Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Puskesmas di Surabaya Dilengkapi Terapi Berhenti Merokok

Kamis 05 Dec 2019 07:19 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Berhenti merokok (ilustrasi)

Berhenti merokok (ilustrasi)

Foto: Boldsky
Klinik berhenti merokok dijalankan psikolog untuk melakukan hipnoterapi dan SEFT.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Surabaya telah memiliki klinik berhenti merokok. Klinik tersebut disediakan untuk memfasilitasi warga yang ingin berhenti dari kebiasaan merokok.

Baca Juga

Kepala Dinas Kesehatan, Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengklaim, klinik berhenti merokok telah didirikan sejak 2017. Febria menjelaskan, klinik berhenti merokok dijalankan seorang psikolog untuk melakukan hipnoterapi dan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).

“Dengan terapi SEFT agar berhenti merokok, ada titik-titik dari bagian tubuh yang dipijit,” kata Febria di Surabaya, Rabu (4/12)

Febria mengungkapkan, lumayan banyak warga Surabaya yang memanfaatkan terapi tersebut, agar berhenti merokok. Alhasil, terdapat sejumlah perokok yang berhenti total dari kebiasaannya, setelah menjalani terapi tersebut. “Memang ada yang sampai berhenti tidak merokok lagi,” ujar Febria

Febria menjelaskan, klinik berhenti merokok didirikan menindaklanjuti Perda Nomor 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM). Saat ini, kata dia, Perda tersebut telah direvisi menjadi Perda Nomor 2 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

"Untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya merokok, disamping peraturan, Dinas Kesehatan juga menyediakan solusi konkret dengan membuka klinik berhenti merokok," kata dia.

Febria mengakui, tak mudah memang untuk berhenti merokok. Apalagi, jika kebiasaan merokok sudah berlangsung lama. Menurutnya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan merokok, dibutuhkan kemauan yang kuat.

“Karena berkaitan dengan psikologis, kalau tidak berhasil itu berarti kemauannya tidak begitu kuat,” kata dia.

Menurut Febria, biasanya dorongan ingin merokok adalah karena ingin menghilangkan stres. Namun, dampak negatifnya bisa menderita berbagai penyakit, seperti paru-paru, stroke, dan sebagainya.

“Untuk berhenti merokok, selain warga datang ke Puskesmas, petugas juga bisa berkunjung ke kantor, jika ada permintaan,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA