Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

BWM Permudah Akses Keuangan Masyarakat Kecil

Selasa 10 Des 2019 15:24 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Presiden Joko Widodo meresmikan Bank Wakaf Mikro. Bank Wakaf Mikro (BWM) berkomitmen menumbuhkan ekonomi masyarakat marginal di pelosok

Presiden Joko Widodo meresmikan Bank Wakaf Mikro. Bank Wakaf Mikro (BWM) berkomitmen menumbuhkan ekonomi masyarakat marginal di pelosok

Foto: Dok OJK
Bank Wakaf Mikro (BWM) berkomitmen menumbuhkan ekonomi masyarakat marginal di pelosok

REPUBLIKA.CO.ID, Buku tabungan perbankan menjadi barang langka di pelosok ujung timur Indonesia bernama Kampung Yoka, Jayapura, Papua. Salah satu penduduknya, Foni Flora Toam (35 tahun) mengatakan bahwa ia harus mengarungi perjalanan hingga dua jam dengan menempuh  medan yang  berkelok-kelok untuk bisa sampai  ke bank terdekat di Kota Jayapura.

Sesungguhnya,  masyarakat di pedesaan atau di daerah perbatasan juga memiliki hak untuk memperoleh akses keuangan dan perbankan. Mereka juga ingin menabung atau mendapatkan pembiayaan/kredit untuk membangun usaha guna menambah penghasilan keluarga.  Namun, karena akses keuangan  selama ini belum tersedia, maka keinginan mereka itu terpaksa tertunda.

Keluhan masyarakat di pedalaman  me­nge­nai belum tersedianya akses keuangan, seperti yang disampaikan Yoni itu direspons oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan harapan agar masyarakat dapat memperoleh akses keuangan dan sekaligus menekan sepak terjang rentenir, OJK pun kemudian men­dirikan Bank Wakaf Mikro (BWM).

BMW ini, antara lain dibangun di lingkungan Pesantren Ya Bunayya, Kampung Yoka, Jayapura, Papua. Mengetahui ada lembaga keuangan di kampungnya, Foni bersama kelompok ibu-ibu lainnya mengajukan pinjaman untuk modal usaha keluarga. Dengan hanya  bermodal Kartu Tanda Penduduk (KTP), ia pun mendapat pembiayaan Rp 1 juta dari BWM.

Selain Foni,  Siti Marsidah (50 tahun) juga telah merasakan manfaat keberadaan BWM untuk membangun usaha kecilnya. Dengan mendapatkan pinjaman Rp 1 juta dari BWM, warga Bantul, Yogyakarta ini  membangun   usahanya dengan berjualan makanan kecil untuk anak-anak.

Tak hanya itu, Siti juga diberi bimbingan usaha, siraman rohani, juga perawatan kesehatan setiap pertemuan pekanan. Setiap nasabah BWM, diberikan pendampingan dan pelatihan yang didesain untuk meningkatkan kapasitasnya.
Setelah itu nasabah diberikan pendidikan agama, pengembangan usaha dan managemen ekonomi rumah tangga dalam Pertemuan Mingguan atau Halaqoh Mingguan (HALMI). Nasabah dibagi dalam tiga sampai lima  orang per kelompok dan pada pertemuan pertama langsung pencairan.

BWM pertama diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo di Pondok Pesantren KHAS Kempek di Cirebon, Jawa Barat. Seiring waktu, BWM terus berkembang sesuai dengan permintaan dan ketertarikan pesantren.
Awal mulanya, pemilihan pesantren se­bagai basis pengembangan BWM dilandasi dengan pertimbangan potensi strategis dari 28.194 pesantren di Indonesia.

Secara umum, pesantren berpotensi membantu pengentasan kemiskinan atau kesenjangan ekonomi di lingkungan. BWM merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang bertujuan menyediakan akses permodalan atau pembiayaan bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal.

Ini juga menjadi salah satu alat untuk meningkatkan inklusi keuangan masyarakat yang kini telah mencapai target 76,19 persen. Hingga Oktober 2019, OJK telah memberikan izin kepada 54 BWM dengan jumlah penyaluran pembiayaan sebesar Rp 31,5 miliar kepada 24.021 nasabah di seluruh Indonesia.
Mengikuti perkembangan dan kebutuhan, BWM tidak hanya bisa didirikan oleh pesantren, tapi juga pihak lain, seperti koperasi atau kelompok. Pemohon dapat mengajukan izin ke OJK untuk membentuk badan hukum sebagai LKMS. Tidak sembarang pihak bisa men­dirikan karena akan diuji dan analisis kelayakannya oleh otoritas.

Sebagai lembaga untuk skala mikro, jumlah nasabahnya juga dibatasi maksimal 2.000 nasabah dengan modal optimal Rp 8 miliar. Kemajuan BWM tak lepas dari peran donatur yang kontinyu.

Siapa saja dapat menjadi donatur BWM, baik individu pribadi maupun perusahaan yang memiliki kepedulian kepada program pemberdayaan masyarakat miskin dan  pengentasan ketimpangan di Indonesia. Dengan memberikan donasi sebesar 1 juta rupiah, masyarakat dapat membantu membiayai modal usaha 1 UMKM selama setahun.
 
Dukungan optimalisasi BMW

Belum lama ini, BWM Mobile telah resmi meluncur dan dapat diakses siapa pun. Apli­kasi tersebut berisi informasi rinci terkait BWM-BWM yang ada di seluruh Indonesia. Mulai dari produk nasabah, perkembangan kinerja, hingga cara untuk membantu pendanaannya.

Donatur bisa menyalurkan bantuan berapa pun melalui aplikasi tersebut. Atau, meng­hubungi Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang telah berkerja sama dengan BWM untuk penyaluran bantuan.

Ke depan, OJK berkomitmen untuk terus mengembangkan BWM di seluruh pelosok negeri  dengan harapan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta mengurangi ketimpangan dan kemiskinan. Sinergi peran sangat diperlukan oleh berbagai pihak,  baik untuk keberlangsungan BWM maupun pengawasan. Monitoring dilakukan oleh OJK yang berkoordinasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM, pesantren, LAZ, serta masyarakat.

OJK menargetkan optimalisasi BWM di Indonesia dengan mendirikan sekitar 1.000 unit BWM. Dengan jumlah tersebut, sekitar 700 ribu masyarakat kecil akan mendapatkan akses keuangan, sehingga produktif di masa depan. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan peningkatan taraf  hidup masyarakat kecil dan mengentas kemiskinan, setidaknya di­butuhkan Rp 8 triliun dari para donatur.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA