Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

UB Olah Limbah Tempe Jadi Biogas dan Pakan Ternak

Kamis 12 Dec 2019 16:39 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Christiyaningsih

Para akademisi Universitas Brawijaya (UB) membimbing peternak olah limbah jadi biogas. Ilustrasi.

Para akademisi Universitas Brawijaya (UB) membimbing peternak olah limbah jadi biogas. Ilustrasi.

Foto: Antara/Arnas Padda
Para akademisi Universitas Brawijaya (UB) membimbing peternak olah limbah jadi biogas

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Wakil Rektor Bidang Kerjasama Universitas Brawijaya (UB) Sasmito Djati membimbing peternak mengolah limbah menjadi biogas. Kegiatan yang dilakukan di Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini turut menggandeng dosen Atiek Iriany (FMIPA) dan pakar ternak potong Fakultas Peternakan (Fapet) UB, Kuswati.

Sasmito mengatakan Sanan dikenal sebagai sentra industri tempe terbesar di Kota Malang. Hampir 90 persen masyarakat Sanan berprofesi sebagai pengusaha tempe. "Di sisi lain mereka juga memiliki ternak sapi potong yang mencapai 1.000 ekor," katanya.

Menurut Sasmito, kondisi tersebut melahirkan limbah yang melimpah baik dari industri tempe maupun limbah ternak. Limbah cair dari pabrik tempe yang tidak diolah secara maksimal akan menghasilkan aroma busuk cukup kuat. Sedangkan kotoran ternak saat ini hanya bisa menumpuk terabaikan.

Salah satu solusi penanggulangan masalah tersebut dengan mengolah limbah menjadi biogas. Biogas tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan proses industri tempe. Akan tetapi bisa juga untuk keperluan dapur rumah tangga pribadi.

"Biogas dapat menekan biaya produksi pembuatan tempe," ungkap Sasmito dalam keterangan pers yang diterima Republika, Kamis (12/12).

Limbah dari industri tempe berupa kulit ari kedelai dan air rebusan kedelai juga dapat dimanfaatkan. Bahan tersebut dapat dijadikan sumber tambahan pakan dan minum ternak. Apalagi kedelai dikenal tinggi kandungan nutrisinya sehingga dapat membantu penggemukan sapi potong.

Sasmito berharap langkah ini dapat mengatasi masalah limbah di Sanan. Tidak hanya limbah dari industri tempe tapi juga kotoran ternak. Dengan demikian, bisa menambah keterampilan masyarakat sekaligus menambah pendapatan masyarakat.

"Di sisi lain juga untuk mewujudkan kampung biogas sebagai representasi green campus oleh Universitas Brawijaya," ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA