Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Tempat Wisata Dunia yang Ditutup Akibat Peristiwa Alam

Rabu 25 Dec 2019 23:52 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas dari Paris Fire Brigade berusaha memadamkan api di Katedral Notre-Dame, Selasa (16/4). Gereja bersejarah berusia hampir 900 tahun itu terbakar pada Senin (15/4).

Petugas dari Paris Fire Brigade berusaha memadamkan api di Katedral Notre-Dame, Selasa (16/4). Gereja bersejarah berusia hampir 900 tahun itu terbakar pada Senin (15/4).

Foto: Benoit Moser, BSPP via AP
Salah satu tempat wisata yang kini ditutup adalah Katedral Notre-Dame di Paris.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Farah Noersativa

Baca Juga

Berlibur dan mengunjungi tempat-tempat wisata di dunia mungkin menjadi impian tersendiri. Sayangnya, ada beberapa tempat wisata di dunia yang sengaja ditutup, dan kebanyakan disebabkan karena terlalu banyak pengunjung yang mendatanginya.

Namun, ada pula beberapa tempat wisata di dunia yang pada akhirnya ditutup karena peristiwa alam seperti erosi, perubahan iklim, dan kebakaran. Dilansir di laman Insider, Rabu (25/12), berikut 10 tempat wisata dunia yang terkenal, yang pada akhirnya telah ditutup pada masa 2010-an.

1. Katedral Notre-Dame di Paris yang Kebakaran.

Gereja katredral Notre-Dame telah rusak karena dilalap api pada 15 April 2019 lalu. Sebelum terbakar, bangunan abad ke-12 ini sedang mengalami renovasi.

Renovasi itu ternyata memberikan potensi masalah. Karena kemungkinan api muncul dari peralatan yang digunakan selama renovasi.

Karena kebakaran besar yang menghancurkan bangunan itu, ini adalah pertama kalinya dalam 230 tahun katedral Notre-Dame tidak akan mengadakan kebaktian Natal.

2. Salah satu dari dua lengkungan alami di pantai Legzira di Maroko roboh pada September 2016

Pantai Legzira terletak di pantai Atlantik Maroko. Tepatnya di antara kota Mirleft dan Sidi Ifni.

Pantai itu dikenal dengan kedua lengkungan batu yang menakjubkan, yang terbentuk karena erosi tahun, menurut Atlas Obscura. Sementara pantai tetap berada, salah satu lengkungan itu runtuh pada September 2016 lalu. Diperkirakan lengkungan kedua juga akan jatuh dalam waktu dekat.

3. Sequoia "Tunnel Tree" yang roboh pada 2017 karena badai besar.

Pohon Sequoia, yang dikenal sebagai "Pioneer Cabin Tree", terletak di Californera Califoras Big Trees State Park. Pohon itu hancur rata dengan tanah pada Januari 2017, menyusul badai yang mencapai California dan Nevada.

Sebelum runtuhnya pohon unik itu, pengunjung ke taman bisa berjalan melalui ceruk terowongan seperti di bagian bawah pohon.

"Pohon itu adalah salah satu fitur paling populer dari State Park sejak akhir 1800an. Terowongan itu memiliki grafiti yang berkencan dengan tahun 1800an, ketika pengunjung didorong untuk mengetas nama mereka ke dalam kulit kayu," ujat seorang sukarelawan yang melaporkan runtuhnya pohon tersebut kepada San Fransisco Gate.

4. Jembatan "Love Lock" ikonik di Paris yang dipindahkan pada 2015.

Jembatan "Love Lock", yang dikenal sebagai Pont Des Arts, dulu adalah sebuah situs tradisi wisata. Di sana, pengunjung akan melampirkan kunci ke jembatan, lalu melempar kunci ke Sungai Seine.

Menurut BBC, pada 2015, para pejabat lokal memindahkan hampir satu juta kunci dari Jembatan Paris setelah sebagian dari itu roboh pada 2014 lalu.

"Mereka merusak estetika jembatan, secara struktural tidak semacam itu, dan bisa menyebabkan kecelakaan," ujar wakil walikota Paris, Bruno Julliard.

5. Situs Warisan Dunia UNESCO, Kastil Shuri Jepang yang terbakar api pada Oktober.

Pada 31 Oktober lalu, api menghancurkan sebagian besar Kastil Shuri, yang merupakan sebuah bangunan bersejarah di Naha, Okinawa, Jepang.

Kastil ini pada awalnya dibangun pada abad ke-14. Kastil ini pernah direkonstruksi sebanyak dua kali, yaitu pada 1945 dan 1992. Menurut BBC, kastil ini direncanakan akan berhenti di rute relay obor untuk 2020 Olimpiade di Tokyo, menurut BBC.

6. Lengkungan terkenal di Pulau Maltes Gozo, The Azure Malta, yang runtuh pada 2017.

The Azure Window adalah lengkungan alami setinggi 92 kaki yang roboh setelah rusak akibat badai pada Maret 2017. Tempat wisata ini pernah menjadi salah satu landmark wisata paling malta dan tampil di "Game of Thrones".

Pada 2018, seorang arsitek Rusia mengusulkan untuk mengubah The Azure. Dia mengusulkan adanya "Jantung Malta"  struktur baja tanpa cermin yang meniru bentuk lengkungan asli.

7. Wilayah Dolomites Italia yang berubah lanskap karena badai.

Wilayah Dolomites Italia merupakan sebuah daerah pegunungan di Italia yang memiliki lanskap cantik. Sayangnya, karena badai melanda wilayah itu pada November 2018, sekitar 14 juta pohon tumbang dan hutan pun rusak. Setidaknya ada sebanyak 17 orang meninggal akibat badai itu.

"Kita akan membutuhkan setidaknya satu abad untuk kembali normal," kata sebuah pernyataan dari Coldiretti yang merupakan sebuah asosiasi komunitas pertanian Italia, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diperoleh Reuters setelah badai.

8. Terumbu karang yang memutih di Pulau Christmas di Australia.

Peneliti University of Victoria mengatakan kepada CBC, hanya 5 persen terumbu karang di wilayah Pulau Christmas Australia yang bertahan pada 2015 dan 2016. Pada tahun itu, wilayah Australia mengalami  panas yang menyengat karena El Niño.

Meningkatnya suhu air menyebabkan terumbu karang menjadi memutih. Para peneliti menjelaskan kepada CBC, terumbu karang yang memutih memiliki arti terumbu itu sakit dan kehilangan warnanya.

"El Nino adalah periode pemanasan suhu permukaan laut yang dapat mempengaruhi pola cuaca, kondisi laut, dan perikanan laut di sebagian besar dunia untuk jangka waktu yang lama," ujar  Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional.

9. Lengkungan alami di Teluk Porthcothan di Cornwall, Inggris Raya, yang hancur akibat gelombang pasang dan angin kencang pada 2014

Pantai Teluk Porthcothan di Cornwall memang masih dapat dikunjungi. Akan tetapi wisatawan tidak lagi dapat melihat salah satu struktur batu alamnya yang khas. 

Lengkungan berabad-abad dihancurkan oleh gelombang 30 kaki dan angin 70 mph pada Januari 2014.

10. Situs wisata di Kepulauan Faroe, yang terletak antara Norwegia dan Islandia, ditutup pada April 2019 untuk semua orang kecuali relawan.

Kepulauan Faroe menutup 10 lokasi wisata populer dari semua orang. Hanya relawan saja yang bisa mengunjungi tempat itu. Menurut situs web Kepulauan Faroe, hal itu ditujukan untuk kembali ke dasar bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Sejak itu, lebih dari 5.500 orang mendaftar untuk membantu proyek sukarelawan kepulauan itu. Pada 2020, pulau-pulau tersebut berencana untuk ditutup, tepatnya pada 14 lokasi wisata selama April. Hal iyu ditujukan untuk fokus pada proyek sukarelawan tambahan, termasuk memperbaiki jalan setapak yang tererosi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA