Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Setahun Tsunami Banten, Korban Tagih Janji Hunian Tetap

Senin 23 Dec 2019 07:03 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Christiyaningsih

Kondisi hunian sementara (huntara) Kaliri (56 tahun) salah seorang korban bencana tsunami Selat Sunda yang mengungsi di Labuan, Pandeglang, Banten, Ahad (22/12). Kaliri tinggal bersama sembilan orang anaknya di ruangan yang hanya seluas 3x6 meter. Para pengungsi menagih janji hunian tetap.

Kondisi hunian sementara (huntara) Kaliri (56 tahun) salah seorang korban bencana tsunami Selat Sunda yang mengungsi di Labuan, Pandeglang, Banten, Ahad (22/12). Kaliri tinggal bersama sembilan orang anaknya di ruangan yang hanya seluas 3x6 meter. Para pengungsi menagih janji hunian tetap.

Foto: Republika/Alkhaledi Kurnialam
Para korban tsunami Banten setahun silam masih tinggal di hunian sementara

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Tsunami di Banten yang terjadi setahun silam masih menyisakan persoalan. Para korban tsunami yang mengungsi ke fasilitas hunian sementara (huntara) di Labuan, Pandeglang, Banten meminta segera dipindahkan ke hunian tetap yang dijanjikan pemerintah.

Ukuran huntara dikeluhkan sangat sempit. Apalagi lokasinya yang jauh dengan keramaian membuat para pengungsi kesulitan untuk mengais nafkah.

"Inginnya cepat bisa dipindahkan ke huntap, paling terasa itu di sini jauh dari pantai kalau buat usaha. Sebelum tsunami saya bisa dagang pepes ke pengunjung pantai, sekarang tidak bisa. Hanya mengandalkan penghasilan suami saja yang kerja di laut. Suami juga kadang dapat kadang nggak,"jelas salah seorang pengungsi di Huntara Labuan bernama Maryanah, Ahad (22/12).

Masalah nafkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari disebutnya jadi masalah terbesar yang mendera dirinya dan 130 pengungsi lain di Huntara Labuan. Saat ini tidak ada lagi bantuan yang disalurkan pemerintah kepada para pengungsi sementara penghasilan mereka hingga kini belum menentu.

"Habis semua kan yang kita punya waktu tsunami itu, nggak ada sisa. Cuma pakaian yang menempel di badan saja. Padahal masih ada anak yang harus sekolah. Anak yang paling besar juga sekarang tidak lanjut sekolah SMA lagi karena tidak ada biaya," ujarnya.

Janji fasilitas huntap yang akan lebih besar ukurannya dari huntara disebutnya juga jadi alasan keinginan untuk pindah. Hunian sementara yang hanya berukuran 3x6 meter untuk tempat tidur empat orang anggota keluarganya dirasa terlalu sesak. "Hanya satu ruangan. Numplek semua jadi satu," keluhnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA