Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Mengganti Gawai dengan Ayam, Efektifkah?

Senin 09 Dec 2019 12:01 WIB

Rep: M Fauzi Ridwan/Antara/Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari

Perwakilan siswa menunjukkan anak ayam yang diberikan Wali Kota Bandung Oded M Danial di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/11/2019).

Perwakilan siswa menunjukkan anak ayam yang diberikan Wali Kota Bandung Oded M Danial di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/11/2019).

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Mengganti kecanduan gawai dengan ayam adalah intervensi naturalistik dan non-farmasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengganti gawai dengan ayam menjadi salah satu program Wali Kota Bandung Oded M Danial. Akhir bulan lalu Oded resmi meluncurkan program pembagian anak ayam kepada siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di kawasan Rancabolang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Selain itu, diluncurkan pula program penanaman 15 ribu pohon produktif dan 81 ribu benih ikan di kolam Retensi.

"Chickenisasi atau bagi-bagi anak ayam ke siswa, saya sampai jangan salah filosofi. Chickenisasi bukan semata-mata mengalihkan perhatian anak dari gawai," ujarnya yang secara simbolis menyerahkan beberapa ekor anak ayam kepada siswa, Kamis (21/11).

Menurutnya, program pembagian anak ayam dihadirkan sebagai respons positif terhadap program pusat tentang revolusi mental. Tidak hanya itu, ke depan diharapkan anak-anak bisa memiliki jiwa wirausaha. "Sekarang (harga) Rp 7.000, tiga bulan dipelihara bisa naik harganya," katanya.

Ia mengatakan, program pembagian anak ayam merupakan ujicoba dan diharapkan evaluasi nanti akan melihat apakah program tersebut dilanjutkan atau tidak. Menurutnya, program tersebut menjadi kegiatan ekstrakurikuler.

"Kalau positif (program) akan diprogramkan tahun depan. Tahun ini dan tahun depan belum diprogramkan dalam APBD hanya pakai CSR," katanya.

Siswa dari SMP Negeri 54 Bandung menjadi sebagian anak-anak yang terpapar program pembagian anak ayam. Pembagian ayam juga akan masuk ke mata pelajaran. Misalnya di IPA, siswa akan diminta menghitung berat ayam setelah sebulan dipelihara lalu dibandingkan dengan ayam milik siswa lain.

Guru SMPN 54 Bandung, Elin Lindiawati, mengatakan pemeliharaan anak ayam itu juga masuk dalam penilaian. Seperti tulisan laporan tumbuh kembang ayam yang akan masuk dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Juga kreativitas pembuatan kandang ayam yang akan masuk dalam mata pelajaran Prakarya.

Setiap satu ekor anak ayam, menurutnya, akan dirawat oleh satu orang siswa. Nantinya, kata Elin, para siswa akan membentuk kelompok yang terdiri dari lima anggota untuk memutuskan satu kandang penyimpanan bagi seluruh ayam yang dirawat oleh seluruh anggota.

Kandang tersebut akan disimpan di rumah seorang anggota kelompok. Murid pun dipilih yang rumahnya berdekatan untuk masuk satu kelompok. "Satu ayam, satu anak tapi berkelompok dalam satu kelompok itu ada lima. Jadi anak itu rumahnya harus berdekatan," kata dia.

Salah seorang siswa SMP Negeri 54 Bandung, Rabil Khairul Akbar mengaku senang telah menerima seekor anak ayam tersebut. Anak ayam milik Khairul berwarna putih dan memiliki kandang sementara berwarna biru. "Alhamdulillah senang mendapat ayam, nanti akan dirawat sebaik-baiknya," kata Rabil.

Baca Juga

photo
Infografis anak kecanduan gawai.


Wali Kota Bandung Oded M Danial mengatakan merupakan bagian dari upaya revolusi mental dan pembangunan karakter. Namun, pembagian ribuan ekor anak ayam masih dalam tahap percobaan.

Pembagian ayam diharap mengurangi kebiasaan anak bermain gawai. ''Dengan kegiatan ekstra di rumah mengurangi mereka menggunakan gadget. Selain itu ada dimensi kewirausahaan," katanya.

Paparan terhadap hewan dan alam merupakan salah satu cara untuk memerangi dampak kecanduan teknologi terhadap anak-anak di zaman modern ini. Mulai dari telepon pintar, tablet, televisi, hingga gim video telah menjadi pemandangan umum yang berada di sekitar mereka.

Dilansir dari Children and Nature, sebuah penelitian menunjukkan bahwa budaya teknologi dan internet telah  mengubah fungsi saraf dalam hal konsentrasi, memori, dan pemrosesan pikiran. Paparan teknologi dalam batas tertentu sekalipun disebut cenderung membuat anak-anak mudah marah, ketika orang tua mematikannya.

Bukan berarti teknologi adalah sesuatu yang buruk. Alat-alat ini membantu banyak hal, namun menempatkan batasan yang sehat dan realistis dalam penggunaannya, terutama terhadap anak-anak menjadi tantangan yang semakin sulit dari hari ke hari.

Berita baiknya, seperti yang disebutkan di kalimat pertama, hewan dan alam berperan penting untuk mengurangi efek teknologi pada kehidupan anak-anak. Selama ini, hewan telah memainkan peran utama bagi mereka, tak hanya sebagai hewan peliharaan, tapi juga melalui berbagai buku cerita dan gambar.

Penelitian menunjukkan kehadiran hewan dapat menurunkan tekanan darah, memerangi kesepian dan isolasi sosial. Selain itu, mereka yang sering berinteraksi  dengan binatang mendapatkan efek berkurangnya rasa kecemasan dan mengurangi gejala depresi.

Di antara banyak manfaat, hewan dimasukkan ke dalam terapi dan penanganan dalam pengaturan terapeutik. Hewan bahkan dapat membantu hubungan di antara orang-orang, memodelkan hubungan yang sehat dan interaksi sosial, serta membangun aliansi terapeutik dan menciptakan ruang yang aman untuk introspeksi dan penyembuhan.

Menurut National Institutes of Health, pengobatan dari kecanduan teknologi yang efektif harus disesuaikan dengan individu. Termasuk di antaranya adalah mengintegrasikan berbagai intervensi berbasis bukti untuk menghentikan perilaku kecanduan dan memberikan dukungan tindak lanjut dalam pemulihan untuk mencegahnya datang kembali.

Membawa hewan dan lingkungan alam ke dalam kehidupan orang yang berjuang dengan kecanduan teknologi masuk akal dalam semua fase pemulihan. Mengganti perilaku kecanduan dengan waktu yang menyenangkan di alam dan dengan hewan adalah metode intervensi yang naturalistik dan non-farmasi.

Berada di luar rumah dan interaksi dengan sesama mahluk hidup lainnya adalah cara untuk menemukan diri sendiri yang lebih baik. Karena itu, cobalah biarkan diri Anda dan anak-anak untuk lebih menikmati berada di alam dan berinteraksi dengan hewan-hewan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA