Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Skor PISA dan Sebulan Jelang Masa Bonus Demografi Indonesia

Selasa 10 Dec 2019 02:47 WIB

Red: Andri Saubani

Andri Saubani

Andri Saubani

Skor asesmen siswa Indonesia berdasarkan PISA di bawah rata-rata negara di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Andri Saubani*

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) pada pekan lalu di Paris, Prancis, merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 di Paris, Perancis, Selasa (3/12). PISA adalah asesmen yang dilakukan oleh OECD terhadap kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa berumur 15 tahun, di 79 negara.

Siswa-siswi di Indonesia menjadi salah satu objek asesmen OECD. Hasilnya? Tidak jauh berbeda sejak Indonesia mengikuti program ini sejak 2001. Jika China kini melesat dan menggusur Singapura di puncak skor penilaian PISA, Indonesia masih betah berada di papan bawah.

Skor rata-rata kemampuan siswa Indonesia dalam membaca yakni 371, jauh dibawah rata-rata OECD yakni 487. Terungkap bahwa hanya 30 persen anak Indonesia (rata-rata OECD 77 persen) yang memiliki kemampuan membaca tingkat dua, yakni kemampuan membaca sekaligus dapat mengidentifikasi ide utama dalam teks dengan sedang hingga panjang, atau mampu mencari informasi berdasarkan kriteria eksplisit.

Kemudian, untuk skor rata-rata matematika siswa Indonesia yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua (rata-rata OECD yakni 76 persen). Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali tanpa adanya instruksi langsung dan mengetahui bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis. Siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas) hanya 1 persen, sedangkan rata-rata OECD sebanyak 11 persen.

Selanjutnya untuk sains, skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489. Hasil asesmen mengungkap fakta sekitar 40 persen siswa Indonesia mencapai level dua, bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 78 persen. Pada kemampuan tingkat dua, siswa dapat mengenali penjelasan yang benar untuk fenomena ilmiah yang dikenal dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengidentifikasi, dalam kasus-kasus sederhana.

Laporan OECD yang merupakan hasil asesmen pada 2018 itu juga menunjukkan, bahwa sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran. Dan pada saat bersamaan, sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

Angka-angka yang muncul dalam PISA 2018 sudah semestinya menjadi peringatan bagi kita. Terlebih dalam konteks Indonesia yang akan memasuki masa bonus demografi. Alih-alih menjadi bonus, penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) yang lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun), justru malah bisa menjadi bencana.

Bonus demografi adalah kesempatan langka yang bisa diraih suatu negara dalam kurun masa tertentu. Di Asia, tiga negara yakni Jepang, Korea Selatan, dan China telah sukses melalui masa bonus demografi mereka masing-masing. Penduduk usia produktif di tiga negara itu pada masa bonus demografinya, telah berhasil membantu mengantarkan negara mereka ‘naik kelas’ menjadi negara maju.

Indonesia pun perlu segera bersiap menyongsong masa bonus demografi ini, karena Badan Pusat Statistik memperkirakan, negara ini akan menikmati bonus demografi pada 2020 hingga 2035. Pada masa tersebut penduduk produktif diproyeksi berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 297 Juta Jiwa.

Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan  peningkatan kualitas, yang paling utamanya dari sisi pendidikan. Setelah itu baru soal  peningkatan keterampilan agar sumber daya manusia Indonesia siap menghadapi persaingan di pasar tenaga kerja.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sudah semestinya menjadikan hasil PISA 2018 menjadi salah satu referensinya dalam menetapkan kebijakan demi perbaikan dan pemerataan mutu pendidikan. Jebloknya skor PISA Indonesia dibandingkan negara-negara lain merupakan refleksi dari rendahnya tingkat literasi yang harus menjadi prioritas bagi Nadiem untuk dikoreksi.

Sebagai menteri dari kalangan muda yang diyakini memiliki pemikiran progresif, Nadiem harus bisa membuktikan dirinya mampu menelurkan gebrakan kebijakan yang visioner, yang berorientasi masa depan seperti kala dia masih memimpin Gojek. Masa depan juga kian berat menantang lantaran persaingan bukan hanya terjadi antarsesama manusia, tapi juga antara manusia dan robot (artificial intelligence).

Pada 2015, kala berpidato dalam suatu acara peringatan Hari Keluarga Nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah pernah berkata begini, "Bonus demografi ibarat pedang bemata dua. Satu sisi adalah berkah, jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Satu sisi lain adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik.”

Penulis adalah jurnalis Republika.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA