Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Tri Sinar Purnama, Jeli Mengatur Porsi Ekspor

Selasa 10 Dec 2019 15:54 WIB

Rep: Yosa Maulana (swa.co.id)/ Red: Yosa Maulana (swa.co.id)

.

.

Dilabeli merek TSP dan G, produk Tri Sinar Purnama memang telah melanglang buana.

Mungkin banyak yang tak mengira bahwa di dalam konstruksi Marina Bay Sands yang ikonik dan Bandara Changi di Singapura, ada produk buatan Indonesia. Ya, kita patut bangga karena konstruksi bangunan tersebut menggunakan sambungan pipa besi (malleable iron pipe fittings) keluaran PT Tri Sinar Purnama.

Bahkan bukan hanya dua bangunan itu, menara Torre Garibaldi (Italia) serta terowongan Gotthard yang menyambungkan Italia dengan Swiss pun menggunakannya. Dilabeli merek TSP dan G, produk Tri Sinar Purnama memang telah melanglang buana.

Dan, itu berawal di tahun 1990 ketika TSP diekspor ke Malaysia serta Singapura. Setelah itu, perlahan tetapi pasti, permintaan dari luar negeri terus datang.

Perjalanan mengekspor ini tidak muncul begitu saja. Tri Sinar Purnama mulanya memenuhi permintaan lokal dengan merek G yang diterima pasar dengan baik. Mereka juga melayani order membuat pipa untuk merek dari Jepang dan Jerman (maklun), yang jumlahnya bisa mencapai lima kontainer per bulan.

Di tengah kondisi panen order tersebut, pendiri perusahaan tak mau terlena. Dia menginstruksikan untuk fokus pada pengembangan merek sendiri, dan mulai menggenjot ekspor. Adapun layanan membuat pipa untuk pabrikan lain dikesampingkan.

Instruksi ini tentu saja menjadikan peningkatan mutu sebagai prioritas. Dan, memang itulah yang dilakukan. Ilustrasinya, yang tadinya 1 ton barang diolah menjadi produk berbobot 500 kg, berubah menjadi hanya 200 kg. Semuanya dilakukan demi peningkatan mutu.

Mulanya, kebijakan ini tidak menyenangkan. Saat itu, nilai US$ masih berada di angka Rp 2 ribuan, sementara pasar lokal sangat baik dan orderan maklun juga menguntungkan. Tri Sinar Purnama seakan memilih untuk menyakiti diri sendiri.

Akan tetapi, tak berapa lama, angin kemenangan segera bertiup ketika krisis moneter 1997-1998 tiba. Sementara banyak perusahaan yang membuat sambungan pipa mendadak kolaps karena fokus pada pasar domestik, Tri Sinar Purnama tak rebah sama sekali.

“Ekspor yang berjumlah 20% dari total produksi membuat kami tertolong. Dengan dolar yang melonjak tinggi hingga Rp 15 ribu, kami masih bisa menggaji karyawan,” kata Levi Purnama, Direktur Tri Sinar Purnama.

Pilihan kebijakan ekspor benar-benar tepat. Setelah itu, roda berputar cepat. Saat ini Tri Sinar Purnama sudah berekspansi ke lebih dari 20 negara melalui jalur distributor. Alokasi produk untuk pasar ekspor bahkan relatif dominan: 31 persen ke pasar Amerika Serikat, 22 persen ke Eropa, dan 7 persen ke Asia, sementara sisanya untuk domestik. Adapun nilai ekspornya 14 juta dolar AS per tahun.

Bermain di pasar ekspor menuntut kiat tersendiri. Tri Sinar Purnama tak mau menaruh keranjang besar untuk satu negara. Strategi melakukan penyebaran ini dilakukan guna mengantisipasi penghentian ekspor akibat perubahan regulasi di negara tujuan ekspor. Saat ini mereka memiliki 15 distributor di luar negeri dan enam distributor domestik.

Terkait strategi pemasaran, Levi menjelaskan, terjadi perubahan yang signifikan. Dulu mereka menyasar setiap proyek bersama distributor, membuat materi promosi, dan melakukan penjualan online secara B2B. Kini mereka hanya melakukan kunjungan bersama para distributor. Justru calon pengguna yang sekarang datang langsung.

Begitu pun pameran, saat ini terbatas jumlahnya, lantaran penjualan sudah banyak ditempuh melalui platform online. “Strategi pertama adalah ketulusan. Kedua, memberikan kemanfaatan.

Ketiga, menekankan pada kualitas dan pelayanan. Kami tidak ingin menggunakan strategi price war, karena barang kami adalah komoditas. Kami didoktrin untuk memberikan mutu dan pelayanan terbaik serta berkomitmen kepada konsumen,” Levi menjelaskan.

Dengan strategi tersebut, Tri Sinar Purnama memetik buahnya. Selama tiga tahun terakhir, mereka membukukan pertumbuhan 15-20 persen, dan mencanangkan tahun ini tumbuh 20 persen.

Levi mengakui, krisis global serta perang dagang berpengaruh terhadap kinerja ekspor. Namun, itu tak menyurutkan tekad mereka untuk menggenjot ekspor. Terbukti, mereka berencana menambah satu pabrik lagi di Semarang guna meningkatkan kapasitas produksi. (*)

Yosa Maulana dan Anastasia A.S.

swa.co.id/business-champions/companies/best-exporter/tri-sinar-purnama-jeli-mengatur-porsi-ekspor">www.swa.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA