Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Cari Dana Segar, Pelaku Start-up Pilih IPO

Senin 09 Des 2019 12:59 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Initial public offering / penawaran saham perdana. Perusahaan startup lebih memilih IPO untuk mendapatkan dana segar dari investor.

Initial public offering / penawaran saham perdana. Perusahaan startup lebih memilih IPO untuk mendapatkan dana segar dari investor.

Foto: Republika.co.id
Otoritas bursa membuka pintu selebar-lebarnya untuk perusahaan startup melakukan IPO

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memperoleh modal usaha dari pasar modal semakin diminati banyak perusahaan rintisan (startup). Hanya saja, tidak setiap perusahaan rintisan memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan kepercayaan investor dan mengantongi dana segar melalui initial public offering (IPO).

Direktur Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan saat ini otoritas bursa membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbagai perusahaan, termasuk perusahaan startup, dalam mendapatkan dana segar melalui IPO di bursa efek. Setidaknya perusahaan tersebut tentu harus memenuhi perysaratan yang telah ditentukan oleh otoritas bursa dan memenuhi persyaratan tersebut tentu membutuhkan biaya.

"Biasanya jika go public maka laporan keuangan harus diaudit, menunjuk notaris, lalu konsultan hukum dan menyiapkan dokumen tentang prosedur pendaftaran hingga underwriter. Ini tentu jadi masalah bagi perusahaan tertentu, karena biayanya yang lumayan tinggi untuk melakukan go public,” ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (9/12).

Menurutnya ada beberapa tantangan yang dihadapi sangat besar khususya bagi perusahaan startup tapi akan menjadi peluang bagi yang memiliki model bisnis yang menjanjikan. Apalagi bisnis yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini atau bisa dikatakan model bisnis kekinian untuk milenial.

Hans mencontohkan bagi perusahaan yang ukurannya startup kecil dengan nilai Rp 10 miliar dan startup yang ukurannya relatif besar dengan nilai Rp 300 miliar, kerjanya sama namun pendanaan yang didapatkan bisa berbeda.

"Ini adalah challenge dan kita harus memahami banyaknya aturan yang ada akan menghalangi startup kecil untuk go public,” katanya.

Meski demikian, Hans melihat perusahaan startup kecil kedepannya dapat sukses dilihat dari bisnis yang dijalankannya. Contohnya saja startup bidang properti co-living seperti PT Hoppor International (Kamar Keluarga) yang trennya mengalami perkembangan yang pesat. Kaum milenial lebih senang berwisata atau menggali pengalaman, sehingga membutuhkan tempat tinggal sementara.

“Inovasi perusahaan startup ini bagus artinya harus kita cerna dan lihat sustainability-nya dan juga demand-nya. Masih sangat rasional kalau perusahaan startup sektor ini listing dan melantai di bursa karena demand dan tren hunian menuju ke arah sana,” jelasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA