Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

ICC Didesak Selidiki Kejahatan Israel di Gaza

Senin 09 Des 2019 16:11 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Fadi memandangi puing-puing rumah yang hancur akibat serangan Israel dari rumahnya di Apartemen Al Rahma, Gaza.

Fadi memandangi puing-puing rumah yang hancur akibat serangan Israel dari rumahnya di Apartemen Al Rahma, Gaza.

Foto: Aljazirah/Walid Mahmoud
Blokade Israel selama 13 tahun menghancurkan perekonomian Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Sejumlah aktivis sosial dan hak-hak sipil dengan kelompok Freedom Flotilla Coalition (FFC) mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyelidiki kejahatan Israel di Jalur Gaza. Mereka dijadwalkan mengirim surat permintaan penyelidikan kepada Ketua Jaksa ICC Fatou Bensouda pada Selasa (10/12).

Baca Juga

Dikutip Anadolu Agency, menurut mereka, permintaan penyelidikan telah terjebak dalam analisis awal selama lima tahun. Sementara, blokade Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung selama 13 tahun telah menghancurkan perekonomian di wilayah tersebut.

Blokade turut merampas hak warga Gaza untuk bergerak atau bepergian. Mereka terisolasi dengan semakin sulitnya memperoleh layanan dasar seperti kesehatan dan listrik. Setiap tahun selama delapan tahun terakhir FFC selalu meluncurkan kampanye baru untuk menentang blokade Israel terhadap Gaza.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan, pada akhir 2016, terdapat 1,3 juta warga Gaza yang bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup. Sementara, hampir setengah dari keluarga di Gaza tidak memiliki akses mengamankan pasokan makanan.

Pada Juni lalu, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan situasi sosial dan ekonomi di Jalur Gaza pun kian memburuk. Blokade Israel menjadi penyebab utama hal tersebut.

“Situasi sosial dan ekonomi di Gaza bergerak dari buruk menjadi lebih buruk,” ujar Direktur Operasi UNRWA di Gaza, Matthias Schmale, saat menghadiri pertemuan yang diselenggarakan Press House pada 30 Juni, dilaporkan laman Middle East Monitor.

Menurut dia, blokade Israel yang telah berlangsung selama 13 tahun merupakan penyebab utama memburuknya situasi di Gaza. “Blokade telah menyebabkan tingkat pengangguran yang lebih tinggi, keruntuhan ekonomi, dan pembatasan perdagangan bebas,” ucapnya.

Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, jumlah pengangguran di Gaza terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2018, persentase pengangguran di sana mencapai 52 persen dari total populasi sekitar dua juta orang. Jumlah tersebut meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Program Pangan Dunia PPB (WFP) juga melaporkan bahwa Gaza dibekap rawan pangan. Hal itu mempengaruhi setidaknya dua pertiga penduduk di sana.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA