Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Studi: Teh Hijau Mengandung Senyawa yang Bisa Obati TB

Jumat 20 Dec 2019 08:59 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Teh hijau (Ilustrasi). Sebuah studi dari Nanyang Technology University (NTU) Singapura menemukan bahwa antioksidan yang terdapat pada teh hijau dapat membantu penyembuhan tuberkulosis (TB).

Teh hijau (Ilustrasi). Sebuah studi dari Nanyang Technology University (NTU) Singapura menemukan bahwa antioksidan yang terdapat pada teh hijau dapat membantu penyembuhan tuberkulosis (TB).

Foto: Needpix
Peneliti menemukan bahwa senyawa dalam teh hijau berpotensi melawan bakteri TB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi dari Nanyang Technology University (NTU) Singapura menemukan bahwa antioksidan yang terdapat pada teh hijau dapat membantu penyembuhan tuberkulosis (TB). Melalui penelitian laboratorium, tim menemukan senyawa yang dikenal sebagai epigallocatechin gallate (EGCG) dapat menghambat pertumbuhan strain bakteri penyebab TB.

"Penemuan kami tentang kemampuan EGCG untuk menghambat pertumbuhan M. tuberculosis sangat menjanjikan. Kami melihat bagaimana senyawa ini dapat dikembangkan menjadi obat baru untuk mengatasi penyakit TB yang ditularkan melalui udara ini," kata ketua peneliti studi Prof Gerhard Gruber dilansir laman Times Now News.

Menurut para peneliti, sel bakteri membutuhkan energi untuk melakukan proses vital, seperti pembentukan dinding sel. Sel itu mendapatkan energinya dari molekul penyimpan energi yang dibuat oleh enzim yang disebut Adenosine triphosphate (ATP) synthase. Tanpa energi untuk aktivitas seluler esensial, sel bisa kehilangan stabilitasnya dan akhirnya mati.

Untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ATP synthase, tim kemudian mempelajari mycobacterium smegmatis dan mycobacterium bovis, yang keduanya masih satu keluarga dengan bakteri M. tuberculosis. Strain mikobakteri ini memiliki komposisi struktur yang sama.

Tim pertama kali menemukan bahwa perubahan pada kode genetik ATP synthase bisa membuat enzim penyimpanan energi dalam sel bakteri berkurang. Selain itu, pertumbuhan sel juga menjadi lebih lambat dan bentuk koloninya berubah.

Dengan data ini, para ilmuwan melakukan skrining dan menggunakan 20 senyawa yang mungkin dapat mengikat ATP synthase atau menyebabkan efek pemblokiran. Namun, hasilnya hanya EGCG yang bisa mengurangi molekul penyimpanan energi dalam sel bakteri.

Saat ini, tim peneliti sedang berupaya mengoptimalkan aktivitas EGCG untuk meningkatkan efisiensi dan potensi dalam memerangi bakteri tuberkulosis. Tujuan utama peneliti adalah mengembangkan koktail obat yang akan mengatasi bakteri tuberkulosis yang kebal dan resisten obat. Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports ini dapat membuka jalan bagi pembuatan obat baru untuk memerangi TB, salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA