Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Indonesia Industri Pengolah untuk Diversifikasi Pangan Lokal

Ahad 22 Dec 2019 20:12 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Dwi Murdaningsih

Perlu ada inovasi agar pangan lokal bisa diolah menjadi makanan sehat dan menarik. Foto: Mi ayam

Perlu ada inovasi agar pangan lokal bisa diolah menjadi makanan sehat dan menarik. Foto: Mi ayam

Foto: Republika TV/Edry Nashrul
Perlu ada inovasi agar pangan lokal bisa diolah menjadi makanan sehat dan menarik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keinginan pemerintah untuk melakukan diversifikasi pangan lokal agar tak bergantung sepenuhnya kepada beras menemui hambatan. Sebab, pangan lokal belum mampu diolah secara baik menjadi makanan jadi yang bisa digemari generasi muda.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Arifin Rudiyanto menuturkan, perlu ada inovasi agar pangan lokal bisa diolah menjadi makanan yang lebih sehat dan menarik. Setidaknya, bisa setara dengan kepopuleran roti dan mie yang berbahan baku gandum.

"Tidak hanya produksi tapi bagaimana mengubah pangan lokal jadi lebih menarik dan higienis. Itu yang saya upayakan," kata Arifin, akhir pekan lalu.

Selain olahan dan pengemasan, Arifin menilai bahwa generasi muda saati ni lebih peduli pada gizi. Karena itu, perlu ada pengembangan yang benar-benar tepat untuk bisa mendorong diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal.

Ia pun menyebut, fokus pemerintah ke depan bukan lagi hanya Padi, Jagung, Kedelai (Pajale) seperti yang lima tahun terakhir begitu masif dibenahi. "Ada sagu yang potensial di Papua, Kalimantan, dan Riau. Sagu juga bisa dibuat mie dan rasanya tidak kalah. Hal seperti ini yang perlu disesuaikan," katanya.

Arifin pun menyampaikan, dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah sudah mengatur detail Pola Pangan Harapan yang menjadi basis kebijakan untuk menentukan target konsumsi karbohidrat dan protein. Kontribus beras terhadap total konsumsi karbohidrat, kata dia, setidaknya harus terus turun dari saat ini sekitar 85 persen.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) dalam keterangan yang dikutip Republika.co.id menyatakan telah mengembangan beberapa program unggulan seperti Kawasan Rumah Pangan Lestari, Kawasan Mandiri Pangan, Gerakan Diversifikasi Konsumsi Pangan, serta upaya untuk perbaikan gizi dari rumah tangga.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Agung Hendriadi menuturkan, pihaknya juga mendorong pemerintah daerah untuk memperhatikan betul potensi sumber pangan lokal. Edukasi masyarakat untuk mengubah pola konsumsinya bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat butuh peran pemimpin daerah.

Pangan lokal seperti sagu, sukun, umbian, jagung juga memiliki kandungan gizi yang setara dengan beras. Saat ini, kata Agung, beras masih mendominasi porsi konsumsi hingga 60 persen, padahal idealnya maksimal 50 persen.

Data BKP Kementan menyebutkan, pada era 1950-an pemenuhan pangan pokok dari beras hanya mencapai 53,5 persen terhadap konsumsi nasional. Selebihnya, dipenuhi oleh ubi kayu sekitar 22,2 persen, jagung 18,9 persen, dan kentang 4,99 persen. Namun, saat ini beras menjadi kebutuhan pokok dan membuat konsumsi selain beras hampir hilang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA