Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Rusia dan Cina Tolak Lanjutkan Bantuan untuk Suriah

Ahad 22 Dec 2019 06:52 WIB

Red: Budi Raharjo

Anak Suriah di pengungsian

Anak Suriah di pengungsian

Foto: istimewa
Empat juta warga Suriah secara langsung dapat manfaat pengiriman bantuan lintas batas

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Rusia dan Cina telah memblokir keputusan Dewan Keamanan Perserikat Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk memperpanjang bantuan kemanusiaan lintas batas kepada 4 juta warga Suriah dalam setahun mendatang. Aliran bantuan kemanusian yang telah berjalan akan berakhir pada 10 Januari 2020.

Resolusi yang diveto Rusia dan Cina menyerukan perpanjangan satu tahun dari otorisasi untuk mengirim pasokan bantuan kemanusiaan ke Suriah yang berlaku sejak 2014. Jerman, Belgia, dan Kuwait mengajukan resolusi yang memperpanjang kewenangan itu selama setahun dengan membuka pos tambahan. Suara mayoritas dengan 13 suara memutuskan untuk melanjutkan pembukaan pos bantuan untuk Suriah.

Bantuan kemanusiaan saat ini mengalir ke Suriah melalui pos pemeriksaan yang ditunjuk DK PBB tanpa izin resmi dari Pemerintah Damaskus. Pos penyaluran DK PBB melalui Turki, Irak, dan Yordania yang tidak terlalu aktif sejak 2018.

Sedangkan awal pekan ini, Rusia menawarkan rancangan resolusi saingan yang menyerukan perpanjangan enam bulan, tetapi hanya melalui dua pos pemeriksaan Turki, menghilangkan pos Irak dan Yordania. Namun, ajuan itu ditolak pada Jumat (20/12). Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, Polandia, Peru, dan Republik Dominika memilih menentang, sedangkan Jerman, Belgia, Kuwait dan Indonesia abstain.

"Jika Anda begitu khawatir tentang Suriah, lalu mengapa Anda tidak memilih mendukung rancangan Rusia?" kata Duta Besar Cina untuk PBB Zhang Jun.

Namun, Duta Besar Inggris untuk PBB Karen Pierce mengatakan, veto menunjukkan keengganan untuk membantu warga Suriah. "Ada waktu untuk menyelesaikannya jika semua orang mau melakukannya," katanya.

Baca Juga

photo
Pengungsi Suriah.



Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan, resolusi terbaru yang disepakati telah usang. Karena pihak berwenang di Damaskus telah merebut kembali kendali sebagian besar wilayah Suriah.

Rusia adalah sekutu dekat dan pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad. Moskow pun telah menggunakan veto 14 kali pada isu-isu Suriah sejak dimulainya perang saudara di negara itu pada 2011.

Namun, departemen bantuan kemanusiaan PBB mengatakan, bantuan itu tetap penting. Hal ini mengingat situasi di lapangan telah memburuk selama setahun terakhir dan Suriah menuju musim dingin.

Sebanyak 4 juta warga Suriah secara langsung mendapat manfaat dari pengiriman bantuan lintas batas. Sementara 11 juta mendapat manfaat dari bantuan internasional setelah delapan tahun perang.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Kelly Craft mengaku terkejut setelah veto. "Hari ini kami mengambil langkah besar mundur dalam kredibilitas di mana itu benar-benar penting. Saya sangat dan sangat kecewa dengan hasil pertemuan hari ini," kata Craft.

Sedangkan perwakilan tetap Prancis Anne Gueguen menyebut veto yang dilakukan Rusia sebagai tindakan tidak bertanggung jawab. Dia menyatakan, tidak ada alternatif lain untuk memberikan bantuan melintasi perbatasan Suriah.

Resolusi terbaru gagal ketika puluhan ribu warga sipil melarikan diri dari wilayah barat laut Idlib. Kondisi ini terjadi karena pemboman besar-besaran oleh pemerintahan Assad, yang didukung Rusia, di benteng terakhir oposisi milisi ISIS. N dwina agustin, ed: setyanavidita livikacansera

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA