Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Tito Bantah Orang yang Memperingati Hari Ibu Harus Bertobat

Senin 23 Dec 2019 15:07 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Dalam Negeri Jenderal (Pol) Tito Karnavian

Menteri Dalam Negeri Jenderal (Pol) Tito Karnavian

Foto: Republika/Prayogi
Tito tegaskan Hari Ibu di Indonesia bukan peringatan religius.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan hari ibu di Indonesia bukan peringatan religius. Hari ibu Indonesia juga bukan peringatan personal seperti kematian ibu Anna Jarvis, Ann Jarvis.

"Hari ibu Indonesia tanggal 22 Desember tidak diperingati seperti mothering sunday di negara lain. Ini versi kita sendiri," ujar Tito usai menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan (DWP) di Gedung Kementerian Dalam Negeri Jakarta, Senin.

Baca Juga

Di Indonesia, hari ibu diperingati untuk mengenang kongres perempuan pertama tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Tito menyebut Kongres Perempuan itu diikuti lebih kurang 30 organisasi kemasyarakatan wanita, termasuk dari Aisyiyah dan lain-lain melibatkan perempuan dari berbagai macam latar belakang suku, agama, pekerjaan, juga usia.

Kongres perempuan itu dilakukan dalam rangka mewujudkan spirit kemerdekaan. Sebelumnya juga ada gerakan sumpah pemuda, yang dilakukan 28 Oktober 1928. "Kurang dari dua bulan kemudian, perempuan Indonesia pun membuat gerakan dengan melaksanakan kongres perempuan pertama," ujar Tito.

photo
Sejumlah peserta upacara bendera mengenakan pakaian adat Lampung dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-91 di Bandar Lampung, Lampung, Senin (23/12/2019).



Pembicaraan kongres perempuan saat itu mengarah ke perjuangan kemerdekaan dengan mengedepankan emansipasi perempuan, supaya memperluas peran para ibu dalam rangka kehidupan masyarakat selain dari masalah rumah tangga.
"Jadi faktor sejarah (hari ibu) ini bagian tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dan misi kemerdekaan saat ini," ujar Tito.

Karena itulah, Presiden Soekarno kemudian menetapkan melalui Keputusan Presiden tahun 1959 agar hari ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Di tempat lain, Tito mengatakan rata-rata peringatan hari ibu ada pada Maret atau Mei. Karena itu ia tidak melihat ada hubungannya hari ibu dengan Mothering Sunday.

"Saya lihat ada viral di media sosial yang mengatakan peringatan Hari Ibu itu berdosa untuk diperingati karena itu dibuat oleh orang kafir maka harus bertaubat. Betul enggak? Ada yang nonton?” kata Tito dalam sambutannya di depan ibu Dharma Wanita Persatuan.

Menurut Tito, pihak yang menyampaikan isi video tersebut tidak memahami sejarah. Tito menjelaskan peringatan hari Ibu di negara lain yang memiliki sejarah berbeda dengan Indonesia.

Hari ibu Internasional (mother’s day international) disebutnya berawal di Yunani dan Inggris untuk menghormati para ibu.

Mulai dari Yunani pertama kali, ribuan tahun yang lalu. Lalu di Inggris, yang identik dengan kegiatan religius. Kemudian mulai mengglobal ketika seorang tokoh di Amerika Serikat, Anna Jarvis, tahun 1908 dalam rangka mengenang hari wafat ibunya, Ann Jarvis.

"Mother’s day international itu berbeda-beda di setiap negara. Jadi ada yang alasan religius di tempat lain, tapi ada juga yang personal. Tapi Hari Ibu (Indonesia) adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia, ini berbeda dengan mother’s day international," kata Tito,

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA