Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

BNPB: Kesadaran Kolektif Perlu Dibangun Antisipasi Bencana

Senin 23 Dec 2019 23:00 WIB

Red: Agung Sasongko

[Ilustrasi] Tingginya intensitas hujan di Yogyakarta menyebabkan bencana tanah longsor di Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Rabu (29/11). Petugas menggunakan alat berat guna membersihkan material lonsor yang menutup akses jalan di wilayah itu, Kamis (30/11).

[Ilustrasi] Tingginya intensitas hujan di Yogyakarta menyebabkan bencana tanah longsor di Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Rabu (29/11). Petugas menggunakan alat berat guna membersihkan material lonsor yang menutup akses jalan di wilayah itu, Kamis (30/11).

Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Persoalan bencana alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengharapkan kesadaran kolektif dari berbagai pihak harus dibangun untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam.

Kepala BNPB Doni Monardomengatakan persoalan bencana alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi merupakan tanggung jawab bersama termasuk masyarakat setempat.Ia menyampaikan itu saat rapat koordinasi membangun kesadaran masyarakat secara kolektif dalam pengurangan risiko bencana banjir dan banjir bandang serta peresmian shalter INA-TEWS dan Operasional Eews Provinsi Sumbar.

"Untuk itu kesadaran kolektif harus dibangun karena kita semua harus menjaga alam ini," ujar dia.

Ia juga berharap agar pemerintah daerah mendapat memberikan perhatian khusus untuk memberikan perlindungan ke beberapa wilayah yang rawan bencana.Kemudian menurutnya sumber kerusakan alam ini berasal dari dua bagian yakni dari kerusakan ekosistem dan pola perilaku manusia.

"Kerusakan alam ini juga disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri," katanya.

Sehingga untuk mencegah ulah para pelaku yang tidak bertanggung jawab tersebut tidak bisa jika hanya mengharapkan aparat penegak hukum saja karena akan mengalami kesulitan di lapangan."Sanksi penjara tidak mempan untuk mereka, setelah di penjara mereka pasti akan berbuat lagi," ujarnya.

Untuk itu dalam pengawasan tersebut ia menyarankan agar melibatkan tokoh masyarakat di Minangkabau yakni ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai."Dengan demikian kesadaran masyarakat akan muncul, jika kesadaran sudah muncul maka tidak akan ada lagi pelaku kerusakan yang kita temukan," katanya.

Ia juga berharap adanya kerja sama dan keberanian dari masyarakat untuk mengatakan ke pihak manapun yang melakukan kerusakan terhadap alam Minangkabau.Semoga Sumatera Barat mampu menjadi contoh bagi provinsi lain tentang potensi alam yang dimiliki, katanya."Karena berdasarkan falsafahnya alam takambang menjadi guru," ujarny

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA