Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Penyelidikan Letusan Gunung Selandia Baru Bisa Setahun

Selasa 17 Dec 2019 06:18 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Foto udara kawah pulau vulkanik White Island atau dalam bahasa Maori dikenal sebagai Whakaari, Selandia Baru, Kamis (12/12).

Foto udara kawah pulau vulkanik White Island atau dalam bahasa Maori dikenal sebagai Whakaari, Selandia Baru, Kamis (12/12).

Foto: Jorge Silva/Reuters
Penyelidikan kesehatan dan keselamatan dilakukan di gunung berapi Selandia Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, penyelidikan atas letusan gunung berapi di White Island dapat memakan waktu hingga satu tahun. Regulator Selandia Baru untuk insiden yang terkait tempat kerja, WorkSafe telah membuka penyelidikan kesehatan dan keselamatan. Sedangkan petugas koroner juga melakukan penyelidikan secara terpisah.

Baca Juga

"Sekarang masih ada pertanyaan yang harus ditanyakan dan pertanyaan yang harus dijawab," ujar Ardern kepada wartawan.

Ada kritik yang berkembang dan mempertanyakan mengapa White Island dibuka untuk wisatawan. Padahal, risiko gunung berapi aktif yang ada di pulau tersebut cukup tinggi. Ardern mengatakan, WorkSafe dapat menuntut individu dan perusahaan untuk pelanggaran hukum mengenai kesehatan dan keselamatan dengan denda hingga 3 juta dolar New Zealand (NZ), serta hukuman penjara hingga lima tahun.

Sementara itu, pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas koroner kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu. Dalam hal ini, petugas koroner dapat membuat rekomendasi untuk mencegah kematian serupa di masa mendatang.

Tim penyelamat kembali melakukan upaya pencarian dua jenazah yang diyakini masih berada di White Island. Penyelam angkatan laut dijadwalkan melakukan pencarian pada Selasa (17/12).

"Kami akan melanjutkan operasi selama kami memiliki kesempatan untuk menemukan jenazah-jenazah itu," ujar Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush kepada Radio New Zealand.

Sebagian besar korban meninggal dunia dan luka-luka adalah warga negara Australia yang sedang mengikuti tur sehari dari kapal Royal Caribbean Cruises Ltd. Kapal tersebut kembali merapat di Sydney pada Senin (16/12). Beberapa penumpang turun sambil menangis saat mereka bertemu kembali dengan anggota keluarganya.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne bertemu dengan Pemerintah Selandia Baru. Payne memberikan apresiasi kepada tim penyelamat atas upaya pencarian dan evakuasi korban.

Pakar hukum mengatakan, penumpang Royal Caribbean yang terluka dan keluarga korban yang meninggal dunia dapat menuntut perusahaan pelayaran tersebut ke pengadilan. Juru bicara perusahaan mengatakan, mereka akan terus memberikan dukungan dan layanan kepada keluarga korban.

"Kami akan terus memberikan dukungan dan layanan berkelanjutan kepada mereka dan keluarga mereka selama masa sulit ini," kata juru bicara Royal Carribbean.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA