Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Riset 13 Tahun, Ilmuwan Berhasil Tentukan Usia Homo Erectus

Kamis 19 Dec 2019 12:06 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Foto yang diambil tahun 2010 saat eskavasi fosil Homo Erectus di Ngandang, Jawa, Indonesia.

Foto yang diambil tahun 2010 saat eskavasi fosil Homo Erectus di Ngandang, Jawa, Indonesia.

Foto: AP
Ilmuwan menggunakan fosil Homo erectus di Ngandang, Jawa Tengah, Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Para ilmuwan akhirnya dapat menghitung umur sisa manusia purba Homo erectus termuda yang diketahui. H erectus yang umumnya dianggap sebagai nenek moyang spesies manusia.

Ilmwuan menyimpulkan hal itu dragmen-fragmen tengkorak fosil dan tulang-tulang lainnya ditemukan di Pulau Jawa pada tahun 1930-an. Menentukan usia mereka telah menjadi tantangan ilmiah, dan berbagai macam telah diusulkan oleh berbagai penelitian.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (18/12) oleh jurnal Nature, para ilmuwan menyimpulkan bahwa jenazah itu berusia antara 108 ribu dan 117 ribu tahun. Para peneliti menggunakan lima teknik penanggalan pada sedimen dan tulang binatang fosil dari daerah tersebut, menggabungkan 52 perkiraan usia untuk analisis. Proyek ini memakan waktu 13 tahun untuk selesai.

"Saya tidak melihat cara untuk menentukan usia situs ini secara lebih menyeluruh," kata paleoantropolog Russell Ciochon dari University of Iowa, dilansir di CTV News, Kamis (19/12).

H. erectus muncul di Afrika sekitar 2 juta tahun yang lalu dan menyebar luas di sana dan di Asia, dan mungkin ke Eropa. Spesies ini mencapai Jawa lebih dari 1,5 juta tahun yang lalu, dan penentuan usia baru menunjukkan bahwa ia mati setidaknya 35 ribu tahun sebelum kedatangan spesies kita sendiri, Homo sapiens.

H. erectus mungkin telah 'ditakdirkan' di Jawa oleh perubahan iklim yang mengubah lingkungan hutan terbuka menjadi hutan hujan, kata Ciochon.  Tetap saja, spesies ini jelas ada lebih lama di Bumi daripada spesies lain di cabang "Homo" dari pohon evolusi.

Susan Anton, antropolog Universitas New York yang tidak berpartisipasi dalam pekerjaan itu, menyebut upaya penentuan usia itu "heroik." Namun dia mengatakan dia menganggap rentang usia yang dilaporkan terlalu sempit.  Dia mengatakan dia lebih suka rentang kurang dari 550 ribu tahun hingga lebih dari 100 ribu tahun.

Itu kira-kira apa yang dia dan rekan penulis usulkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2011. Akhir yang lebih muda dari kisaran dalam makalah itu adalah sedekat 120 ribu tahun, yang katanya hampir sama dengan hasil yang baru.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA