Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Ahli: Tanjungpinang Lokasi Terbaik Amati Gerhana Matahari

Kamis 26 Des 2019 14:24 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga sekitaran Lembang mengamati gerhana matahari (ilustrasi)

Warga sekitaran Lembang mengamati gerhana matahari (ilustrasi)

Foto: Republika/Fauzi Ridwan
Peneliti Boscha menyebut kondisi bulan tepat berada di atas langit Tanjungpinang

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Evan Irawan Akbar, menyatakan Kota Tanjungpinang, Kepri menjadi tempat terbaik untuk mengamati gerhana matahari cincin pada Kamis (26/12). Dia memberi alasan, saat ini kondisi bulan sedang berada tepat di atas langit Tanjungpinang, sehingga bayangan gerhana matahari cincin tampak jelas di daerah itu.

"Meskipun bayangannya kecil sekali," kata Evan di lokasi pengamatan gerhana matahari cincin di Gedung Gonggong, Tanjungpinang, Kamis (26/12).

Dia katakan, jalur gerhana matahari cincin ini dimulai dari India, Aceh, Padang, Batam, Tanjungpinang, Kalimantan Utara, Tanjungpelor kemudian Samudra Pasifik. Khusus Tanjungpinang, gerhana matahari terjadi pada pukul 10.29 WIB sampai 14.30 WIB, tetapi puncak cincinnya pada pukul 12.24 WIB sampai 12.28 WIB.

Pihaknya sudah menyediakan alat teleskop, teropong bintang yang dipasang filter khusus matahari, dan kacamata matahari bagi warga yang ingin mengamati fenomena langka itu di halaman Gedung Gonggong. "Kalau di rumah tak ada peralatan itu, warga bisa menggunakan saringan santan atau kertas yang dilubangi dengan jarum," imbuhnya.

Ia turut mengimbau warga tidak melihat gerhana matahari cincin dalam kondisi mata telanjang, karena bisa menyebabkan gangguan pada penglihatan."Saat gerhana bulan menutup dan cahaya berkurang, maka otomatis lubang mata kita terbuka lebih besar dan cahaya masuk semakin banyak. Itu sangat berbahaya," ucapnya.

Pantauan di lapangan ratusan warga setempat tampak antusias ingin menyaksikan gerhana matahari menggunakan peralatan yang ada. Apalagi fenomena ini terakhir kali di Tanjungpinang sekitar 135 tahun yang lalu.

"Makanya sayang kalau dilewatkan, apalagi peralatan yang ada sangat memadai untuk melakukan pengamatan," kata Adi, seorang warga Tanjungpinang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA