Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Pengukuhan Profesor UMP Dilakukan di Kebun Kelapa

Ahad 15 Dec 2019 14:05 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Foto: blogspot.com
UMP menargetkan lagi menambah 18 gelar profesor pada 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Pengukuhan profesor yang digelar Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (14/12), berbeda dari biasanya. Pengukuhan dosen Prodi Biologi FKIP UMP Sisunandar sebagai profesor, dilakukan di kebun kelapa kopyor yang berada di Science Techno Park UMP.

''Kami sengaja menggelar pengukuhan guru besar Prof Sisunandar Phd di kebun ini, agar hadirin yang hadir juga bisa melihat secara langsung karya Prof Sisunandar,'' ujar Rektor UMP Anjar Nugroho.

Sisunandar mendapat SK pengangkatan gelar tertinggi dalam bidang akademik, pada awal Desember ini. Salah satu hasil karyanya adalah mengenai pengembangan kultur jaringan kelapa kopyor. Dengan temuan tersebut, dia mengembangkan bibit kelapa yang seluruh buahnya berupa kelapa kopyor.

Menurutnya Anjar, dengan pengukuhan Sisunandar sebagai sebagai guru besar UMP, maka saat ini ada 7 pengajar UMP yang bergelar profesor. ''Saat ini, ada sekitar 18 calon profesor di UMP. Tiga orang diantaranya, ditarget bisa mendapat gelar profesornya pada 2020,'' kata dia.

Anjar juga menyebutkan, di areal Science Techno Park UMP, saat ini juga dikembangkan kebun plasma nutfah kelapa kopyor. Luas areal keseluruhan mencapai 5 hektare, yang akan dikembangkan dengan berbagai macam varietas kelapa.

''Insya Allah, nantinya kebun ini memiliki koleksi paling lengkap mengenai jenis-jenis kelapa di Tanah Air. Semuanya, akan dikopyorkan oleh Prof Sisunandar,'' katanya.

Dalam acara pengukuhan tersebut,  Sisunandar membawakan pidato  pengukuhan berjudul Kultur Jaringan Tumbuhan Untuk Konservasi Dan Produksi Benih Unggul Tanaman Perkebunan: Dari Laboratorium Ke Industri.

Dia mengatakan, Indonesia dianugerahi keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Sekitar 12 persen spesies mamalia ada di Indonesia, 16 persen spesies reptil dan amfibi, 17 persen spesies burung, dan 14 persen spesies ikan.

''Pada tumbuhan berbunga, Indonesia merupakan rumah dari 11 persen tumbuhan yang ada di dunia, atau sekitar 25 ribu spesies,'' ucap dia.

Sisunandar menyebutkan, Indonesia dikenal sebagai negara terbesar penghasil kelapa di dunia. Namun mayoritas petani kelapanya, masih hidup di bawah garis kemiskinan. ''Sekitar 3 juta petani kelapa di Indonesia atau 96 persen, memiliki lahan kurang dari setengah hektar yang ditanami kelapa kurang dari 100 pohon,'' katanya.

Sisunandar juga mengajak kepada para mahasiswa dan dosen yuniornya yang berkiprah di bidang ilmu biologi, pertanian maupun perkebunan, untuk terus mengembangkan riset dan inovasinya. ''Tidak ada alasan lagi bagi civitas akademika UMP  untuk tidak berinovasi memberikan konstribusi terbaik bagi masyarakat Indonesia,'' kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA