Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

ADB Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Rabu 11 Des 2019 11:54 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi). Bank Pembangunan Asia (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020.

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi). Bank Pembangunan Asia (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020.

Foto: Republika.co.id
ADB memproyeksi ekonomi Indonesia tahun ini tumbuh 5,1 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Pembangunan Asia (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020 masing-masing sebesar 5,1 persen dan 5,2 persen meski perekonomian Asia diperkirakan makin melambat. Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (11/12), mengatakan perkiraan ini merupakan bagian dari laporan tambahan Asian Development Outlook 2019 Update yang telah rilis September 2019.

Dalam revisi tersebut, ADB menurunkan prakiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia seiring merosotnya pertumbuhan di China dan India karena sejumlah faktor eksternal dan domestik. ADB memproyeksikan pertumbuhan di kawasan Asia pada 2019 dan 2020 berada pada kisaran 5,2 persen atau turun dari perkiraan September 5,4 persen dan 5,5 persen masing-masing di 2019 dan 2020.

Salah satu faktor yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di Asia, meski kawasan ini masih solid, adalah ketegangan perdagangan yang terus berlangsung. "Ketegangan perdagangan yang terus berlangsung menyulitkan kawasan ini dan masih menjadi risiko terbesar terhadap proyeksi ekonomi dalam jangka yang lebih panjang. Investasi domestik juga melemah di banyak negara seiring menurunnya sentimen bisnis," kata Sawada.

Laporan tambahan memperkirakan laju inflasi di kawasan akan mencapai 2,8 persen pada 2019 dan 3,1 persen pada 2020. Angka perkiraan ini naik dari prediksi inflasi pada September sebesar 2,7 persen masing-masing di 2019 dan 2020.

"Di sisi lain, inflasi bergerak naik akibat harga pangan yang lebih tinggi, apalagi demam babi afrika (african swine fever) telah menjadikan harga babi naik drastis," kata Sawada.

Di kawasan Asia Timur, pertumbuhan China diperkirakan sebesar 6,1 persen untuk 2019 dan 5,8 persen untuk 2020 akibat ketegangan perdagangan dan perlambatan aktivitas global. Selain itu, perlambatan China disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga, akibat harga daging babi yang sudah berlipat ganda dibandingkan dengan harga tahun lalu.

Namun, pertumbuhan diperkirakan dapat melaju kembali apabila Amerika Serikat dan China mencapai persetujuan perdagangan. Pada bulan September, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi China sebesar 6,2 persen pada 2019 dan 6,0 persen pada 2020.

Sementara itu, Hong Kong, yang secara teknis sudah mengalami resesi, akan mengalami tekanan berat yang kemungkinan akan terus berlanjut sampai 2020. Perekonomian di wilayah ini kini diperkirakan akan berkontraksi 1,2 persen pada 2019 dan hanya tumbuh 0,3 persen di 2020.

Di Asia Tenggara, kondisi Indonesia masih lebih baik dari banyak negara yang mengalami penurunan ekspor dan pelemahan investasi seperti Singapura dan Thailand.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA