Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Menanti Kevin/Marcus Raih Emas Olimpiade 2020

Kamis 19 Dec 2019 01:55 WIB

Red: Joko Sadewo

Israr Itah

Israr Itah

Foto: Dokpri
Tuan rumah Jepang memiliki pebulu tangkis yang bisa menaklukkan Kevin/Marcus.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Israr Itah*

Hasil BWF World Tour Finals 2019 bisa memberikan pesan kuat kepada kita untuk mempersiapkan diri dengan serius menyambut Olimpiade Jepang 2020. PP PBSI harus benar-benar menyiapkan pebulu tangkis terbaik yang kita punya untuk membawa pulang medali emas dari Negeri Sakura.

Seperti kita pahami bersama, bulu tangkis masih jadi andalan Indonesia untuk mencapai podium tertinggi di pesta olahraga multi event dunia tersebut. Angkat besi dan mungkin panahan masih jadi kuda hitam. Dapat perak bersyukur, meraih emas sebuah kejutan besar dari dua cabang ini. Makanya, bulu tangkis tetaplah jadi andalan.

Saat ini, kekuatan bulu tangkis kita bertumpu kepada dua ganda teratas dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Layer berikutnya ada tunggal putra yang diharapkan menghadirkan kejutan, Anthony Ginting Sinisuka dan Jonathan Christie.

Setelah itu, ada duo rising star ganda campuran Melati Daeva Oktavianti/Praveen Jordan. Untuk nama terakhir ini, jangan terlalu berharap banyak. Walau sekarang berada di ranking lima dunia, permainan Melati/Praveen belum stabil, apalagi untuk menjadi ujung tombak.

Berkaca dari BWF World Tour Finals 2019, Indonesia membawa pulang satu gelar dari Hendra/Ahsan. Keduanya berjaya di partai puncak dengan menaklukkan Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Padahal, Hendra/Ahsan bukanlah tumpuan utama pada kejuaraan bergengsi tutup tahun yang masing-masing kategori hanya diikuti oleh delapan pebulu tangkis/ganda teratas menurut ranking BWF ini.

Kevin/Marcus yang dijagokan membawa pulang gelar gagal. Apa daya, langkah Kevin/Marcus terhenti di semifinal oleh Endo/Yuta.

Dalam setahun terakhir, Kevin/Marcus dua kali menjuarai turnamen BWF Super 1.000, yakni Indonesia dan China Open, empat turnamen Super 750, Japan, Denmark, French, dan Fuchou China Open, serta turnamen Super 500, Malaysia Masters dan Indonesia Masters. Namun tiga gelar kejuaraan bergengsi lepas dari genggaman mereka, yakni Kejuaraan Dunia, All England, dan BWF World Tour Finals. Ini jadi alarm buat keduanya.

Endo/Yuta jadi mimpi buruk Kevin/Marcus. Ganda Jepang ini kerap menjadi lawan yang menghentikan Kevin/Marcus. Padahal, Olimpiade yang berlangsung 24 Juli sampai 9 Agustus berlangsung di negara kelahiran mereka.

Kevin/Marcus harus bisa menemukan solusi untuk mematahkan rekor buruk menghadapi ganda peringkat enam dunia itu. Sebab sepanjang 2019, Kevin/Marcus lima kali takluk dari lawan yang sama. Bukan tak mungkin resep Endo/Yuta meredam Kevin/Marcus bisa ditiru dan diterapkan oleh para rival lainnya seperti Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang, ranking 3), Li Jun Hui/Liu Yu Chen (China, 4), atau Lee Yang/Wang Chi-Lin (Taiwan, 7).

Olimpiade juga bukan ajang sembarangan. Para atlet harus menunggu empat tahun untuk bisa beraksi di pentas bergengsi ini. Maka, bisa dipastikan semua yang tampil akan berjuang habis-habisan lebih dari biasanya untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Tim pelatih ganda putra PP PBSI yang dikepalai Herry IP harus bisa mengatur peak performance Kevin/Marcus muncul di Olimpiade. Tim pelatih juga mesti menjaga kondisi psikologis Kevin/Marcus agar tetap punya 'api' saat berlaga di Jepang nanti. Sementara dari sisi sang pemain Kevin/Marcus harus bisa menjaga kondisi dengan baik menuju ke Olimpiade. Walau punya kewajiban untuk mengumpulkan poin Olimpiade sampai April 2020, tak ada salahnya bermain aman tidak memaksakan kemenangan demi target yang lebih tinggi. Menderita cedera menjelang Olimpiade bergulir bukan sesuatu yang diinginkan kita semua.

Sebagai back-up Kevin/Marcus, Hendra/Ahsan masih dapat jadi andalan. Tapi jarak sekarang hingga akhir Juli nanti berarti bertambahnya usia pasangan senior tersebut. Hendra hampir menyentuh usia 36 tahun ketika Olimpiade bergulir, sementara Ahsan 33. Dengan jadwal pertandingan rapat, masalah pasangan ini adalah recovery. Dengan kondisi fisik tak prima, teknik dan mental juara bisa jadi tak berarti. Hendra/Ahsan punya pekerjaan rumah menyiasati fisik tersebut. Dari kondisi sini, kembali lagi Kevin/Marcus tetap jadi tulang punggung utama di sektor ganda ini.

Di tunggal putra, Ginting dan Jonathan mesti mengasah ketangguhan fisik dan mental mereka untuk menghadapi pebulu tangkis nomor satu dunia saat ini, Kento Momota. Tampil di hadapan pendukung sendiri diperkirakan membuat semangat Momota yang punya teknik dan fisik mumpuni untuk juara akan makin besar.

Sembari memperbaiki kekuarang dari sisi teknik dan fisik, Ginting dan Jonathan boleh berharap mendapatkan undian bagus di Olimpiade nanti. Bila harus bertemu Momota, sebaiknya itu terjadi di partai final atau paling apes semifinal. Bila skenario ini berjalan, apa pun bisa saja tersaji. Sebab bukan pekerjaan mudah melawan Momota lebih awal. Jagoan tuan rumah Jepang ini menjuarai BWF World Tour Finals, masing-masing dua turnamen Super 1.000, Super 750, dan Super 500, serta satu turnamen Super 300 sepanjang 2019 yang menempatkannya di ranking pertama BWF.

Ganda campuran kita juga boleh berharap mendapatkan undian bagus sembari mengasah kemampuan dalam tujuh bulan ke depan. Sementara untuk ganda putri dan tunggal putri, kita hanya berharap keajaiban.

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA