Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Kisah dari Norwegia: 'The Society Is Destroying Itself'

Rabu 11 Dec 2019 06:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Acara kegiatan para siswa sekolahd i Norwegia menyambut hari kemerdekaan negara itu.

Acara kegiatan para siswa sekolahd i Norwegia menyambut hari kemerdekaan negara itu.

Foto: Savitry Icha Khairunnisa
Kisah debat anak sekolah di Norwegia soal kebebasan orientasi seksual.

Oleh: Savitri Icha Khairunnisa, Perantau Indonesia di Norwegia

Kemarin anak saya, Fatih, pulang telat sekitar 20 menitan dari sekolah. Sampai rumah wajahnya tampak serius. Dia minta maaf karena pulang terlambat. Katanya di jalan dia diskusi lama dengan sahabatnya, Styrk, si anak asli Norwegia yang pintar matematika.

"Diskusi tentang apa?" tanya saya.

"This country is so sick, Bunda. The society is destroying itself," jawab Fatih.

Lalu mengalirlah ceritanya.

Awalnya ibu walikelas bilang kalau hari Kamis (besok) semua murid kelas 8 di Håvåsen Skole akan menonton pertunjukan teater. Temanya? L98+.

Sebelum bercerita tentang sinopsis pertunjukan itu, bu walikelas melontarkan pertanyaan, "Bagaimana pendapat kalian tentang L98+? Siapa yang tidak mendukung?"

Fatih jadi anak pertama yang tunjuk tangan. Diikuti 5 anak lainnya; dua di antaranya Muslim. Seisi kelas langsung mengernyitkan dahi. Keberanian Fatih untuk tanpa ragu menyatakan tidak mendukung L98+ adalah hal aneh buat mereka.

Bu wali kelas melanjutkan, "Kalau saya sangat mendukung. Karena L98+ adalah hak setiap orang untuk mengekspresikan orientasi seksualnya. Mereka yang menyatakan 'come out' sebagai L98+ adalah orang-orang yang berani. Reza Aziz, kenapa kamu tidak mendukung L98+?"

Fatih menjawab, bahwa first of all, menjadi pelaku dan pendukung golongan itu dalam Islam adalah sangat dilarang. Dia patuh pada ajaran agamanya. Dia nggak membenci orang secara pribadi, tapi perilakunya yang menyimpang itu yang tidak bisa dia dukung.
Yang kedua, menurutnya orang menjadi pelaku L98+ karena pilihan, bukan karena terlahir seperti itu.

Bu wali kelas menyanggah, bahwa ada bukti ilmiah yang menjelaskan bahwa L98+ itu adalah masalah gen. Dengan kata lain, ada orang yang terlahir dengan kecenderungan seperti itu.

Fatih melanjutkan, bahwa mungkin memang ada orang yang terlahir demikian, tapi itu berarti ada kelainan di dirinya. Dan itu bisa diterapi, bahkan disembuhkan.

Hadidja, teman Fatih asal Chechnya, menambahkan, bahwa menurutnya L98+ itu tidak normal.

Styrk dan Ward yang juga satu kubu dengan Fatih mengangguk-angguk. Zacharias yang keturunan Irlandia menimpali, L98+ itu penyakit yang cepat menular meski kelihatannya tidak berbahaya.

Saya mendengarkan dengan antusias.

Fatih juga sempat diserang dengan pertanyaan, bagaimana kalau ternyata anakmu L98+?

Fatih menjawab (dengan pertama mengucap na'udzubillaahi min dzaalik), bahwa dia akan membawa anaknya untuk terapi sampai sembuh. Dia yakin bahwa pelaku L98+ itu sebetulnya bisa disembuhkan, asalkan mereka mau sembuh.

Sementara di kubu sebelah, anak-anak mantap dengan argumen senada: L98+ adalah bentuk kebebasan berekspresi. Para pelakunya harus diperlakukan sama dengan yang bukan L98+ (alias orang normal).

Dari argumen ini Fatih bertanya balik, "Berarti menurut kalian pelaku L98+ itu nggak normal, dong? Anak yang punya 2 ibu atau 2 bapak, kemudian mereka tahu bahwa orangtuanya itu meminjam rahim / sel sperma orang lain untuk bisa hamil. Jadi siapa bapak / ibu mereka yang sebetulnya?"

21 anak, semua terdiam.

Di akhir diskusi, bu walikelas menyimpulkan bahwa mereka semua harus saling respek pada apapun pilihan / keadaan setiap orang. Selagi yang bersangkutan tidak melanggar hak orang lain dan tidak melanggar hukum, maka mereka harus bisa bertoleransi dengan perbedaan.

               ***

Diskusi seru antara saya dan Fatih setelah itu jadi panjang, dan berlanjut hingga saat makan malam.

Tapi intinya, saya terkagum dan bangga pada Fatih. Dia bukan saja minoritas dari segi ras maupun agama, tapi juga prinsip hidup yang berbeda tentang menyikapi L98+. Despite all that, dia berani jadi pioneer untuk menyuarakan pendapatnya, dengan argumen yang menurutnya ada dasar yang kuat.

Nak, beginilah masyarakat di zamanmu sekarang. Waktu Bunda seumurmu, diskusi kelas sebatas urusan pelajaran. Apa yang terjadi di masyarakat saat itu, belum menjadi concern para guru dan murid. Yang penting nilai akademis bagus; syukur-syukur bisa juara kelas.

Zaman sekarang memang beda. Fatih cerita, bahwa kemarin itu waktu 45 menit habis hanya untuk memberi kesempatan anak-anak untuk berdebat menyatakan pendapat mereka. Bu wali kelas sampai nggak sempat menjelaskan sedikitpun tentang pertunjukan teater.

Perdebatan seperti ini bagus untuk membuka cakrawala berpikir. Jangan pernah kita menganggap remeh jalan pemikiran anak-anak. Karena bisa jadi mereka punya ide dan pemikiran yang lebih tajam dan bijak dibandingkan kita generasi orangtuanya.

Kembali ke soal L98+, bukan cuma di Norwegia yang memang serba liberal, di negeri mayoritas Muslim pun keadaannya kurang lebih 11-12. Sepertinya hampir tiap hari kita dihadapkan pada berita betapa masifnya pengaruh buruk perilaku kaum Nabi Luth ini. Benar-benar mengerikan. Bukan cuma rokok dan mirasantika yang membunuhmu, virus bernama L98+ bahkan sampai membunuh orang lain. Astaghfirullah... Tsumma na'udzubillaah!

Nggak pernah bosan rasanya saya mengulang lagi; bahwa kita tidak boleh menyerahkan begitu saja pendidikan anak kepada sekolah, sebagus apapun sekolahnya. Sampai kapanpun, selagi anak masih dalam usia sekolah, tugas orangtua sebagai pendidik utama anak masih harus kita pegang.

Ketika anak sudah berani menyampaikan di depan umum apa yang menurutnya adalah kebenaran dengan adab yang baik, di situ orangtua bisa mulai bernafas lega.

At least we're raising our children the right way.

***

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA