Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Skotlandia Ingin Merdeka dari Inggris Lewat Referendum

Kamis 19 Dec 2019 20:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Bendera Skotlandia

Bendera Skotlandia

Foto: REUTERS/Carlo Allegri
Menteri Pertama Skotlandia akan bernegosiasi referendum kemerdekaan dari Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, EDINBURGH -- Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon berusaha untuk menggelar referendum kemerdekaan dari Inggris. Dia mengatakan akan menulis surat kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk menegosiasikan hal tersebut.

Baca Juga

Sturgeon merupakan pemimpin partai Scottish National Party (SNP) yang pro-kemerdekaan dan anti-Brexit. Pada pemilu Inggris pekan lalu, SNP memenangkan 48 dari 59 kursi parlemen Skotlandia. Sturgeon menilai hasil pemilu menunjukkan dukungan besar bagi agendanya untuk mengadakan referendum kemerdekaan.

Namun, referendum semacam itu memang tak dapat terjadi tanpa persetujuan Pemerintah Inggris. "Pertanyaan yang sering diajukan kepada saya, 'apa yang akan Anda lakukan Boris Johnson mengatakan tidak?' Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan mempertimbangkan semua opsi yang masuk akal untuk mengamankan hak Skotlandia untuk menentukan nasib sendiri," kata Sturgeon dalam pidato pada Kamis (19/12).

Dia mengaku tak membayangkan penyelenggaraan referendum kemerdekaan seperti Katalunya di Spanyol. Sebab, referendum tersebut diselenggarakan tanpa persetujuan atau pengakuan dari pemerintah nasional.

"Sejalan dengan nilai-nilai kami, kami mengakui bahwa referendum harus legal dan harus diterima secara sah di sini, di Skotlandia dan seluruh Inggris, serta Uni Eropa dan komunitas internasional yang lebih luas," ujar Sturgeon.

Skotlandia sebenarnya telah menggelar referendum kemerdekaan pada 2014. Saat itu sebanyak 55 persen warga di sana menolak hal tersebut. Sturgeon mengatakan keadaan telah berubah sejak pemungutan suara 2014, terutama karena mayoritas masyarakat Skotlandia memilih untuk tetap berada di Uni Eropa dalam referendum Brexit tahun 2016. Sementara Inggris, secara keseluruhan, memilih untuk hengkang dari Uni Eropa.

Pemerintah Inggris telah menolak usulan referendum kemerdekaan Skotlandia. Hal tersebut dinilai dapat menjadi gangguan yang merusak. "Ini akan merusak hasil yang menentukan dari referendum 2014 dan janji yang dibuat kepada rakyat Skotlandia bahwa itu adalah pemungutan suara sekali dalam generasi," kata Pemerintah Inggris dalam sebuah pernyataan.

Namun, Sturgeon tetap berkukuh untuk mengupayakan penyelenggaraan referendum. "Semakin pemerintah Tory (Konservatif) berusaha untuk memblokir kemauan rakyat Skotlandia, semakin mereka menunjukkan penghinaan total terhadap demokrasi Skotlandia, semakin banyak dukungan untuk kemerdekaan, sehingga strategi jangka pendek mereka, dalam pandangan saya, menabur benih kekalahan jangka panjang mereka," ujarnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA