Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Teladan Welas Asih Rasulullah untuk Penduduk Thaif

Senin 23 Dec 2019 16:55 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Muhammad Hafil

Puncak Thaif

Puncak Thaif

Foto: Republika/Nashih Nashrullah
Rasulullah SAW mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif yang telah menyakitinya.

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam sejarah Islam, kawasan Thaif banyak meninggalkan kenangan pahit bahkan bagi diri mulia Rasulullah Muhammad SAW. Sebelum menginjakkan kakinya di lembah subur dekat pegunungan Asir itu, beliau merasakan duka mendalam lantaran ditinggal wafat dua penyokongnya, sang paman Abu Thalib dan istri tercinta, Khadijah.

Orang-orang musyrik Quraisy merasa kian kuat karena kini para pelindung Muhammad SAW itu telah tiada. Makkah sudah seperti tanah berduri bagi Rasulullah SAW. Kaum kafir makin berani merundung dan bahkan menganiaya para pengikut risalah tauhid.

Di tanah kelahirannya itu, Nabi SAW merasa seperti orang asing. Suatu kali, beliau pulang ke rumah dalam ke adaan sekujur tubuhnya penuh lumuran tanah kotor. Seseorang telah melempari Rasulullah SAW dengan bertubi-tubi. Fatimah az-Zahra yang menyaksikan ayahnya dalam keadaan demikian berlinang air mata. Putri Rasul SAW itu pun membersihkan kotoran dari tubuh sang ayah.

Dengan sabar, Nabi SAW menghibur hatinya, Jangan menangis, anakku, Tuhan akan melindungi ayah mu! Ujian yang datang dari kaum kafir terus berlangsung. Maka dari itu, Nabi SAW mulai berupaya menyebarkan dakwah di daerah lain. Dengan ditemani Zaid bin Haritsah, beliau memutuskan pergi ke Thaif. Kota itu terletak sekitar 80 kilometer arah selatan Mak kah.

Di sana, Nabi SAW bermaksud men dapatkan dukungan dan perlindungan dari Bani Tsaqif, suku setempat yang paling dominan. Thaif waktu itu dipandang sebagai zona damai dengan penduduknya yang cenderung terbuka. Ha rapan beliau, terbukalah wilayah dak wah baru yang damai, tanpa kek erasan.

Misi Nabi SAW ternyata tidak berhasil. Penguasa Bani Tsaqif menolak kedatangan beliau. Kabilah itu dipimpin tiga orang bersaudara. Seharusnya, secara etika mereka menerima Rasul SAW dengan baik. Selayaknya tuan rumah menghargai tamunya. Namun, mereka dengan terus terang mengatakan, tidak senang dengan Rasul SAW dan kaum Mus limin yang saat itu jumlahnya masih belum seberapa.

Bahkan, salah satu dari mereka menghina beliau, Apa kah Tuhan tidak menemukan orang selain dirimu untuk menjadi utusan-Nya? Menyadari upayanya tak berhasil, Rasulullah SAW kemudian meninggalkan ruangan itu.

Namun, di jalan penduduk Thaif seperti bersiap-siap menyerang beliau. Rupaya, mereka ingin Nabi SAW pulang tidak dalam keadaan selamat. Perlakuan mereka begitu kasar. Kata-kata kotor keluar dari lisan puluhan warga Thaif. Segerombolan orang bahkan melempari Nabi SAW dengan batu dan tanah.

Rasulullah SAW pun terluka cukup parah. Dengan sisa kekuatan yang ada, beliau tetap melangkahkan kaki menuju Makkah. Namun, langkah kaki beliau tertatih-tatih, menahan setiap serangan membabi buta yang datang dari masyarakat Thaif. Sampai di perbatasan kota, amuk mereka mulai mereda.

Nabi SAW dan pendampingnya begitu lelah. De ngan tubuh penuh lukaterutama pada kaki mereka tetap melanjutkan per jalanan. Sementara, di langit para ma laikat menyaksikan pemandangan me milukan ini. Allah SWT mengutus mere ka agar menemui sang Khatamul Anbi ya.

Doa Nabi

Merasa situasi cukup aman, Rasulullah SAW pun menghentikan langkahnya. Beliau menambatkan untanya, kemudian menundukkan wajahnya. Ada perasaan haru di dalam dadanya. Kemudian, Nabi SAW memanjatkan doa. Allahuma Ya Allah. Kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia.

Wahai Tuhan Yang Maha Penya yang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku? Atau kepa da musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli.

Sebab, sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada ca haya wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat, (aku berlindung) dari kemurkaan-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya dan upaya melainkan dengan kehendak-Mu.

Sesaat kemudian, malaikat Jibril turun dan menghampiri Rasulullah SAW. Jibril berkata, Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini (penduduk Thaif). Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gu nunggunung untuk menaati perin tah mu.

Para malaikat penjaga gunung yang mengiringi Jibril lantas menyahut, Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaum mu itu (penduduk Thaif) kepadamu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabbmu telah mengutusku kepadamu, untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan dan menjatuhkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.

Apa jawaban Rasul SAW? Dalam kondisi yang amat memilukan itu, Nabi SAW dengan lembut berkata kepada mereka, Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.

Tak hanya itu, Nabi SAW kemudian mengangkat tangannya seraya berdoa, Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Tidak ada dendam terbersit sedikit pun dalam hati Rasulullah SAW.

Beliau tetap bersabar dalam situasi yang sulit, meskipun sesungguhnya memiliki kesem patan untuk menimpakan kesulitan yang sama bagi mereka yang memusuhinya. Malahan, dari lisan mulianya terucap kata-kata doa yang indah.

Tempat Rasulullah SAW beristirahat sehabis dikejar-kejar penduduk Thaif ialah suatu kebun kurma. Lahan perkebun an itu milik kedua anak Rabi'ah, Utbah dan Syaibah. Nabi SAW merasa enggan menemui keduanya. Mungkin karena lelah, masih merasakan sakit dari lukaluka akibat serangan pendu duk Thaif.

Namun, Utbah dan Syaibah ternyata merasa iba kepada tamu di kebunnya itu. Keduanya lantas mengirimkan budaknya kepada Rasul SAW dan pendampingnya yang sedang berteduh di bawah pohon kurma. Budak itu bernama Addas. Tangannya membawa beberapa anggur dan kurma untuk disuguhkan kepada beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Sesampainya di sana, Addas memberikan amanat tuannya itu kepada beliau. Setelah mengucapkan terima kasih, Rasulullah SAW bersiap memakan sajian itu dengan terlebih dahulu mengucapkan bismillah.

Mendengar kata-kata itu, Addas tampak terkejut. Kepada Nabi SAW, dia mengatakan, belum pernah ada penduduk Thaif dan sekitarnya yang pernah mengucapkan kalimat demikian. Siapa namamu? tanya Nabi SAW. Addas.

Di mana negeri asalmu? Saya dari Niniveh, jawab Addas. Kota nabi yang saleh, Yunus bin Matta, ujar Rasul SAW. Kali ini, jantung Addas seperti terguncang. Bagaimana bisa tamu misterius ini mengetahui soal Nabi Yunus? Dia adalah saudaraku. Dia itu seorang nabi yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada kaum di sana. Aku pun seorang nabi, kata Rasulullah SAW.

Setelah itu, beliau menjelaskan tentang kisah Nabi Yunus secara lengkap. Addas mendengarnya dengan mata penuh haru. Sesudah itu, budak tersebut se ketika menundukkan badannya, lalu men cium tangan dan kedua kaki Rasul SAW.

Dari kejauhan, rupanya Utbah dan Syaibah menyaksikan perilaku budak mereka itu. Mereka lantas berteriak, memanggil Addas pulang. Mengapa kamu berbuat demikian, mencium kaki orang itu? tanya Utbah kepada Addas setengah membentak.

Lelaki itu merupakan manusia terbaik di bumi ini. Dia mengisahkan kepadaku tentang seorang nabi yang diutus kepada kaum kami. Dia menceritakan kisah yang hanya diketahui oleh seorang nabi, jawab Addas. Siapa yang kau maksud? Yunus bin Matta, kata dia. Lantas?

Lelaki itu juga mengatakan, dia pun seorang nabi yang diutus oleh Allah, ujar budak tersebut, berterusterang. Bukankah kamu seorang penganut Kristen? tanya Utbah lagi. Benar.

Tetaplah kamu dalam agama Kristen! Jangan mau tertipu oleh perkataan lelaki tadi, jawab Utbah ketus. Menyadari Addas tak kembali, Rasul SAW dan pendampingnya lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Selain kisah penganiayaan yang dialami Rasulullah SAW pada masa awal dakwah Islam, di Thaif juga terjadi pertem puran dahsyat pasca perang Hunain. Pertempuran Hunain adalah pertempuran antara pihak Rasulullah dan para sahabatnya di satu pihak, dengan kaum ba dui dari suku Hawazin dan Tsaqif di pi hak lain pada tahun kedelapan pascahijrah.

Akhirnya, pertempuran pun terjadi dengan sangat sengit. Kaum Tsaqif meng gunakan berbagai cara untuk mela kukan perlawanan. Meskipun akhirnya pasukan Muslimin berhasil menguasai Kota Thaif, jumlah korban di pihak pasukan Muslimin pun cukup besar.

Jumlah sahabat Rasulullah SAW yang gugur sebagai syuhada mencapai 12 orang. Mereka terdiri atas tujuh orang dari kaum Muhajirin dan empat orang dari kaum Anshar. Seorang lagi berasal dari Bani Laits.  

Baca Juga

sumber : Islam Digest/Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA