Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Dewan Keamanan PBB akan Gelar Pertemuan Bahas Korut

Selasa 10 Dec 2019 09:47 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Peluncuran rudal korut.

Peluncuran rudal korut.

Foto: EPA
Diplomat khawatir Korut akan melanjutkan uji coba rudal jarak jauh.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menggelar pertemuan untuk membahas peluncuran rudal oleh Korea Utara (Korut). Pertemuan tersebut dilakukan atas permintaan Amerika Serikat (AS).

Langkah pertemuan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dan terhentinya pembicaraan mengenai denuklirisasi antara AS dan Korut.

Baca Juga

Beberapa diplomat dan analis khawatir, Korut akan melanjutkan uji coba rudal jarak jauh yang telah ditangguhkan pada 2017.

Delapan negara dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB mendorong dilakukan pertemuan terkait langkah Pyongyang yang dinilai sebagai tindakan provokasi serius. Pertemuan rencananya dilakukan pada Rabu (11/12) mendatang dan fokus pada pembahasan eskalasi ancaman oleh Korut.

Dewan Keamanan PBB sebelumnya telah melakukan sejumlah pertemuan tertutup selama beberapa bulan terakhir atas permintaan anggota Eropa mengenai peluncuran rudal Korut. Setelah pertemuan pada pekan lalu, negara-negara Eropa mengutuk Pyongyang yang telah melakukan tindakan provokatif.

Sebelumnya, Duta Besar PB untuk Korut Kim Song mengatakan, Korut akan menghentikan pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah pernyataan, Kim mengatakan dialog yang didengungkan oleh AS hanya mengulur-ulur waktu sesuai dengan agenda politik domestik Presiden Donald Trump jelang pemilihan presiden 2020. 

"Kita tidak perlu melakukan pembicaraan panjang dengan AS sekarang dan denuklirisasi sudah keluar dari meja perundingan," ujar Kim.

Selain itu, Kim juga mengecam pernyataan dari Uni Eropa yang merupakan anggota Dewan Keamanan PBB. Pekan ini, Uni Eropa mengkritik peluncuran rudal jarak pendek oleh Korut dan menyebutnya sebagai sebuah tindakan provokasi serius. Kim mengatakan, Uni Eropa memainkan peran sebagai antek AS.

Pekan lalu, Duta Besar PBB untuk AS Kelly Craft menghadiri acara makan siang bersama dengan Presiden Donald Trump di Washington. Dalam acara tersebut, Trump sepakat bahwa AS sangat prihatin dengan serangkaian peluncuran rudal balistik oleh Korut dalam beberapa waktu terakhir.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA