Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Ibu Ramah Anak

Kamis 19 Dec 2019 22:03 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Bayi mengenggam jari Ibunya (Ilustrasi)

Bayi mengenggam jari Ibunya (Ilustrasi)

Foto: Youtube
Naluri keibuan seharusnya mengantarkan perempuan memiliki kasih sayang dan kepekaan.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sangat miris. Beberapa bulan terakhir pada tahun 2019 ini terdapat kejadian tak beradab oleh seorang ibu kepada anaknya.

Sebagaimana dilansir sejumlah media, pada bulan November seorang ibu di Tasikmalaya yang tega mengubur bayi perempuan yang baru dilahirkannya. Bulan Oktober, ada seorang ibu yang tega membunuh balitanya (2,5 tahun) dengan cara menggelonggongnya dengan air galon. Juga di bulan September, ada seorang ibu di Kupang yang megambil jiwa anaknya dengan senjata tajam. Menurut pengakuannya, ia melakukan hal tersebut karena dendam kepada suaminya yang kerap menganiaya dirinya.

Dari beberapa kejadian tersebut, seperti terlihat tercerabutnya naluri keibuan mereka. Naluri yang seharusnya mengantarkan perempuan memiliki rasa kasih sayang dan kepekaan tinggi kepada anak-anaknya.

Fitrah penciptaan perempuan dari segi fisik dan psikis mendukung fungsi dan perannya sebagai seorang ibu. Dari segi fisik termasuk fisiologis, Allah telah memberikan kemampuan untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui bagi seorang perempuan.

Dari segi psikis, Allah telah memberikan kelebihan kepada wanita berupa rasa empati dan kasih sayang yang lebih tinggi dibandingkan kaum lelaki. Perempuan akan peka saat bayinya merasa lapar atau saat bayinya gelisah karena sakit. Hanya dari suara tangis bayi, seorang perempuan mampu memenuhi kebutuhan bayinya dengan baik.

Kedua potensi kemampuan perempuan tersebut tercakup di dalam pesan Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan agar kaum lelaki menikahi perempuan yang penyayang dan subur. Secara khusus, alasan mempunyai anak adalah menjadi ladang pahala bagi kedua orang tuanya saat berjuang membentuk anak yang saleh. Di samping Nabi sendiri juga senang dengan banyaknya jumlah umatnya.

Lalu timbul sebuah tanya. Bagaimanak untuk mencetak perempuan-perempuan yang siap menjalankan fungsi dan perannya sebagai ibu yang baik? Atau dengan kata lain, bagaimana agar kita bisa mencetak sosok ibu yang ramah anak?

Mengingat manusia itu selain sebagai individu, juga sebagai makhluk sosial. Tentunya mencetak ibu ramah anak mesti dilakukan pada ranah individu, bermasyarakat, dan bernegara.

Dalam ranah individu, seorang perempuan harus menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal pengetahuan dan keterampilan sebagai seorang perempuan, khususnya sebagai bekal menjadi perempuan dewasa. Pengetahuan mengenai kewajibannya mengandung, melahirkan, menyusui, haid, nifas, dan parenting (pengasuhan).

Sedangkan dari aspek keterampilan seperti mencuci, menjahit, memasak, dan merawat bayi. Kedua aspek tersebut menjadi keharusan bagi seorang perempuan untuk mempelajarinya. Dan landasan keimanan mesti menjadi asas bagi perempuan dalam hal ini. Artinya, niat ibadah ingin meraih ridha Allah yang menjadi acuannya.

Dalam ranah bermasyarakat juga mendukung terwujudnya ibu ramah anak. Masyarakat di sini adalah lingkungan sekolah, organisasi kemasyarakatan, keluarga, dan lingkungan masyarakat yang ia tinggal di dalamnya. Perlakuan masyarakat memperhatikan sifat feminim yang dimiliki oleh perempuan.

Masyarakat menjaga agar perempuan tidak keluar dari rumah tanpa seizin wali atau suaminya. Begitu juga kumpulan perempuan disendirikan dari kumpulan lelaki, mencegah dari terjadinya berdua-duaan antara lelaki dengan perempuan, permainan perempuan dibedakan dengan lelaki, perempuan tidak melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahromnya dari bapak, saudara laki-laki kandungnya dan atau dengan pamannya, serta hal-hal lainnya.

Demikianlah bentuk peran kontrol dari masyarakat. Adapun peran negara meliputi aktivitas edukasi dan regulasi. Edukasi dari pemerintah berupa program kurikulum pendidikan yang mampu mewujudkan masyarakatnya yang bertakwa. Pada konteks perempuan menjadi ibu ramah anak.

Penyiapan perempuan sebagai ibu terintegrasi di dalam proses kurikulum pendidikan yang berkelanjutan. Tidak cukup edukasi diberikan di saat menjelang pernikahan.

Di samping itu, pemerintah membuat regulasi yang tegas terkait relasi antara lelaki dan perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan berkeluarga. Pembagian peran dan tugas antara lelaki dan perempuan serta sangsi atas pelanggaran terhadapnya.

Pemerintah membuka kesempatan kerja yang seluas-luasnya bagi lelaki sebagai kepala keluarganya. Bagi kepala keluarga yang memiliki keterbatasan fisik, pemerintah melalui mekanisme nonekonomi memberikan bantuan agar kebutuhan pokok dan pelengkap masyarakatnya terurus dengan baik. Selain itu, pemerintah membuka kran sosial untuk saling membantu dari yang kaya kepada yang miskin.

Pendek kata, sistem sosial dan kemasyarakat yang mesti dibentuk adalah tidak berorientasi kepada materi kebendaan, untung rugi. Artinya, kapitalisme telah menjadikan manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya yang lemah. Hal demikian menjadi gap antara yang kaya dan yang miskin.

Keluarga yang miskin rentan terpapar kekufuran. Sebagai bentuk kekufurannya adalah adanya fenomena KDRT dan perceraian.

Walhasil sistem sosial dan kemasyarakatan yang menjadikan aturan dari Yang Maha Adil yakni Islam sebagai guidence tentunya menjadi sebuah kebutuhan guna terwujud keberkahan. Sebuah keberkahan yang dirasakan secara umum dalam kehidupan bernegara. Juga keberkahan yang secara khusus terwujud dalam kehidupan individu dan dalam berkeluarga.

*Penulis: Ainul Mizan, penulis tinggal di Malang

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA