Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Benarkah Makan Cabai Kurangi Risiko Stroke?

Rabu 25 Dec 2019 08:42 WIB

Rep: 127/ Red: Didi Purwadi

Cabai disebut bisa mengurangi risiko terkena stroke dan serangan jantung. (ilustrasi)

Cabai disebut bisa mengurangi risiko terkena stroke dan serangan jantung. (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Cabai disebut memiliki efek perlindungan bagi kesehatan tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut sebuah studi baru, Penne all'arrabbiata atau saus Arrabiata asal Roma ini memiliki banyak manfaat. Saus berbahan dasar tomat, cabai, bawang putih, dan minyak zaitun ini biasa dicampurkan dengan pasta.

Selama bertahun-tahun, cabai telah mendapat banyak pujian karena sifatnya yang ‘mengobati’. Sekarang, para peneliti juga telah menemukan fakta bahwa cabai dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Seperti dikutip dari CNN Health, penelitian ini dilakukan di Italia di mana orang-orang di sana menggunakan cabai sebagai bahan umum. Peneliti membandingkan risiko kematian dari 23.000 orang. Beberapa di antaranya memakan cabai dan sebagian lainnya tidak.

Kebiasaan makan dan kesehatan dari peserta itu dipantau selama delapan tahun. Kemudian, para peneliti menemukan risiko kematiaan karena serangan jantung dan stroke itu lebih rendah 40% pada mereka yang suka makan cabai setidaknya empat kali dalam seminggu.

Menurut hasil yang diterbitkan di Journal of American College of Cardiology, kematian akibat stroke lebih dari setengahnya. "Menariknya, pencegahan risiko kematian tidak bergantung pada jenis diet seseorang,” kata pemimpin penelitian, Marialaura Bonaccio, seorang ahli epidemiologi di Mediterranean Neurological Institute (Neuromed).

Bonaccio menambahkan, dengan kata lain seseorang masih dapat mengikuti diet Mediterania yang sehat dan makan sesuatu yang kurang sehat pula. Tetapi, bagi mereka semua, cabai memiliki efek perlindungan.

Penelitian ini menggunakan data dari studi Moli-Sani, yang memiliki sekitar 25.000 peserta di wilayah Molise, Italia selatan.

Licia Iacoviello, direktur departemen epidemiologi dan pencegahan di Neuromed dan seorang profesor di Universitas Insubria di Varese. menjelaskan bahwa khasiat cabai yang bermanfaat ini telah diturunkan melalui budaya makanan Italia.

"Dan sekarang, seperti yang sudah diamati di Cina dan di Amerika Serikat, kita tahu bahwa berbagai tanaman dari spesies capsicum, meskipun dikonsumsi dengan cara yang berbeda di seluruh dunia, dapat mengerahkan tindakan perlindungan terhadap kesehatan kita," kata Iacoviello.

Kini, tim peneliti berencana untuk menyelidiki mekanisme biokimia yang membuat cabai baik untuk kesehatan kita. Pakar luar memuji penelitian tersebut sambil menunjukkan beberapa keterbatasan dari hal tersebut.

Duane Mellor, ahli diet terdaftar dan rekan pengajar senior di Aston Medical School di Inggris, mengatakan makalah ini menarik. Tetapi, makalah tersebut tidak menunjukkan hubungan sebab akibat antara konsumsi cabai dan manfaat kesehatan.

Mellor mengatakan efek positif dari konsumsi cabai yang diamati dalam penelitian ini dapat dikaitkan dengan bagaimana paprika juga digunakan dalam diet yang dilakukan sebagian orang. “Masuk akal bagi orang yang suka cabai. Data juga menunjukkan bahwa pengguna rempah-rempah akan cenderung lebih banyak memakan makanan segar seperti sayuran,” tambah Mellor.

Jadi, meskipun cabai hanya menjadi makanan tambahan, ia akan memberikan efek lezat yang lebih pada makanan utama yang dicampurnya.

Ian Johnson, seorang peneliti nutrisi di Quadram Institute Bioscience di Norwich Inggris, memuji penelitian observasional berkualitas tinggi untuk sebuah metode yang kuat. Namun, ia juga menunjukkan bahwa tidak ada mekanisme untuk efek perlindungan yang diidentifikasi.

Para ilmuwan juga tidak menemukan bahwa makan lebih banyak cabai memberikan manfaat kesehatan tambahan. "Jenis hubungan ini menunjukkan bahwa cabai mungkin hanya berfungsi sebagai salah satu faktor diet atau gaya hidup lain yang belum diperhitungkan. Ketidakpastian ini memang biasa hadir dalam studi epidemiologi,” kata Johnson.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA