Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Ada Spiral Kebencian di Media Sosial?

Rabu 11 Dec 2019 05:11 WIB

Red: Muhammad Subarkah

DR Iswandi Syahputra berpidato dalam pengukuhan sebagaiGuru Besar dalam bidang Ilmu Komunikasi UIN Yogyakarta.

DR Iswandi Syahputra berpidato dalam pengukuhan sebagaiGuru Besar dalam bidang Ilmu Komunikasi UIN Yogyakarta.

Foto: Iswandi Syahputra
Kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara warganet harus tetap dijamin

Oleh: Iswandi Syahputra, Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta*

Ujaran kebencian dapat tersebar di media sosial. Ini terjadi akibat perpaduan antara kecenderungan politik, keyakinan keagamaan, dan ketergantungan pada informasi yang diperbincangkan secara tertutup pada kantung-kantung percakapan menghasilkan peningkatan emosi dan kemarahan.

Akibatnya, sehingga kemarahan, kecemasan, kesedihan dan kebencian menjadi lebih cepat berkembang di media sosial. Dalam hal ini ada empat lingkar spiral kebencian yang menyebar di media sosial. Hal tersebut menyebar melebar dari kebencian implosif yang terpendam hingga kebencian eksplosif yang tersampaikan.

Pada lingkar spiral pertama, kebencian masih bersifat personal, tersimpan dan terpendam. Kebencian pada lingkar ini muncul karena adanya penerimaan, penyerapan atau internalisasi berbagai informasi yang tersebar pada berbagai jenis media sosial.

Pada lingkar spiral kedua kebencian muncul sebagai akibat saling berbagi informasi yang menimbulkan kebencian bersama tentang suatu informasi tertentu pada satu kelompok yang memiliki karakteristik spesifik yang sama. Pada tahap ini, informasi yang beredar dianggap mengandung kebenaran sehingga dapat mengokohkan pandangan anggota kelompok yang sejenis.

Berikutnya pada lingkar spiral ketiga, kebencian di media sosial terjadi pada lintas kelompok netizen. Pada lingkar spiral ini, informasi bukan lagi sekedar informasi tetapi menjadi agenda atau isu publik.

Selanjutnya pada lingkar spiral keempat, kebencian meledak sebagai ujaran kebencian yang tersampaikan di media sosial karena mendapat dukungan dari kelompkok komunal. Proses pada level ini terjadi secara hiper-interaktif. Saling serang dengan berbagai ujaran kebencian menjadi masif dan terbuka. Proses tersebut tidak dapat dikendalikan karena kebebasan berpendapat dalam iklim demokrasi yang dianut.

Terkait cara untuk menangkal kebencian di media sosial ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh  para  akademisi, pemerintah dan netizen. Bagi seorang akademisi, ida perlu memperkuat budaya riset berbasis big data, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis dan budaya berani berpendapat. Sebab, hoaks dan kebencian di media sosial hanya dapat dihentikan dengan budaya riset, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis dan budaya berpendapat.

Selain itu kepada pemerintah harus tetap menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara warganet di media sosial. Kebebasan harus benar-benar dijamin pemerintah sebagai bagian 'freedom for', bukan 'freedom from'. Alhasil, pemerintah dan negara harus cermat dalam membedakan antara hoaks dengan kritik dan satir, sehingga dapat memilah antara kebencian dan kekecewaan. Selain itu harus dapat merasakan perbedaan antara berpendapat dan menghujat.

Sementara pada warganet, mereka harus tetap diminta memberi perhatian yang khusus saat memberikan pendapat agar lebih cermat dalam aktivitas di media sosial. Hal ini karena kebebasan berbicara bukan berarti bebas membenci. Jadi freedom of speech bukan berarti freedom to hate. 

Maka gunakan jempol untuk konten jempolan!

----------

* Tulisan ini Merupakan sari pidato pengukuhan DR Iswandi Syahputra sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Komunikasi di hadapan Rapat Senat Terbuka di Gedung Convention Hall, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (10 Desember 2019).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA