Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Medali Emas Pelengkap dari Sepak Bola

Senin 09 Dec 2019 06:03 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Citra Listya Rini

Sejumlah pemain Timnas Indonesia usai pertandingan semifinal sepak bola SEA Games 2019 melawan Timnas Myanmar di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, Sabtu (7/12).

Sejumlah pemain Timnas Indonesia usai pertandingan semifinal sepak bola SEA Games 2019 melawan Timnas Myanmar di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, Sabtu (7/12).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Mental juara Indonesia diuji demi mengakhiri puasa emas sejak 1991.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA  —  Cabang olahraga (Cabor) sepak bola sejauh ini mencatatkan hasil gemilang di SEA Games 2019. Asa Garuda Muda meraih medali emas SEA Games selangkah lagi terealisasi jika mampu mengalahkan Vietnam di final. 

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto yang terlihat menyambangi Manila pada Sabtu (7/12) lalu mengaku tak meragukan kualitas tim nasional Indonesia U-22. Namun, faktor ketenangan dalam bermain, menurut dia, juga tak kalah pentingnya.

"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada cabor lain, terasa kurang indah kalau sepak bola tak dapat medali emas," kata pria asal Yogyakarta tersebut saat ditemui di Word Trade Center, Metro Manila, Ahad (8/12).

Laga final antara Indonesia melawan Vietnam akan berlangsung di Rizal Memorial Stadium, Manila, Selasa (10/12) malam. Kedua tim pernah bertemu di babak penyisihan, beberapa hari lalu. Saat itu Vietnam menang 2-1.

Gatot menilai skuat Garuda Muda hanya butuh ketenangan. Sebab, secara teknis, bisa mengalahkan tim mana pun di kompetisi ini. "Saya pikir (saat penyisihan) kita terlalu emosional. Kalau tidak terpancing, kita menang lah," ujarnya.

Secara keseluruhan, Gatot mengapresiasi perjuangan para atlet merah putih di Filipina. Tidak hanya di cabor sepak bola, melainkan juga cabor lainnya.

Kelolosan cabor sepak bola Indonesia ke final SEA Games 2019, masih hangat dibicarakan. Sebuah perjalanan panjang dan berat.

photo
Sejumlah pemain Timnas Indonesia usai pertandingan semi final sepak bola SEA Games 2019 melawan Timnas Myanmar di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, Sabtu (7/12).

Setelah lolos dari penyisihan grup sebagai runner up Grup B, pasukan Garuda menghadapi juara Grup A, Myanmar. Duel kedua tim pada babak empat besar berlangsung di Rizal Memorial Stadium, Sabtu (7/12) petang.

Sempat unggul 2-0 melalui gol Evan Dimas pada menit ke-58, dan Egy Maulana Vikri (71), skuat polesan Indra Sjafri kecolongan dalam 11 menit terakhir. Myanmar hanya butuh dua menit untuk menyamakan kedudukan.

Tepatnya melalui Aung Kuang Mann (79), dan Win Naing Tun (80). Beruntung pada perpanjangan waktu, Indonesia bisa menambah dua lagi, lewat Osvaldo Haay (101), dan Evan Dimas (114).

Indra menilai apa pun bisa terjadi dalam sepakbola. Dinamika ini, menurutnya menguntungkan Indonesia. "Mungkin Tuhan sudah mentakdirkan jalan medali emas tuh seperti ini. Mental juara kita kelihatan di sini. Dari 2-0 jadi 2-2, kalo tim gak solid, gapunya mental juara, itu enggak mungkin dia bangkit," kata juru taktik berusia 56 tahun ini.

Oleh karenanya Indra mengharapkan dukungan maksimal dari seluruh penjuru nusantara. Minimal mengirimkan doa demi keberhasilan timnya di final nanti.

Pada kesempatan serupa, Indra menyebut kualitas sepakbola di Asia Tenggara sudah berkembang pesat. Semua tim, menurutnya mengalami peningkatan kualitas. "Tentu ini sangat membanggakan, mudah-mudahan, banyak pemain bintang, lahir dari sini," ujarnya.

photo
Pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri.

Menjelang laga final, tim dokter akan melakukan berbagai cara untuk mengembalikan dan memulihkan tenaga para pemain tim nasional U-22 Indonesia yang akan berlaga di final SEA Games 2019. “Kami akan mencoba untuk mengembalikan tenaga mereka,” ujar dokter timnas U-22 Indonesia Syarif Alwi.

Menurut dokter yang biasa disapa Papi itu, beberapa metode untuk mengembalikan tenaga dan kebugaran Egy Maulana dan kawan-kawan adalah dengan terapi es, fisioterapi serta pijatan.

Selain itu, juga ada pemberian suplemen untuk mempercepat pemulihan fisik. “Setelah laga melawan Myanmar di semifinal, anak-anak memang terlihat sangat kelelahan,” kata Syarif.

Timnas U-22 Indonesia menjalani laga padat selama SEA Games 2019, sejak berlaga mulai 26 November 2019. Garuda Muda hampir selalu bertanding satu kali dalam dua hari hingga semifinal kontra Myanmar. Meski demikian, dari enam laga yang dilewati sampai babak empat besar, Indonesia mampu memenangi lima di antaranya dan hanya satu kali kalah.

Sebelum tahun 2019, terakhir kali Indonesia lolos ke final SEA Games pada tahun 2013, dimana kala itu Garuda Muda bertemu Thailand di babak pamungkas dan kalah 0-1. Indonesia belum pernah mencicipi medali emas sepak bola putra SEA Games sejak menggapainya pada 1991. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA