Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

BMKG: Gempa Gunung Kidul tidak Berpotensi Tsunami

Senin 09 Dec 2019 14:07 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nora Azizah

Gempa 5.0 skala richter mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (9/12).

Gempa 5.0 skala richter mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (9/12).

Foto: Republika/Darmawan
Gempa 5.0 skala richter mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (9/12).

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL -- Gempa 5.0 skala richter mengguncang Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Senin (9/12) siang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa itu tidak berpotensi tsunami.

Baca Juga

"Hasil pemodelan menunjukkan kalau gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta, Agus Riyanto, Senin.

Agus mengatakan, analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa berkekuatan 5.0, lalu dimutakhirkan jadi 4,5 skala richter. Episenter gempa bumi terletak di koordinat 9,05 lintang selatan dan 110,14 bujur timur, tepatnya berlokasi di laut dari jarak 130 kilometer arah barat daya Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.

Agus mengatakan, posisi gempa berada pada kedalaman 40 kilometer. Apabila melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi jenis dangkal akibat adanya aktivitas subduksi.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Guncangan gempa turut dirasakan di Kabupaten Bantul, dan sebagian wilayah-wilayah di Kabupaten Sleman.

Getarannya dirasakan masyarakat, dan dapat dilihat dari benda-benda gantung yang ikut bergoyang. Hingga saat ini, belum ada laporan dari dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Sejauh ini, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan. Karenanya, Agus mengimbau masyarakat agar tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa tersebut. Selanjutnya, pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa.

"Ataupun, tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," ujar Agus.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA