibutuhkan.

"Jarak ekstensi dari Stasiun Kota ke depo di Ancol Barat sekitar enam kilometer. Studi kelayakan ini diperkirakan selesai Maret tahun depan," ujarnya, Jumat (27/12). Adapun, rute fase II yang sudah ditetapkan bermula dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia hingga Stasiun Kota berjarak 8,6 kilometer dengan total investasi sebesar Rp 22,5 triliun.

Silvia memaparkan, nantinya ada tiga hingga empat stasiun bawah tanah (underground) yang akan dibangun dari Kota menuju Ancol Barat. Studi kelayakan perpanjangan rute fase II sangat penting, karena harus memaparkan kondisi tanah di tepi laut. "Apakah kondisi tanahnya cukup baik untuk drilling bawah tanah? Ini tentu akan berdampak pada total biaya," terangnya.

Meski demikian, dia optimistis tim konsultan dapat memetakan seluruh elemen rute ekstensi fase II. Apalagi, konsultan tersebut sudah terlebih dahulu menyelesaikan basic engineering design (BED) fase II Bundaran HI-Kota beberapa waktu lalu.

Terkait pengerjaan Fase II, Silvia menuturkan pihaknya masih mempersiapkan lelang tiga paket pekerjaan sipil, yaitu CP-201, CP-202, dan CP-203. Untuk CP-201, lanjutnya, target evaluasi dan penandatanganan kontrak masing-masing akan dilakukan pada Februari dan Maret tahun depan.

Dia melanjutkan CP 202-203 masih dalam pengadaan dan sempat terjadi kendala sehingga MRT Jakarta harus mengulang tender. Namun, dia tetap optimistis proses lelang akan selesai selambat-lambatnya pada triwulan III/2020.

"Kalau semua pekerjaan sesuai target, kami berharap pekerjaan fisik akan selesai akhir 2024 dan fase II bisa beroperasi secara komersial pada 2025," imbuhnya.

Sebelumnya Pemerintah Jepang menyatakan minatnya untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Indonesia dalam rencana pembangunan fase II moda transportasi MRT Jakarta.

Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Agraria, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata atau Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) Jepang, Kazuyoshi Akaba di Jakarta.

"Sehubungan dengan MRT yang saat ini, terdapat rencana pembangunan fase II MRT Jakarta dengan jalur utara ke selatan serta jalur timur ke barat. Untuk itu saya ingin terus bekerja sama dalam hal tersebut," ujar Kamis kemarin.

Kazuyoshi Akaba mengatakan pihaknya bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) juga mendukung konstruksi MRT Jakarta fase II.

"Jepang dan Indonesia membangun kerja sama terutama di bidang infrastruktur," katanya dalam acara peresmian simbol Official Development Assistance (ODA) dari Jepang untuk Indonesia yang terpasang di pintu keluar Stasiun MRT Jakarta Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar menyampaikan bahwa pembangunan fase II Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yaitu dari Bundaran HI hingga Stasiun Kota dinilai masih berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada sekitar periode kuartal III tahun 2024.

Menurut dia, dengan pembangunan yang masih sesuai target pada September 2024 akan bisa beroperasi fase II dari MRT Jakarta jalur utara-selatan. Fase II  MRT Jakarta untuk koridor Bundaran HI sampai dengan Kota sepenuhnya akan dibangun di bawah tanah menggunakan terowongan.

Selain lahan yang terbatas, William juga menjelaskan bahwa alasan lainnya pembangunan fase II MRT Jakarta ini sepenuhnya di bawah tanah karena terdapat kali dan sungai di sekitar kawasan Harmoni.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga membuka diri dan siap menerima terhadap seluruh pengaduan atau laporan dari PT MRT Jakarta dan pihak-pihak lainnya jika mendapatkan intervensi dalam pelaksanaan proyek fase II  MRT Jakarta Bundaran HI sampai dengan Kota tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA