Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Cina Catat Penurunan Ekspor dan Pertumbuhan Impor

Senin 09 Dec 2019 03:27 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Friska Yolanda

Petugas memindahkan barang impor ke truk di pelabuhan bongkar muat di Qingdao, Provinsi Shandong, China, Senin (14/10). Ekspor China mengalami penurunan 1,1 persen, sementara impor naik 0,3 persen.

Petugas memindahkan barang impor ke truk di pelabuhan bongkar muat di Qingdao, Provinsi Shandong, China, Senin (14/10). Ekspor China mengalami penurunan 1,1 persen, sementara impor naik 0,3 persen.

Foto: Chinatopix via AP
Ekspor Cina turun 1,1 persen, tetapi impor meningkat 0,3 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Angka ekspor Cina pada November 2019 menunjukkan penurunan selama empat bulan berturut-turut. Perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat yang berlangsung selama 17 bulan memberikan tekanan kepada produsen di negeri tirai bambu tersebut.

Baca Juga

Data bea cukai pada Ahad (8/12) menunjukkan pengiriman ke luar negeri turun 1,1 persen pada periode sama dari tahun sebelumnya. Merosotnya angka lebih banyak dibandingkan dengan prediksi 1,0 persen dari para analis di jajak pendapat Reuters.

Sebaliknya, impor menunjukkan pertumbuhan yang mengisyaratkan perbaikan pada aspek permintaan. Impor Cina secara tidak terduga naik 0,3 persen dari tahun lalu. Hal ini menandai pertumbuhan tahun-ke-tahun pertama sejak April.

Data impor yang lebih baik berbanding terbalik dengan perkiraan penurunan 1,8 persen oleh para ekonom. Analis menduga penyebabnya adalah penguatan permintaan domestik setelah lonjakan aktivitas pabrik, meski banyak yang enyangsikan kenaikan akan bertahan.

Surplus perdagangan Cina per November 2019 mencapai 38,73 miliar dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan prediksi surplus 46,30 miliar dalam polling dan surplus 42,81 miliar dolar AS yang tercatat pada Oktober 2019.

Meski tekanan ekonomi meningkat, Cina enggan menerapkan stimulus besar karena khawatir meningkatkan risiko keuangan. Cina lebih memilih strategi pengurangan suku bunga tambahan dan memajukan waktu kuota obligasi khusus pemerintah daerah.

Hal itu mengingat Cina sudah memiliki utang yang tinggi. Gubernur People's Bank of China Yi Gang pekan lalu menegaskan bahwa Cina tidak akan melakukan pelonggaran kuantitatif. Pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan moneter yang bijaksana.

Saat ini, Cina dan AS sedang merundingkan kesepakatan perdagangan tahap pertama yang bertujuan mengurangi sengketa perdagangan. Akan tetapi, kedua belah pihak terus berselisih karena perincian yang mengaburkan prospek kesepakatan.

RUU DPR AS yang menargetkan kamp Cina untuk etnis minoritas Muslim di Xinjiang dan aksi AS mendukung pemrotes anti-pemerintah di Hong Kong membuat marah Cina. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa pembicaraan perdagangan dengan Cina 'bergerak maju'.

Penasihat ekonomi White House Larry Kudlow mengatakan pada Jumat bahwa AS memberikan tenggat waktu 15 Desember kepada Cina. Tenggat itu terkait putaran baru tarif AS pada sekitar 156 miliar sisa ekspor Cina ke negeri Paman Sam tersebut.

Dikutip dari laman Reuters, seorang pejabat Cina mengatakan bahwa pihaknya akan menerapkan tarif sendiri sebagai tindakan balasan jika AS memberlakukan tarif 15 Desember. Hal itu diyakini dapat melemahkan peluang kesepakatan perdagangan jangka pendek.

Trump telah menuntut agar Cina berkomitmen untuk pembelian minimum spesifik produk pertanian AS. Sementara, Cina mengonfirmasi pada Jumat bahwa mereka akan menghapuskan tarif impor untuk beberapa pengiriman kedelai dan babi dari AS.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA