Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kota Serang Dinilai Belum Layak Jadi Ibu Kota Provinsi

Kamis 12 Des 2019 14:10 WIB

Rep: Alkhaeledi Kurnialam/ Red: Muhammad Hafil

Salah satu sudut kota Serang, Provinsi Banten.

Salah satu sudut kota Serang, Provinsi Banten.

Foto: rumahdunia.com
Kota Serang sudah berdiri sejak 2007.

REPUBLIKA.CO.ID,SERANG--Sejak berdiri pada 2007 silam, Kota Serang dinilai masih belum layak menyandang gelar ibu kota Provinsi. Beragam masalah mulai dari infrastruktur hingga mudahnya menumenukan kawasan kumuh menjadi sedikit gambaran dari kondisi rill yang terjadi.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua DPRD Kota Serang, Hasan Basri yang menyebut bahwa daerah ini memang belum ideal untuk disebut menjadi ibu kota Provinsi Banten. Bahkan, ia menuturkan kalau daerahnya ini masih belum sepadan jika harus dibandingkan dengan daerah ibu kota provinsi lain di Indonesia.

"Jauh sekali kalau harus dibandingkan dengan ibu kota Provinsi lain. Secara umum masyarakat juga sudah merasakan kok. Bahkan kalau kita jalan-jalan keliling kota itu bisa langsung melihat kalau kota ini memang belum ideal menjadi ibu kota Provinsi. Sementara orang lain di luar banten itu kan menilai provinsi dari ibu kotanya," jelas Hasan Basri, Selasa (10/12). 

Dari segi infrastruktur, Ia menyorot kondisi kawasan pusat pemerintahan kota (puspemkot) yang menurutnya belum layak karena berlokasi di tempat yang tidak strategis. Kondisi jalan menuju puspemkot yang rusak penuh lubang adalah hal yang tidak layak terjadi di ibu kota provinsi.

Dari segi layanan pemenuhan layanan dasar seperti kesehatan, Hasan mengkritisi masih banyaknya kawasan kumuh di daerah berjuluk kota madani ini. Kondisi miris juga terlihat dari fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Serang yang hingga kini belum bisa melayani tindakan operasi kepada pasien.

Atas beragam masalah yang ada di Kota Serang, ia mengharap agar Pemprov Banten memberikan perhatian khusus kepada ibu kota Banten ini dengan memberikan porsi bantuan keuangan yang lebih besar. Kota yang baru berdiri 12 tahun ini disebutnya masih sangat bergantung pada dana transfer untuk pembangunan daerahnya.

"Kota Sedang ini etalase Provinsi Banten, kalau infrastrukturnya sudah rapih, pembangunan sudah merata, masyarakat sejahtera maka akan jadi nilai plus untuk pemprov. Tapi kalau ibu kotanya saja sudah kumuh, tertinggal masyarakat jauh dari sejahtera justru kan akan menampar wajah pemprov sendiri," terangnya.

Meski begitu ia juga mengharapkan pemkot juga membuat terobosan program dan tidak hanya bergantung pada dana bantuan. "Misalnya dengan membuka keran investasi di Kota Serang, kalau sudah banyak investor di sini, membuka usaha di industri kan perekonomian masyarakat juga akan naik," jelasnya.

Sementara Wali Kota Serang Syafrudin membenarkan kalau hingga kini daerahnya belum ideal untuk bisa disebut sebagai ibu kota provinsi. Hal ini karena umur Kota Serang yang masih baru dan merupakn daerah hasio pemekaran Kabupaten Serang.

Ia membandingkan hasil pemekaran yang terjadi di Kota Tangerang Selatan dengan yang terjadi di Kota Serang. Menurutnya, Kota Tangerang Serlatan yang merupakan daerah pemekaran Kabupaten Tangerang bisa maju karena saat dilepas tidak dalam status tertinggal.

"Memang masih tertinggal kalau dibandingkan dengan ibu kota provinsi lain. Ketika kota ini terpisah dengan kabupaten memang dalam keadaan tertinggal. Jadi kami bukan melanjutkan pembangunan yang dilakukan Kabupaten, tapi berbenah dari awal," kata Syafrudin.

Atas masalah ini, Wali Kota mengatakan bahwa seharusnya bantuan keuangan Pemprov Banten bisa diberikan lebih dari yang diterima sekarang. Ia mengaku heran dengan besaran dana bantuan bagi Pemkot Serang yang justru lebih kecil dari daerah lain di Banten. "Tahun ini kita dapat Rp 45 miliar, kita oernah ajukan Rp 120 miliar. Idealnya sih kita mau Rp 200 miliar," tutur Wali Kota.

Meski begitu Syafrudin mengaku tengah berusaha untuk mengntaskan fakta ketertinggalan daerahnya ini. Upaya merevisi aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) disebutnya adalah salah satu usaha agar para investor bisa tertarik menanamkan mofalnya di Kora Serang. 

"Banyak yang sudah mau menanmkan investasi di sini, tapi mundur karena terhambat maslah tata ruang. Terbentur zona hijau dan lainnya.sementara kita lihat wilayah Taktakan, Cipocok, Walantaka yang jadi Zona hinau itu sekarang sudah tidak memunhkinkan lagi untuk pertanian, karena sawahnya itu tadah hujan kan. Kalau pun tetap dilanjutkan maka petani akan rugi. Kita akan rubh jadi wilayah agrobisnis atau agrowisata yang lebih menguntungkan," katanya.

Syafrudin juga mengaku optimis dengan perkembangan wisata di kotanya. Banten lama yang menjadi destinasi wisata unggulan di wilayahnya kedepan akan semakin meningkatkan taraf ekonomi warganya. "Dengan membuka keran investasi dan mengembangkan wisata atau potensi lain, saya optimis kedepannya Kota Serang akan lebih maju," tuturnya. 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA