Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Mengenal Juru Taktik Sepak Bola Bergelar Master

Senin 16 Dec 2019 17:54 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Endro Yuwanto

Graham Potter

Graham Potter

Foto: EPA-EFE/FELIPE TRUEBA
Potter menganggap gelar akademiknya bermanfaat untuk pekerjaannya sebagai pelatih.

REPUBLIKA.CO.ID, Jarang ditemukan seorang pelatih Liga Primer Inggris dengan gelar sarjana dalam ilmu sosial apalagi plus gelar master of art (MA) dalam bidang kepemimpinan dan kecerdasan emosional. Sedikit dari sosok seperti itu adalah Graham Potter yang merupakan pelatih Brighton & Hove Albion.

Potter berhasil menjalin hubungan yang kuat dengan para pemain Brighton dalam waktu singkat. Potter menganggap gelar akademik yang diraihnya bermanfaat untuk pekerjaannya sebagai pelatih klub sepak bola saat ini.

"Jalur setiap orang sangat berbeda. MA (gelar akademik) adalah bagian dari jalan saya untuk sampai ke sini, dan itu adalah bagian dari pendidikan saya dan bagian dari pengalaman hidup saya. Itu memungkinkan saya untuk memberikan referensi tentang pengalaman yang saya miliki dan teori di sekitar saya," kata Potter dilansir dari Sky Sports pada Senin (16/12).

Ada satu atau dua alis terangkat ketika Brighton menggantikan Chris Hughton dengan seorang pelatih tanpa pengalaman di Liga Primer Inggris. Saat itu, Brighton bisa selamat dari zona degradasi musim lalu secara dramatis.

Pria Inggris berusia 44 tahun itu ditawari perpanjangan kontrak dua tahun di Amex Stadium setelah baru enam bulan menukangi Brighton. Durasi kontrak awal Potter ialah empat tahun.

"Itu mengejutkan. Saya merasa rendah hati dan gembira karenanya," kata Potter dengan senyum lebar. "Jelas, saya senang berkomitmen untuk masa depan ke klub. Stabilitas adalah sesuatu yang bisa kami gunakan untuk maju, tetapi kami tahu belum mencapai apa-apa."

Walau begitu, Potter menyadari kontraknya bukan sesuatu yang tak bisa diubah. Perubahan kontrak bisa terjadi bergantung pada performa tim. "Kami tahu dunia sepak bola, apa pun kontraknya. Segala sesuatunya berubah, jadi Anda harus terus meningkatkan dan Anda harus terus mendapatkan hasil," jelasnya.

Potter punya cara sendiri untuk belajar menjadi pelatih sepak bola hebat. Ia menonton video dan membaca buku-buku tentang pelatih hebat dan orang-orang yang dia kagumi ketika memulai kariernya. Tapi setelah itu, ia fokus melakukan hal-hal dengan caranya sendiri tanpa bergantung dari idolanya.

"Pada saat itu, Pep Guardiola sedang mengembangkan tim Barcelona. Dia memiliki tim yang fantastis bersama Lionel Messi, Xavi, dan Andres Iniesta," kenang alumnus Leeds Metropolitan University itu. "Lalu, begitu Anda berada di klub, Anda selalu berusaha bekerja dengan para pemain di skuat Anda, untuk melihat bagaimana Anda dapat meningkatkan dan mengembangkan metode Anda sendiri agar berguna bagi para pemain yang bekerja bersama Anda."

Potter menekankan tak ada gunanya meniru atau menyalin orang lain. Ia memilih menemukan cara sendiri dalam melatih tim. Ia juga mencoba menyesuaikan caranya dengan para pemain yang dimiliki. Dalam kurun waktu lima musim, Potter telah membawa timnya ke kompetisi divisi teratas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA