Minggu, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 Januari 2020

Minggu, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 Januari 2020

48 Negara Rumuskan Hukum untuk Masyarakat Marginal

Ahad 08 Des 2019 16:50 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Sebanyak 48 negara yang tergabung dalam Global Alliance For Justice Education (GAJE) berkumpul di Kota Bandung.

Sebanyak 48 negara yang tergabung dalam Global Alliance For Justice Education (GAJE) berkumpul di Kota Bandung.

Foto: Foto: Istimewa
Israel salah satu negara yang tidak bisa hadir karena ditolak imigrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebanyak 48 negara yang tergabung dalam Global Alliance For Justice Education (GAJE) berkumpul di Kota Bandung. Kedatangannya untuk membicarakan bagaimana metode dan merealisasikan pembelaan hukum serta produk hukum untuk masyarakat termaginalkan.

Tahun ini, tepatnya Fakultas Hukum Univeritas Pasundan (FH Unpas), Kota Bandung, menjadi tuan rumah pertemun bergengsi yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Kali ini, pertemuan diselenggarakan mulai 4 – 10 Desember 2019.

“Ternyata yang membuat kita kagum adalah di tengah masyarakat di negara yang disebutkan indovidualisnya tinggi seperti Amerika dan Eropa, justru pada pertemuan GAJE di Unpas tahun ini,  mengirimkan wakil negaranya yang terbanyak,” ujar Rektor Unpas, Prof. Dr. H. Eddy Jusuf, yang ditemui di sela Gala Dinner GAJE, Sabtu (8/12) malam.

Menurut Eddy, dari 52 negara yang menjadi anggota GAJE sebanyak 48 negara di antaranya hadir. Negara USA, menjadi negara dengan peserta terbanyak, selain Indonesia sebagai tuan rumah.

“Semoga apa yang dihasilkan dalam GAJE di Bandung tahun ini bisa membawa hasil dan dampak positif khususnya bagi masyarakat dan negara termaginalkan khususnya dalam penuntutan hak azasi dan kesadaran hukum," papar Eddy.

Eddy menjelaskan,  GAJE sendiri merupakan organisasi yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dunia. Yakni, dari mulai aktivis, pendidikan dan akademisi serta warga biasa.

Sementara menurut Dekan Fakultas Hukum Unpas, Dekan Fakultas Hukum (FH) UNPAS, Anthon Freddy Susanto, dari negara yang menjadi anggota GAJE tersebut hampir semuanya mengirimkan delegasinya.

“Hanya 4 yang tidak hadir dan salah satunya tidak bisa masuk ke Indonesia karena memang pihak Imigrasi menolak dan terpaksa kami pun menolaknya yakni dari Israel,” katanya.

Anton mengatakan, dalam GAJE ke 10 di Bandung ini lebih memfokus kedalam bagaimana pendidikan hak asasi dan hukum dalam penerapannya di dunia pendidikanya khususnya di kaum marginal. Jadi peserta mendatangi langsung bukan hanya mempresentasikan ide dan gagasan mereka dalam paper. 

"Namun kami mengajak bagaimana untuk terjun langsung kepada masyarakat kaum marginal seperti disabiltas atau ke lab hukum Unpas yang memang banyak menangani kasus – kasus hukum kaum marginal,” kata Anton.

Selain itu, kata dia, para peserta juga diajak untuk berkeliling melihat kondisi Bandung sekaligus memperkenalkan budaya Sunda di Kota Bandung dengan menggunakan Bandros yang disediakan Pemkot Bandung.

Menurut Anton, Gala dinner yang diselenggarakan Unpas dan Pemkot Bandung, bukan hanya jamuan makan malam. Namun juga memperkenalkan apa saja tradisi kuliner dan juga kebudayaan negara peserta GAJE dan tentunya kebudayaan masyarakat Pasundan.

Salah satunya, dia memperkenalkan angklung yang memang sangat diminati oleh orang luar negeri. Unpas pun, selalu mengenalkan ke luar negeri karena orang luar negeri cukup senang bermain angklung ini. 

"Apalagi banyak dari mereka yang memang baru datang ke Indonesia dan Bandung,” kata Anton.

Sementara itu peserta asal Slovakia, Maria Havelkova  mengikuti seminar ini sebagai delegasi untuk mengenal tentang hukum bagi kaum marginal, tentang masyarakat miskin dan isu global.

“Kami juga tergabung dalam klinik organisasi hukum dan NGO sehingga perlu untuk mendiskusikan program. Sebagai mahasiswi hukum saya juga ingin membangun kepedulian kepada kaum marginal, seperti tunawisma dan lainnya,” katanya.

Selain itu,  menurut Maria, kehadirannya di acara GAZE juga untuk mempresentasikan penelitiannya. Ia senang, bisa mengikuti konferensi ini di Indonesia. Serta, beberapa tahun sebelumnya juga, dia pernah mengunjungi Indonesia untuk berlibur.

"Saya sangat menyukai negara ini.  Saya telah mengunjungi Lombok, Flores dan Pulau Komodo. Saya berharap ke depannya selain mengikuti Gaze juga dapat mengeksplorasi negara Indonesia lebih jauh,” katanya. 

Adapun negara yang menghadiri acara ini meliputi Austria, Australia, Banglades,  Belarusia Bulgaria, Brazil,  Kamboja,  Kanada, Kolombia, Kroasia, Chez Republik, Mesir, Ethiopia,  Perancis, Ganbia, Jerman, India,  Indonesia, Iran, Irlandia,  Itali,  Malawi,  Malaysia,  Meksiko,  Modldova, Myanmar Nigeria,  Pakistan,  Afrika Selatan,  USA,  Inggris, Rusia Zimbabwe dan lainnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA